Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Medis

Habbatussauda sebagai Sumber Terapi Alami

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحِ بْنِ الْمُهَاجِرِ، أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنْ عُقَيْلٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، وَسَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ، أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ، أَخْبَرَهُمَا أَنَّهُ، سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِنَّ فِي الْحَبَّةِ السَّوْدَاءِ شِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ إِلاَّ السَّامَ ‏"‏ ‏.‏ وَالسَّامُ الْمَوْتُ ‏.‏ وَالْحَبَّةُ السَّوْدَاءُ الشُّونِيزُ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Al-Muhajir, telah mengabarkan kepada kami Al-Laits, dari 'Uqail, dari Ibnu Syihab, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman dan Sa'id bin Al-Musayyab, bahwa Abu Hurairah mengabarkan kepada keduanya bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:'Sesungguhnya pada jintan hitam (Habbatussauda) terdapat obat dari segala penyakit, kecuali as-saam.' Dan as-saam adalah kematian, sedangkan habbatussauda adalah asy-syuuniz (jintan hitam). (HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan cabang ilmu farmakognosi (ilmu obat-obatan dari bahan alam) dan imunologi. Secara medis, pernyataan bahwa jintan hitam dapat mengobati "segala penyakit" sering diinterpretasikan oleh para ilmuwan sebagai kemampuan zat tersebut dalam memperkuat sistem imun (kekebalan tubuh) manusia secara menyeluruh. Di dalam biji habbatussauda (Nigella sativa), terdapat senyawa aktif utama bernama Thymoquinone yang memiliki sifat antioksidan, anti-inflamasi, dan sitoprotektif. Secara biologis, ketika sistem imun seseorang berada dalam kondisi optimal, tubuh memiliki kemampuan alami untuk melawan berbagai jenis patogen (bakteri, virus, jamur) dan memperbaiki kerusakan seluler. Penelitian modern menunjukkan bahwa habbatussauda membantu menyeimbangkan fungsi sel T dan sel pembunuh alami (Natural Killer cells), yang merupakan garda terdepan pertahanan tubuh. Pengecualian terhadap "kematian" dalam hadis ini juga menunjukkan kejujuran ilmiah bahwa setiap organisme memiliki batas biologis (penuaan seluler) yang tidak dapat dihindari oleh intervensi medis manapun, mempertegas batas antara pengobatan fungsional dan takdir biologis manusia. Poin Utama Analisis: Multifungsi Senyawa Aktif: Thymoquinone bekerja pada berbagai jalur pensinyalan sel, sehingga efektif terhadap berbagai spektrum penyakit. Penguat Benteng Tubuh: Efek utamanya bukan menyerang satu kuman spesifik, melainkan memperkuat sistem pertahanan tubuh secara umum (holistik). Batas Maksimal Medis: Penegasan bahwa kematian adalah akhir dari proses biologis yang tidak memiliki obat.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2215)

Medis

Karantina dan Pencegahan Penyebaran Wabah

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ، الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أَهْلُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ ادْعُ لِيَ الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لأَمْرٍ وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِيَ الأَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيلَ الْمُهَاجِرِينَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلاَفِهِمْ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلاَ تُقْدِمْهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ إِنِّي مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ ‏.‏ فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ فَقَالَ عُمَرُ لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ - وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ - نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عِدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ثُمَّ انْصَرَفَ ‏.

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, ia berkata: Aku membacakan kepada Malik, dari Ibnu Syihab, dari Abdul Hamid bin Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab, dari Abdullah bin Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Abdullah bin Abbas: Bahwasanya Umar bin Al-Khattab berangkat menuju Syam. Ketika sampai di Sargh, ia bertemu dengan para pemimpin pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan para sahabatnya. Mereka mengabarkan kepadanya bahwa wabah penyakit (tha’un) sedang melanda wilayah Syam. Ibnu Abbas berkata: Umar berkata kepadaku, “Panggillah kaum Muhajirin yang pertama.” Aku pun memanggil mereka. Umar kemudian bermusyawarah dengan mereka dan mengabarkan bahwa wabah tengah melanda Syam. Mereka pun berbeda pendapat; sebagian berkata, “Engkau telah berangkat untuk suatu urusan, kami berpendapat engkau tidak perlu kembali.” Sebagian yang lain berkata, “Bersamamu ada sisa manusia dan para sahabat Rasulullah SAW. Kami tidak setuju jika engkau membawa mereka menghadapi wabah ini.” Umar berkata, “Pergilah kalian dariku.” Kemudian ia berkata, “Panggillah kaum Anshar.” Aku memanggil mereka, lalu Umar bermusyawarah dengan mereka. Pendapat mereka pun terbagi sebagaimana pendapat kaum Muhajirin sebelumnya. Umar berkata, “Pergilah kalian dariku.” Lalu ia berkata, “Panggillah para tetua Quraisy yang ikut dalam penaklukan Makkah (Fathu Makkah).” Aku pun memanggil mereka, dan tidak ada dua orang pun yang berselisih pendapat. Mereka berkata, “Kami berpendapat engkau harus kembali bersama orang-orang dan jangan membawa mereka menghadapi wabah ini.” Maka Umar menyeru kepada orang-orang, “Besok pagi aku akan berada di atas punggung kendaraan (untuk kembali), maka bersiaplah kalian.” Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bertanya, “Apakah engkau lari dari takdir Allah?” Umar menjawab, “Seandainya orang lain yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah!” —dan Umar tidak suka berselisih dengannya— “Benar, kita lari dari satu takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta yang turun ke sebuah lembah yang memiliki dua sisi: yang satu subur dan yang lain tandus? Bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat yang subur, engkau melakukannya dengan takdir Allah? Dan jika engkau menggembalakannya di tempat yang tandus, engkau juga melakukannya dengan takdir Allah?” Kemudian datanglah Abdurrahman bin Auf, yang sebelumnya tidak hadir karena suatu keperluan. Ia berkata, “Sesungguhnya aku memiliki ilmu tentang hal ini. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Apabila kalian mendengar wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan apabila wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya.’” Maka Umar bin Al-Khattab pun memuji Allah, kemudian kembali pulang. (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Riwayat ini sangat berkaitan erat dengan manajemen krisis kesehatan (Public Health Policy) dan logika medis dalam menghadapi epidemi. Secara medis, tindakan Umar bin Al-Khattab adalah contoh penerapan mitigasi risiko berbasis data dan konsensus. Keputusan untuk kembali (tidak memasuki wilayah wabah) adalah langkah preventif untuk menjaga populasi yang sehat agar tidak terpapar agen infeksius, sebuah prinsip utama dalam epidemiologi modern untuk mencegah lonjakan kasus. Selain itu, argumen Umar mengenai "lari dari satu takdir ke takdir lain" menunjukkan pemahaman logis tentang hukum sebab-akibat (kausalitas) dalam sains. Dalam medis, takdir tidak dipahami sebagai kepasrahan buta, melainkan sebagai pemilihan intervensi yang paling memungkinkan untuk menyelamatkan nyawa. Analogi lembah subur dan tandus menggambarkan bahwa manusia memiliki pilihan medis yang secara ilmiah teruji (seperti menghindari sumber infeksi) untuk mendapatkan hasil kesehatan yang lebih baik. Riwayat ini membuktikan bahwa Islam mengintegrasikan keyakinan spiritual dengan tindakan medis yang rasional dan terukur dalam menghadapi ancaman biologis berskala besar. Poin Penting Analisis: Pengambilan Keputusan Berbasis Konsensus: Melibatkan berbagai ahli (dalam hal ini para sahabat senior) untuk menilai risiko kesehatan. Prinsip Pencegahan (Prevention over Cure): Menghindari paparan jauh lebih efektif secara epidemiologis daripada mengobati setelah terinfeksi. Logika Sains-Teologis: Memahami bahwa upaya medis (seperti menjaga jarak dan karantina) adalah bagian dari menjalankan sistem alam (sunnatullah) yang diciptakan Tuhan.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2219)

Medis

Analisis Bio-Medis terhadap Terapi Bekam

حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ، وَأَبُو الطَّاهِرِ، قَالاَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، أَنَّ بُكَيْرًا، حَدَّثَهُ أَنَّ عَاصِمَ بْنَ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَادَ الْمُقَنَّعَ ثُمَّ قَالَ لاَ أَبْرَحُ حَتَّى تَحْتَجِمَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِنَّ فِيهِ شِفَاءً ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Harun bin Ma'ruf dan Abu Ath-Thahir, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb, telah mengabarkan kepadaku 'Amru, bahwa Bukair menceritakan kepadanya bahwa 'Ashim bin Umar bin Qatadah menceritakan kepadanya bahwa Jabir bin Abdullah menjenguk Al-Muqanna' (yang sedang sakit), kemudian ia berkata:'Aku tidak akan pergi hingga engkau berbekam, karena sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya di dalam (bekam) itu terdapat kesembuhan".' (HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan teknik terapi regulasi dan mikrosirkulasi dalam dunia medis. Jabir bin Abdullah menunjukkan urgensi klinis dari bekam (hijamah) sebagai bentuk intervensi pengobatan yang konkret. Secara medis, bekam bekerja melalui mekanisme fenomena dekompresi. Ketika mangkuk bekam diletakkan di atas permukaan kulit dan udara di dalamnya dikosongkan (divakum), terjadi tekanan negatif yang menarik jaringan lunak dan merangsang pembuluh darah kapiler. Proses ini memiliki beberapa dampak biologis yang signifikan: Detoksifikasi Jaringan: Penarikan darah atau cairan interstisial membantu mengeluarkan sisa-sisa metabolisme seluler, sel darah merah yang telah rusak, serta mediator inflamasi dari jaringan otot ke permukaan. Peningkatan Sirkulasi: Tekanan negatif menyebabkan vasodilatasi (pelebaran pembuluh darah), yang meningkatkan suplai oksigen dan nutrisi ke area yang mengalami peradangan atau kekakuan. Efek Imunomodulator: Perlukaan kecil pada kulit (pada bekam basah) memicu respon penyembuhan luka yang mengaktifkan sel-sel imun untuk bekerja lebih efektif di area tersebut.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2205)

Medis

Aturan Sepertiga untuk Kesehatan Perut

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَتْنِي أُمِّي، عَنْ أُمِّهَا، أَنَّهَا سَمِعَتِ الْمِقْدَامَ بْنَ مَعْدِيكَرِبَ، يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ يَقُولُ ‏ "‏ مَا مَلأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ حَسْبُ الآدَمِيِّ لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ غَلَبَتِ الآدَمِيَّ نَفْسُهُ فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Abdul Malik Al-Himshi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Harb, telah menceritakan kepadaku ibuku, dari ibunya, bahwasanya ia mendengar Al-Miqdam bin Ma'dikarib RA berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidak ada wadah yang diisi oleh manusia yang lebih buruk daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap makanan untuk menegakkan tulang punggungnya. Namun jika ia harus melebihkannya, maka hendaknya sepertiga (perutnya) diisi untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk napasnya.'" (HR. Ibnu Majah & Tirmidzi)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan fondasi kedokteran pencegahan (preventive medicine) yang mengatur volume asupan untuk menjaga fungsi organ tetap optimal. 1. Anatomi dan Volume Lambung Lambung manusia (Gaster) adalah organ muskular yang elastis. Secara medis, kapasitas lambung kosong sekitar 50 ml, namun dapat meregang hingga 1–1,5 liter saat makan. - Risiko Overdistension: Mengisi perut hingga benar-benar penuh (melebihi kapasitas sepertiga makanan) menyebabkan peregangan dinding lambung yang berlebihan. Hal ini dapat memicu penyakit GERD (Gastroesophageal Reflux Disease), di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan karena tekanan internal yang terlalu tinggi. 2. Mekanisme Pernapasan dan Ruang Diafragma Instruksi "sepertiga untuk napas" memiliki penjelasan anatomis yang sangat logis: - Ekspansi Paru-paru: Lambung terletak tepat di bawah otot Diafragma. Jika lambung terlalu penuh dengan makanan dan cairan, ia akan menekan diafragma ke atas. Akibatnya, paru-paru tidak memiliki ruang yang cukup untuk mengembang secara maksimal saat menarik napas. - Efek Sesak: Inilah alasan medis mengapa seseorang merasa sesak napas atau megap-megap setelah makan terlalu banyak. 3. Sinyal Hormon dan Rasa Kenyang Kalimat "beberapa suap untuk menegakkan tulang punggung" berkaitan dengan kebutuhan energi sebenarnya versus nafsu makan. - Leptin vs Ghrelin: Butuh waktu sekitar 20 menit bagi otak untuk menerima sinyal kenyang dari hormon Leptin. Dengan makan secukupnya (sepertiga bagian), kita memberi waktu bagi sistem hormon untuk bekerja sebelum kita terlanjur makan berlebihan (overeating). 4. Efisiensi Enzimatis Proses pencernaan kimiawi membutuhkan ruang untuk "pengadukan" (churning). Jika lambung penuh sesak, enzim pencernaan tidak dapat bercampur secara merata dengan makanan. Ruang "sepertiga minuman" memastikan hidrasi yang cukup untuk proses hidrolisis makanan, sementara ruang kosong memungkinkan udara/gas bergerak tanpa menyebabkan kembung.

Sunan Ibnu Mājah (Hadits no. 3349)

Medis

Aturan Kebersihan Tangan untuk Mencegah Penyakit

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، عَنْ يَحْيَى، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي قَتَادَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِذَا شَرِبَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَنَفَّسْ فِي الإِنَاءِ، وَإِذَا بَالَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَمْسَحْ ذَكَرَهُ بِيَمِينِهِ، وَإِذَا تَمَسَّحَ أَحَدُكُمْ فَلاَ يَتَمَسَّحْ بِيَمِينِهِ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Yahya, dari 'Abdullah bin Abi Qatadah, dari ayahnya (Abu Qatadah RA), ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apabila salah seorang di antara kalian minum, janganlah ia bernapas di dalam wadah (gelas). Dan apabila salah seorang di antara kalian buang air kecil, janganlah ia menyentuh kemaluannya dengan tangan kanan. Dan apabila ia bersuci (cebok), janganlah ia bersuci dengan tangan kanan.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan panduan kesehatan masyarakat (public health) yang sangat mendasar untuk mencegah penyebaran patogen. 1. Larangan Bernapas di Dalam Wadah (Mikrobiologi) Secara medis, mulut dan saluran pernapasan manusia mengandung berbagai mikroorganisme (flora normal), termasuk bakteri dan virus. - Kontaminasi Aerosol: Saat seseorang bernapas di dalam gelas, uap air dan partikel aerosol dari paru-paru serta mulut akan masuk ke dalam air. Jika orang tersebut sedang membawa bibit penyakit (misalnya virus flu atau bakteri Streptococcus), air tersebut akan menjadi media penularan bagi orang lain yang minum dari wadah yang sama. - Reaksi Kimia: Secara kimia, embusan napas mengandung karbon dioksida (CO2). Jika CO2 bereaksi dengan air (H2O), ia dapat membentuk asam karbonat (H2CO3) yang secara teoritis dapat mengubah sedikit tingkat keasaman (pH) air, meskipun dalam jumlah kecil. 2. Pengkhususan Tangan Kanan dan Kiri (Fisika Higienitas) Prinsip pemisahan fungsi tangan adalah metode paling efektif dalam Manajemen Sanitasi pribadi: - Pemisahan Jalur Bakteri: Dengan menetapkan tangan kiri khusus untuk urusan sanitasi (buang air dan bersuci) dan tangan kanan untuk makan/minum, manusia menciptakan "penghalang fisik" terhadap penularan kuman melalui jalur fekal-oral (dari kotoran ke mulut). - Efektivitas Cuci Tangan: Secara psikologis dan praktis, lebih mudah menjaga kebersihan satu tangan "dominan" (kanan) tetap steril untuk konsumsi, sementara tangan kiri difokuskan untuk tugas-tugas pembersihan yang mengandung banyak kuman (seperti bakteri E. coli). 3. Perlindungan Kulit dan Saluran Kemih Larangan menyentuh organ sensitif dengan tangan yang mungkin digunakan untuk berbagai aktivitas berat (tangan kanan biasanya lebih banyak terpapar benda luar) membantu mengurangi risiko infeksi saluran kemih atau iritasi akibat perpindahan kotoran dari benda asing ke membran mukosa yang sensitif.

Sahih al-Bukhari No. 5630

Medis

Rahasia Posisi Tidur untuk Kesehatan Jantung

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، - وَاللَّفْظُ لِعُثْمَانَ - قَالَ إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ، عُثْمَانُ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ، حَدَّثَنِي الْبَرَاءُ بْنُ عَازِبٍ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ فَتَوَضَّأْ وُضُوءَكَ لِلصَّلاَةِ ثُمَّ اضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ ثُمَّ قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْلَمْتُ وَجْهِي إِلَيْكَ وَفَوَّضْتُ أَمْرِي إِلَيْكَ وَأَلْجَأْتُ ظَهْرِي إِلَيْكَ رَغْبَةً وَرَهْبَةً إِلَيْكَ لاَ مَلْجَأَ وَلاَ مَنْجَا مِنْكَ إِلاَّ إِلَيْكَ آمَنْتُ بِكِتَابِكَ الَّذِي أَنْزَلْتَ وَبِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ وَاجْعَلْهُنَّ مِنْ آخِرِ كَلاَمِكَ فَإِنْ مُتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ مُتَّ وَأَنْتَ عَلَى الْفِطْرَةِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَرَدَّدْتُهُنَّ لأَسْتَذْكِرَهُنَّ فَقُلْتُ آمَنْتُ بِرَسُولِكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ قَالَ ‏"‏ قُلْ آمَنْتُ بِنَبِيِّكَ الَّذِي أَرْسَلْتَ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim—lafaz ini milik 'Utsman—Ishaq berkata 'mengabarkan kepada kami' dan 'Utsman berkata 'menceritakan kepada kami' Jarir, dari Manshur, dari Sa'id bin 'Ubaidah, telah menceritakan kepadaku Al-Bara bin 'Azib RA, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: 'Apabila engkau hendak mendatangi tempat tidurmu, maka berwudulah sebagaimana wudumu untuk shalat. Kemudian berbaringlah di atas sisi kanan tubuhmu, lalu ucapkanlah: "Ya Allah, aku berserah diri kepada-Mu, aku serahkan urusanku kepada-Mu, dan aku sandarkan punggungku kepada-Mu, karena mengharap dan takut kepada-Mu. Tidak ada tempat berlindung dan menyelamatkan diri dari-Mu kecuali kepada-Mu. Aku beriman kepada kitab-Mu yang Engkau turunkan dan kepada Nabi-Mu yang Engkau utus." Dan jadikanlah doa itu sebagai akhir dari ucapanmu. Jika engkau mati pada malam itu, maka engkau mati di atas fitrah.' Al-Bara berkata: Aku mengulanginya agar aku dapat menghafalnya, lalu aku ucapkan: 'Aku beriman kepada Rasul-Mu yang Engkau utus.' Beliau bersabda: 'Katakanlah: Aku beriman kepada Nabi-Mu yang Engkau utus.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Instruksi Nabi ﷺ dalam hadis ini memiliki manfaat medis yang sangat spesifik bagi kesehatan organ dalam dan kualitas istirahat. 1. Posisi Miring ke Kanan (Right Lateral Position) Secara anatomi dan fisiologi, posisi ini memberikan keuntungan besar bagi jantung dan lambung: - Perlindungan Jantung: Jantung manusia berada sedikit ke arah kiri. Dengan berbaring di sisi kanan, jantung tidak tertindih oleh paru-paru kiri yang besar atau organ lainnya. Ini membantu menjaga aliran darah (curah jantung) tetap stabil dan efisien selama tidur. - Pencernaan dan Pengosongan Lambung: Secara anatomi, lambung memiliki bentuk melengkung ke kiri. Posisi miring ke kanan memudahkan sisa makanan di lambung mengalir secara gravitasi menuju usus dua belas jari (Duodenum), sehingga mencegah refluks asam lambung dan memperlancar pencernaan saat tidur. - Stabilitas Hati (Liver): Hati, organ terbesar di perut, berada di sisi kanan. Posisi ini memastikan hati tetap stabil dan tidak menggantung serta menekan organ yang lebih ringan. 2. Efek Psikologis dan Neurologis (Ketenangan Mental) Doa yang diajarkan berfungsi sebagai Afirmasi Positif dan teknik relaksasi sebelum tidur. - Manajemen Kortisol: Menyerahkan segala urusan kepada Tuhan melalui doa dapat menurunkan kadar hormon stres (kortisol). Kondisi mental yang tenang mempermudah otak memasuki fase tidur NREM (Non-Rapid Eye Movement) yang dalam, yang penting untuk pemulihan sel-sel saraf. - Neuroplastisitas: Menjadikan kata-kata baik sebagai ucapan terakhir membantu otak menyimpan memori positif sebelum proses "pembersihan" otak (Glymphatic system) berlangsung saat tidur. 3. Wudu dan Higienitas Tidur (Sleep Hygiene) Membasuh anggota tubuh dengan air dingin sebelum tidur memberikan efek termoregulasi. - Penurunan Suhu Tubuh: Air memicu penurunan suhu tubuh inti secara perlahan, yang merupakan sinyal biologis bagi otak untuk memproduksi melatonin (hormon tidur). Selain itu, wudu memastikan tubuh bersih dari kuman yang menempel selama beraktivitas seharian.

Sahih Muslim No. 2710