Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Alam

Etika dan Keberlanjutan Ekosistem

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، ح وَحَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ ‏"‏‏.‏ وَقَالَ لَنَا مُسْلِمٌ حَدَّثَنَا أَبَانُ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، حَدَّثَنَا أَنَسٌ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏.

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik $RA$, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, maupun hewan ternak, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan konsep ekosistem, ketahanan pangan, dan konservasi lingkungan. Secara ilmiah, aktivitas menanam yang dianjurkan dalam hadis ini merupakan fondasi dari keberlanjutan hidup di bumi. Siklus Rantai Makanan: Hadis ini menyebutkan tiga konsumen utama: burung, manusia, dan hewan. Secara ekologis, menanam pohon bukan hanya tentang produksi pangan bagi manusia, tetapi juga menyediakan habitat dan sumber energi bagi keanekaragaman hayati. Ini selaras dengan prinsip keseimbangan ekosistem di mana tumbuhan berperan sebagai produsen primer. Layanan Ekosistem (Ecosystem Services): Selain menghasilkan buah, pohon yang ditanam memberikan manfaat fisik berupa produksi oksigen (O2), penyerapan karbon dioksida (CO2), serta pencegahan erosi tanah. Dalam sains lingkungan, setiap pohon yang ditanam berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan: Penekanan pada menanam benih (planting) menunjukkan pentingnya investasi sumber daya alam jangka panjang. Sedekah dalam konteks ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sosiologis; yaitu memastikan ketersediaan energi bagi makhluk hidup lain secara berkelanjutan. Analisis Utama: Simbiosis Mutualisme: Manusia mendapatkan pahala (dan manfaat ekonomi), sementara lingkungan mendapatkan pemulihan kualitas udara dan tanah. Konservasi Hayati: Menyediakan sumber nutrisi bagi satwa liar (seperti burung) adalah langkah nyata dalam menjaga mata rantai kehidupan agar tidak terputus. Manajemen Sumber Daya: Transformasi lahan melalui penanaman benih adalah cara paling efektif untuk menjaga ketersediaan air tanah dan kestabilan iklim mikro.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 2320)

Alam

Konservasi Air dan Etika Konsumsi

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ حُيَىِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَعَافِرِيِّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ مَرَّ بِسَعْدٍ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَقَالَ ‏"‏ مَا هَذَا السَّرَفُ ‏"‏ ‏.‏ فَقَالَ أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ قَالَ ‏"‏ نَعَمْ وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya, telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah, dari Huyay bin Abdullah Al-Ma'afiri, dari Abu Abdurrahman Al-Hubuli, dari Abdullah bin 'Amru, bahwa Rasulullah SAW melewati Sa'ad yang sedang berwudhu, lalu beliau bersabda: 'Pemborosan apa ini?' Sa'ad bertanya, 'Apakah dalam urusan wudhu ada pemborosan?' Beliau menjawab, 'Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.'(HR. Ibnu Majah)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan pedoman ekologis yang sangat maju dalam prinsip manajemen sumber daya alam dan keberlanjutan (sustainability). 1. Prinsip Konservasi Preventif Dalam sains lingkungan, ketersediaan air bersih merupakan isu keamanan sumber daya (resource security). Penegasan Nabi SAW untuk tidak boros “meskipun di sungai yang mengalir” mengajarkan bahwa perilaku konservasi harus menjadi karakter yang melekat, bukan sekadar respons terhadap kelangkaan. Dari sudut pandang psikologi lingkungan, kebiasaan boros saat sumber daya melimpah akan membentuk pola perilaku yang gagal beradaptasi ketika terjadi krisis air. 2. Manajemen Jejak Air (Water Footprint) Secara hidrologis dan sistemik, penggunaan air yang berlebihan—meskipun bersumber dari sungai—tetap menimbulkan dampak lingkungan: Energi dan Pemrosesan: Dalam konteks modern, air yang sampai ke pengguna membutuhkan energi untuk pemompaan, distribusi, dan filtrasi. Pemborosan air secara langsung meningkatkan konsumsi energi dan jejak karbon. Beban Drainase: Air sisa yang berlebihan akan membebani sistem drainase dan meningkatkan volume greywater yang harus diolah kembali oleh alam atau infrastruktur sanitasi. 3. Keseimbangan Ekosistem dan Debit Aliran Walaupun sungai memiliki debit aliran yang kontinu, pengambilan air yang tidak efisien secara masif dapat mengganggu hidrodinamika sungai dan keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Hadis ini menegaskan etika konsumsi sumber daya alam: hak manusia dibatasi oleh kebutuhan fungsional, bukan oleh besarnya ketersediaan sumber daya tersebut.

Sunan Ibn Mājah (Hadits no. 425)

Alam

Larangan Merusak Lingkungan dan Ekosistem

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ، أَخْبَرَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ ابْنِ جُرَيْجٍ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ ‏"‏ ‏.‏ سُئِلَ أَبُو دَاوُدَ عَنْ مَعْنَى هَذَا الْحَدِيثِ فَقَالَ هَذَا الْحَدِيثُ مُخْتَصَرٌ يَعْنِي مَنْ قَطَعَ سِدْرَةً فِي فَلاَةٍ يَسْتَظِلُّ بِهَا ابْنُ السَّبِيلِ وَالْبَهَائِمُ عَبَثًا وَظُلْمًا بِغَيْرِ حَقٍّ يَكُونُ لَهُ فِيهَا صَوَّبَ اللَّهُ رَأْسَهُ فِي النَّارِ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Nashr bin 'Ali, telah mengabarkan kepada kami Abu Usamah, dari Ibnu Juraij, dari 'Utsman bin Abi Sulaiman, dari Sa'id bin Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari 'Abdullah bin Hubsyi, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Barangsiapa yang memotong pohon bidara (sidrah), maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.' Abu Dawud ditanya tentang makna hadis ini, lalu ia menjawab: 'Hadis ini diringkas, maksudnya adalah: Barangsiapa yang memotong pohon bidara di padang pasir yang digunakan oleh musafir dan hewan ternak sebagai tempat bernaung (berteduh), ia memotongnya dengan sia-sia dan secara zalim tanpa hak yang benar, maka Allah akan membenamkan kepalanya ke dalam neraka.'" (HR. Abu Dawud)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan landasan religius bagi konsep Konservasi Ekosistem Spesifik dan perlindungan terhadap aset publik alamiah. 1. Perlindungan Terhadap Vegetasi Peneduh Dalam ekologi wilayah gersang (padang pasir), sebuah pohon memiliki nilai yang jauh lebih tinggi dibandingkan di wilayah hutan hujan. Pohon tersebut berfungsi sebagai mikrohabitat. Memotongnya berarti menghilangkan satu-satunya sarana mitigasi suhu panas bagi makhluk hidup di sekitarnya. 2. Pencegahan Deforestasi dan Penggurunan (Desertification) Secara teknis, menebang pohon di wilayah kritis tanpa perencanaan (sia-sia) dapat mempercepat proses penggurunan. Akar pohon bidara membantu menjaga struktur tanah dan menyimpan cadangan air tanah. Tindakan memotongnya secara sembarangan adalah bentuk Vandalisme Ekologis yang mengancam keberlanjutan hidup manusia dan hewan. 3. Etika Pemanfaatan Sumber Daya (Sustainabilitas) Penjelasan Abu Dawud mengenai "secara zalim tanpa hak" menekankan bahwa pemanfaatan alam harus berbasis kebutuhan, bukan kesia-siaan (عبثًا). Dalam manajemen lingkungan modern, ini selaras dengan prinsip Pengelolaan Berkelanjutan, di mana pengambilan sumber daya alam harus mempertimbangkan dampak sosial dan ekologisnya.

Sunan Abī Dāwūd (Hadits no. 5239)

Alam

Menanam Pohon untuk Keseimbangan Kehidupan

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْغُبَرِيُّ، - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, Qutaibah bin Sa'id, dan Muhammad bin 'Ubaid Al-Ghubari—dan lafaz ini milik Yahya—Yahya berkata: Telah mengabarkan kepada kami, dan dua orang lainnya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah, dari Qatadah, dari Anas RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam tanaman, lalu buahnya dimakan oleh burung, manusia, atau hewan ternak, melainkan hal itu menjadi sedekah baginya.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini bukan hanya tentang nilai spiritual, tetapi juga tentang prinsip dasar Ekologi dalam menjaga keberlangsungan hidup di Bumi. 1. Produsen Primer dalam Rantai Makanan Dalam biologi, tanaman adalah Produsen Primer. Mereka adalah satu-satunya organisme yang bisa mengubah energi matahari menjadi energi kimia (makanan) melalui proses fotosintesis. - Penyokong Kehidupan: Tanpa aktivitas menanam, seluruh rantai makanan akan runtuh. Hadis ini menyebutkan tiga konsumen berbeda (burung, manusia, dan hewan), yang menunjukkan bahwa tanaman adalah fondasi bagi Biodiversitas (keanekaragaman hayati). 2. Jasa Ekosistem (Ecosystem Services) Menanam satu pohon memberikan manfaat yang jauh lebih luas daripada sekadar buahnya: - Produksi Oksigen: Tanaman menyerap CO2 dan melepaskan O2 yang diperlukan manusia dan hewan untuk bernapas. - Siklus Hidrologi: Akar tanaman membantu penyerapan air ke dalam tanah, mencegah erosi, dan menjaga ketersediaan air tanah (cadangan air minum). - Habitat Mikro: Burung yang memakan buah dari pohon tersebut juga menjadikannya tempat bersarang, sehingga menciptakan ekosistem kecil yang stabil. 3. Konsep Sedekah Jariyah secara Biologis Secara medis dan lingkungan, manfaat menanam bersifat jangka panjang (berkelanjutan): - Filtrasi Udara: Tanaman bertindak sebagai penyaring polutan di udara. Setiap makhluk hidup yang menghirup udara bersih di sekitar tanaman tersebut secara tidak langsung menerima "manfaat" dari sang penanam. - Ketahanan Pangan: Menanam tanaman pangan adalah strategi Biosekuriti untuk memastikan ketersediaan nutrisi bagi populasi manusia dan hewan di masa depan.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 1553)

Alam

Air Hujan sebagai Air yang Paling Suci

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ، عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَالَ أَنَسٌ أَصَابَنَا وَنَحْنُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مَطَرٌ قَالَ فَحَسَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَوْبَهُ حَتَّى أَصَابَهُ مِنْ الْمَطَرِ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ لِمَ صَنَعْتَ هَذَا قَالَ لِأَنَّهُ حَدِيثُ عَهْدٍ بِرَبِّهِ تَعَالَى.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin Sulaiman, dari Tsabit Al-Bunani, dari Anas RA, ia berkata: 'Kami pernah bersama Rasulullah ﷺ lalu kami kehujanan. Maka Rasulullah ﷺ menyibakkan pakaiannya (hingga sebagian tubuhnya terlihat) sampai beliau terkena air hujan tersebut. Kami pun bertanya: 'Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal ini?' Beliau menjawab: 'Karena ia (hujan ini) baru saja datang dari Tuhannya Ta'ala.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Secara ilmiah, tindakan Nabi ﷺ menyambut tetesan air hujan pertama memiliki kaitan erat dengan proses pembentukan air di atmosfer. 1. Kondensasi dan Pembentukan Awan Air hujan berasal dari proses penguapan (evaporasi) air laut dan daratan yang kemudian naik ke atmosfer. - Distilasi Alami: Proses penguapan ini adalah bentuk penyaringan atau distilasi alami yang sangat masif. Ketika uap air naik, ia meninggalkan zat-zat pengotor (garam, polutan berat) di bumi, sehingga saat ia mengembun menjadi awan, air tersebut berada dalam kondisi paling murni secara kimiawi (H_2O murni). 2. Kandungan Nitrogen dan NutrisiAir hujan, terutama yang terjadi saat ada kilat atau petir, membawa berkah fisik yang nyata bagi bumi: - Fiksasi Nitrogen: Kilat memecah molekul nitrogen di udara, yang kemudian larut dalam tetesan air hujan. Nitrogen ini adalah nutrisi utama yang dibutuhkan tanaman untuk tumbuh. - Ion Negatif: Udara saat hujan kaya akan ion negatif yang menurut penelitian kesehatan dapat membantu memperbaiki suasana hati (mood) dan menyegarkan sistem pernapasan manusia. 3. Kesegaran Molekuler (Haditsu 'Ahdin) Kalimat Nabi ﷺ "baru saja datang dari Tuhannya" secara fisik bisa dimaknai sebagai air yang baru saja melewati fase perubahan wujud (dari gas ke cair). - Energi Potensial: Tetesan air yang baru jatuh membawa energi dan kesegaran yang belum terkontaminasi oleh debu atau polusi di permukaan tanah. Dengan membiarkan kulit terkena air hujan, tubuh melakukan kontak langsung dengan zat cair hasil pemurnian atmosfer bumi.

Sahih Muslim No. 898