Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Medis

Lalat yang jatuh ke minuman (dampak penyakit & obat)

حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلاَلٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عُتْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَيْدُ بْنُ حُنَيْنٍ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِي شَرَابِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْمِسْهُ، ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ، فَإِنَّ فِي إِحْدَى جَنَاحَيْهِ دَاءً وَالأُخْرَى شِفَاءً ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Utbah bin Muslim, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ubaid bin Hunain, ia berkata: aku mendengar Abu Hurairah RA berkata; Nabi SAW bersabda:'Apabila seekor lalat hinggap (jatuh) ke dalam minuman salah seorang di antara kalian, maka celupkanlah seluruh tubuh lalat itu kemudian buanglah, karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya terdapat obat (penawar).' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan bidang mikrobiologi dan medis, khususnya mengenai konsep patogen dan antipatogen. Secara medis, lalat dikenal sebagai vektor yang membawa berbagai bakteri penyebab penyakit (seperti Salmonella atau E. coli) pada bagian luar tubuhnya, terutama kaki-kakinya. Namun, penelitian biologi modern menunjukkan bahwa lalat juga memiliki mekanisme pertahanan diri yang luar biasa untuk bertahan hidup di lingkungan yang kotor. Di permukaan tubuh dan sayap lalat, ditemukan adanya mikroorganisme simbion yang menghasilkan senyawa antimikroba atau antibiotik untuk melawan bakteri patogen tersebut. Fenomena ini menjelaskan mengapa Rasulullah memerintahkan untuk mencelupkan seluruh tubuh lalat; secara teknis, tindakan tersebut memungkinkan senyawa penawar atau antibiotik yang ada pada sisi lain tubuh/sayap lalat terlarut ke dalam cairan untuk menetralkan bakteri yang dibawa oleh kaki lalat saat pertama kali jatuh. Meskipun secara estetika atau selera personal seseorang mungkin enggan meminumnya, secara ilmiah prinsip "penawar di satu sisi dan penyakit di sisi lain" merupakan gambaran awal tentang keseimbangan ekosistem mikroskopis yang kini dipelajari dalam pengembangan antibiotik baru. Informasi Tambahan: Perlu dicatat bahwa secara fikih, jika seseorang merasa jijik dan tidak ingin meminum air tersebut, ia tidak berdosa jika membuangnya. Perintah dalam hadis ini lebih dipahami oleh para ulama sebagai bimbingan (irsyad) bahwa air tersebut tidak menjadi najis dan masih aman dikonsumsi jika prosedur tersebut dilakukan.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 3320)

Ilmu

Fondasi Sains dan Teknologi

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ الْهَمْدَانِيُّ - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Muhammad bin Al-Ala' Al-Hamdani —dan lafal ini milik Yahya— Yahya berkata: 'Telah mengabarkan kepada kami', sedangkan dua lainnya berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah $SAW$ bersabda:'Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka nasabnya (garis keturunannya) tidak akan bisa mempercepatnya.' (HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan kategori ilmu epistemologi (teori pengetahuan) dan pedagogi (seni mengajar/belajar) dalam Islam. Secara spesifik, hadis ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengumpulan informasi intelektual, melainkan sebuah proses yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Frasa "menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu" merujuk pada metodologi pencarian kebenaran yang membutuhkan usaha fisik dan mental, di mana efisiensi dalam mencapai "tujuan akhir" (surga) sangat bergantung pada niat dan proses tersebut. Selain itu, bagian hadis yang menyebutkan "membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya" menunjukkan kategori ilmu kolektif (kolaboratif), di mana pemahaman yang mendalam lahir dari diskusi kelompok (tadarusan) yang didukung oleh lingkungan yang kondusif (sakīnah). Terakhir, hadis ini menegaskan aksiologi ilmu (penerapan nilai), bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh integrasi antara ilmu dan amal nyata, bukan oleh status sosial atau nasab, sehingga ilmu dikategorikan sebagai instrumen penggerak perubahan perilaku, bukan sekadar status formal. Poin Penting Mengenai Ilmu dalam Hadis Ini: 1. Motivasi Belajar: Menuntut ilmu adalah jalan pintas menuju surga. 2. Metode Belajar: Pembelajaran terbaik dilakukan secara komunal (berjamaah) dan interaktif. 3. Dampak Psikologis: Belajar agama di tempat yang tepat membawa ketenangan jiwa (sakīnah). 4. Integritas: Ilmu harus berbuah amal; kecerdasan atau keturunan tidak berguna jika tidak disertai tindakan nyata.

Ṣaḥīḥ Muslim (hadits no. 2699)

Medis

Pengobatan dan Penemuan Ilmiah

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ، قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ دَاءً إِلاَّ أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Umar bin Sa'id bin Abi Husain, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Atha' bin Abi Rabah, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda:'Tidaklah Allah menurunkan suatu penyakit, melainkan Dia juga menurunkan obatnya.' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan fondasi teologis dan motivasi fundamental bagi dunia kedokteran dan farmakologi. Secara medis, pernyataan Nabi SAW ini mengandung prinsip optimisme ilmiah bahwa setiap patologi (penyakit) bersifat terbatas dan memiliki penawar yang dapat ditemukan melalui riset dan observasi. Hadis ini mendorong para ilmuwan untuk terus melakukan eksplorasi di bidang bio-medis, pencarian senyawa aktif dalam obat-obatan, serta pengembangan teknologi terapi baru, karena adanya jaminan bahwa "obat" tersebut eksis di alam semesta. Dalam konteks kesehatan masyarakat, hadis ini juga menghilangkan stigma keputusasaan terhadap penyakit yang dianggap tidak penyembuhannya (seperti pada masa lalu sebelum ditemukannya antibiotik atau vaksin), dan mengubah paradigma pengobatan menjadi sebuah proses pencarian sistematis terhadap harmoni antara penyakit dan penawarnya yang telah disediakan oleh alam atas kehendak Pencipta. Analisis Tambahan: 1. Aspek Psikologis: Memberikan ketenangan jiwa bagi pasien bahwa kesembuhan adalah hal yang mungkin secara saintifik dan takdir. 2. Dorongan Riset: Dalam riwayat lain disebutkan, "Kecuali orang yang mengetahuinya dan orang yang tidak mengetahuinya," yang artinya obat tersebut ada namun memerlukan kerja keras intelektual (penelitian) untuk menemukannya. 3. Universalitas: Mencakup penyakit fisik maupun mental, yang semuanya memiliki mekanisme penyembuhan masing-masing.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 5678)

Biologi

Tahapan Penciptaan Manusia (Embriologi)

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الرَّبِيعِ، حَدَّثَنَا أَبُو الأَحْوَصِ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، قَالَ عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ قَالَ ‏ "‏ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا، ثُمَّ يَكُونُ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَكُونُ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ، ثُمَّ يَبْعَثُ اللَّهُ مَلَكًا، فَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ، وَيُقَالُ لَهُ اكْتُبْ عَمَلَهُ وَرِزْقَهُ وَأَجَلَهُ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ‏.‏ ثُمَّ يُنْفَخُ فِيهِ الرُّوحُ، فَإِنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ لَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ كِتَابُهُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ، وَيَعْمَلُ حَتَّى مَا يَكُونُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارِ إِلاَّ ذِرَاعٌ، فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ، فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Ar-Rabi', telah menceritakan kepada kami Abu Al-Ahwash, dari Al-A'masy, dari Zaid bin Wahb, ia berkata: Abdullah (bin Mas'ud) berkata: Rasulullah SAW menceritakan kepada kami —dan beliau adalah orang yang jujur lagi dibenarkan perkataannya— beliau bersabda:'Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah/sesuatu yang menempel) dalam waktu yang sama, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) dalam waktu yang sama pula. Kemudian Allah mengutus seorang malaikat yang diperintahkan untuk menetapkan empat perkara; dikatakan kepadanya: Tulislah amalnya, rezekinya, ajalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia. Kemudian ditiupkan ruh ke dalamnya. Maka sesungguhnya ada seseorang di antara kalian yang beramal hingga jarak antara dirinya dengan surga tinggal satu hasta, namun ketetapan (takdir) mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalan penghuni neraka (di akhir hayatnya). Dan ada seseorang yang beramal hingga jarak antara dirinya dengan neraka tinggal satu hasta, namun ketetapan mendahuluinya, sehingga ia melakukan amalan penghuni surga.' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan ilmu embriologi, yaitu cabang biologi yang mempelajari perkembangan embrio dari pembuahan hingga kelahiran. Secara sains, hadis ini memberikan deskripsi bertahap mengenai fase-fase awal kehidupan manusia di dalam rahim yang selaras dengan pengamatan mikroskopis modern. Fase pertama (40 hari pertama) dapat dikorelasikan dengan tahap zigot hingga pembentukan blastokista, di mana materi genetik "dikumpulkan" dan pembelahan sel terjadi secara masif. Istilah 'alaqah secara harfiah berarti sesuatu yang menempel atau menghisap, yang secara akurat menggambarkan proses implantasi embrio pada dinding rahim layaknya lintah yang mendapatkan nutrisi. Tahap selanjutnya, mudghah atau "segumpal daging yang seperti bekas kunyahan," secara visual sangat mirip dengan fase somit pada embrio, di mana struktur dasar tubuh mulai beruas-ruas menyerupai bekas gigitan. Penjelasan bertahap ini menunjukkan bahwa teks suci telah mengidentifikasi transformasi morfologis janin jauh sebelum teknologi ultrasonografi (USG) ditemukan, memberikan landasan tentang kapan kehidupan biologis (sel) mulai bertransformasi menjadi kehidupan yang memiliki dimensi spiritual (peniupan ruh). Poin Penting Analisis Medis & Spiritual: 1. Kronologi Waktu: Pembagian fase dalam kelipatan 40 hari memberikan kerangka waktu klinis bagi perkembangan organogenesis dasar. 2. Terminologi Akurat: Penggunaan kata 'alaqah dan mudghah diakui oleh banyak ilmuwan embriologi (seperti Keith L. Moore) sebagai deskripsi yang sangat akurat untuk bentuk fisik embrio pada masa awal. 3. Determinasi Biopsikososial: Penulisan rezeki, ajal, dan nasib saat janin berkembang menunjukkan bahwa potensi dasar manusia sudah terbentuk sejak dalam kandungan (interaksi antara genetik dan lingkungan).

Sahih al-Bukhari 3208

Medis

Kebersihan dan Pencegahan Penyakit

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ، حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلاَلٍ، حَدَّثَنَا أَبَانٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، أَنَّ زَيْدًا، حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا سَلاَّمٍ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الأَشْعَرِيِّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ ‏.‏ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ - أَوْ تَمْلأُ - مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Manshur, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Aban, telah menceritakan kepada kami Yahya, bahwa Zaid menceritakan kepadanya bahwa Abu Sallam menceritakan kepadanya dari Abu Malik Al-Asy'ari, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: 'Bersuci (kebersihan) adalah separuh dari keimanan. Ucapan Alhamdulillah (segala puji bagi Allah) memenuhi timbangan. Ucapan Subhanallah (Maha Suci Allah) dan Alhamdulillah keduanya memenuhi —atau salah satunya memenuhi— apa yang ada di antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya (nur), sedekah adalah bukti (burhan), sabar adalah sinar (dhiya'), dan Al-Qur'an adalah pembela bagimu atau bumerang bagimu. Setiap manusia bekerja pada pagi hari; ada yang menjual dirinya lalu memerdekakannya, dan ada pula yang mencelakakannya.' (HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini sangat kaya akan konsep preventif kesehatan dan fisika optik. Secara medis, pernyataan "Bersuci adalah separuh iman" merupakan fondasi dari ilmu higiene dan sanitasi. Dalam dunia kesehatan, menjaga kebersihan diri (seperti wudhu dan mandi) adalah cara paling efektif untuk memutus rantai penularan kuman, bakteri, dan virus (patogen), sehingga kebersihan dipandang sebagai bagian integral dari keberlangsungan hidup dan integritas iman. Selain itu, dari sisi fisika optik, hadis ini menggunakan dua istilah berbeda untuk cahaya, yaitu nur (cahaya secara umum/pantulan) untuk shalat dan dhiya' (sinar yang memancar dan mengandung panas) untuk sabar. Dalam fisika, perbedaan ini menarik karena sabar diibaratkan seperti dhiya' (sinar matahari) yang memiliki energi panas dan intensitas tinggi, menggambarkan proses perjuangan jiwa yang berat namun memberi kekuatan. Sementara shalat disebut nur (seperti cahaya bulan) yang bersifat menyejukkan dan memberikan petunjuk arah di kegelapan. Penggunaan metafora optik ini menunjukkan kedalaman literasi sains dalam wahyu untuk menggambarkan pengaruh psikologis dan spiritual dari suatu perbuatan terhadap jiwa manusia. Analisis Utama: Higiene Publik: Penempatan kebersihan sebagai "separuh iman" mendahului kesadaran dunia medis modern tentang pentingnya sterilisasi. Termodinamika Spiritual: Kata "memenuhi langit dan bumi" menggambarkan besarnya energi dari getaran kata-kata positif (dzikir) yang secara teologis setara dengan massa besar di alam semesta. Fisika Cahaya: Pembedaan antara nur (cahaya tenang/refleksi) dan dhiya' (sinar radiasi/sumber cahaya) memberikan analogi fungsional bagi kondisi mental manusia.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 223)

Medis

Jinten Hitam (Pengobatan Alami)

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ، وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ، سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءٌ مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ ‏"‏‏.‏ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَالسَّامُ الْمَوْتُ، وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ الشُّونِيزُ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari 'Uqail, dari Ibnu Syihab, ia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah dan Sa'id bin Al-Musayyab, bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada keduanya bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Pada jintan hitam (Habbatussauda) terdapat obat dari segala penyakit, kecuali as-saam.' Ibnu Syihab berkata: 'As-Saam adalah kematian, dan Habbatussauda adalah asy-syuuniz (jintan hitam).'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan ilmu farmakognosi (ilmu obat-obatan dari bahan alam) dan imunologi. Secara medis, penggunaan frasa "obat dari segala penyakit" dalam hadis ini dipahami oleh para peneliti sebagai indikasi adanya senyawa aktif yang bekerja pada sistem kekebalan tubuh (imunomodulator). Nigella sativa atau jintan hitam mengandung senyawa kunci bernama Thymoquinone yang memiliki spektrum aktivitas biologis sangat luas, mencakup sifat anti-inflamasi, antioksidan, antibakteri, antivirus, hingga antikanker. Dalam pandangan medis modern, sistem imun adalah benteng utama manusia melawan hampir semua jenis gangguan kesehatan; ketika suatu zat mampu memperbaiki atau memperkuat sistem imun secara sistemik, maka secara tidak langsung zat tersebut membantu tubuh melawan berbagai jenis penyakit. Namun, hadis ini juga memberikan batasan ilmiah yang jujur dengan mengecualikan "kematian" (as-saam), yang menunjukkan bahwa penuaan seluler dan proses degeneratif akhir adalah sunnatullah yang tidak dapat dihindari oleh intervensi medis apa pun. Analisis Utama: Imunomodulator: Kemampuan jintan hitam meningkatkan aktivitas sel pembunuh alami (Natural Killer cells) yang relevan untuk menghadapi berbagai patogen. Thymoquinone (TQ): Senyawa utama yang dalam banyak jurnal ilmiah terbukti mampu meregulasi berbagai jalur pensinyalan sel yang rusak. Batas Medis: Penyebutan kematian sebagai pengecualian menunjukkan adanya pengakuan terhadap keterbatasan biologis manusia dalam melawan waktu dan penuaan.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 5688)