Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Ilmu

Fondasi Sains dan Teknologi

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ الْهَمْدَانِيُّ - وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى - قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا وَقَالَ الآخَرَانِ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, dan Muhammad bin Al-Ala' Al-Hamdani —dan lafal ini milik Yahya— Yahya berkata: 'Telah mengabarkan kepada kami', sedangkan dua lainnya berkata: 'Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah, dari Al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah $SAW$ bersabda:'Barangsiapa yang melapangkan satu kesulitan dunia seorang mukmin, maka Allah akan melapangkan darinya satu kesulitan di hari kiamat. Barangsiapa yang memudahkan urusan orang yang kesulitan, maka Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang menutupi aib seorang muslim, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya.Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di kalangan makhluk yang ada di sisi-Nya. Barangsiapa yang lambat amalnya, maka nasabnya (garis keturunannya) tidak akan bisa mempercepatnya.' (HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan kategori ilmu epistemologi (teori pengetahuan) dan pedagogi (seni mengajar/belajar) dalam Islam. Secara spesifik, hadis ini menegaskan bahwa ilmu bukan sekadar pengumpulan informasi intelektual, melainkan sebuah proses yang memiliki dimensi spiritual dan sosial. Frasa "menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu" merujuk pada metodologi pencarian kebenaran yang membutuhkan usaha fisik dan mental, di mana efisiensi dalam mencapai "tujuan akhir" (surga) sangat bergantung pada niat dan proses tersebut. Selain itu, bagian hadis yang menyebutkan "membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya" menunjukkan kategori ilmu kolektif (kolaboratif), di mana pemahaman yang mendalam lahir dari diskusi kelompok (tadarusan) yang didukung oleh lingkungan yang kondusif (sakīnah). Terakhir, hadis ini menegaskan aksiologi ilmu (penerapan nilai), bahwa kemuliaan seseorang ditentukan oleh integrasi antara ilmu dan amal nyata, bukan oleh status sosial atau nasab, sehingga ilmu dikategorikan sebagai instrumen penggerak perubahan perilaku, bukan sekadar status formal. Poin Penting Mengenai Ilmu dalam Hadis Ini: 1. Motivasi Belajar: Menuntut ilmu adalah jalan pintas menuju surga. 2. Metode Belajar: Pembelajaran terbaik dilakukan secara komunal (berjamaah) dan interaktif. 3. Dampak Psikologis: Belajar agama di tempat yang tepat membawa ketenangan jiwa (sakīnah). 4. Integritas: Ilmu harus berbuah amal; kecerdasan atau keturunan tidak berguna jika tidak disertai tindakan nyata.

Ṣaḥīḥ Muslim (hadits no. 2699)

Ilmu

Bio-Etika dan Integritas Pangan

وَحَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ، مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاَءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ ‏{‏ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ‏}‏ وَقَالَ ‏{‏ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ‏}‏ ‏"‏ ‏.‏ ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al-'Ala, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, telah menceritakan kepada kami Fudhail bin Marzuq, telah menceritakan kepadaku 'Adi bin Tsabit, dari Abu Hazim, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin sebagaimana Dia memerintahkan kepada para rasul. Allah berfirman: “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik (thayyibat) dan kerjakanlah amal saleh.” Dan Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.”' Kemudian beliau menceritakan tentang seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh (safar), rambutnya kusut dan berdebu. Ia menengadahkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa, “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku,” sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan (energi) dari yang haram. Maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan?" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mengandung prinsip integritas bio-etika yang sangat kuat, yang menghubungkan antara apa yang masuk ke dalam tubuh dengan performa sistemik manusia, baik secara fisik, kognitif, maupun spiritual. 1. Konsep Thayyibat dan Keamanan Pangan (Food Safety) Dalam perspektif sains, istilah thayyib mencakup aspek higienitas, keamanan, dan kualitas fungsional nutrisi. Standar Mutu: Makanan yang baik harus bebas dari kontaminan biologis (bakteri patogen), kimia (pestisida, logam berat), dan fisik. Bioavailabilitas: Nutrisi yang thayyib adalah nutrisi yang dapat diserap secara optimal oleh tubuh untuk mendukung metabolisme, tanpa memicu inflamasi atau gangguan kesehatan jangka panjang. 2. Biokimia Nutrisi dan Integritas Seluler Ungkapan “ghudziya bil haram” (diberi asupan dari yang haram) memiliki implikasi biologis yang mendalam. Metabolisme Energi: Zat gizi yang dikonsumsi akan dipecah menjadi glukosa, asam amino, dan asam lemak yang menjadi bahan dasar pembentukan sel, hormon, dan neurotransmiter. Gangguan Homeostasis: Asupan yang bermasalah—baik secara zat (toksin, adiktif) maupun proses—dapat mengganggu keseimbangan biokimia tubuh. Dalam neurosains, kondisi ini berpengaruh pada fungsi lobus frontal yang berperan dalam pengambilan keputusan, kontrol diri, dan kesadaran moral. 3. Integritas Sistem dan Performa Output Hadis ini menjelaskan konsep kegagalan sistemik: meskipun input operasional terlihat maksimal (safar jauh dan doa yang sungguh-sungguh), namun karena input bahan baku (makanan, minuman, dan asupan energi) cacat secara integritas, maka output (pengabulan doa dan efektivitas amal) menjadi tidak optimal. Analogi Sistem dan Pemrograman: Ini sebanding dengan menjalankan perangkat lunak yang canggih pada perangkat keras yang telah terkontaminasi virus atau data input yang rusak. Sistem tetap tidak akan bekerja sebagaimana mestinya, meskipun proses dijalankan dengan intensitas tinggi.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 1015)

Ilmu

Akuntabilitas dan Sistem Kepemimpinan

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ، قَالَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنَا سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏"‏ كُلُّكُمْ رَاعٍ ‏"‏‏.‏ وَزَادَ اللَّيْثُ قَالَ يُونُسُ كَتَبَ رُزَيْقُ بْنُ حُكَيْمٍ إِلَى ابْنِ شِهَابٍ ـ وَأَنَا مَعَهُ يَوْمَئِذٍ بِوَادِي الْقُرَى ـ هَلْ تَرَى أَنْ أُجَمِّعَ‏.‏ وَرُزَيْقٌ عَامِلٌ عَلَى أَرْضٍ يَعْمَلُهَا، وَفِيهَا جَمَاعَةٌ مِنَ السُّودَانِ وَغَيْرِهِمْ، وَرُزَيْقٌ يَوْمَئِذٍ عَلَى أَيْلَةَ، فَكَتَبَ ابْنُ شِهَابٍ ـ وَأَنَا أَسْمَعُ ـ يَأْمُرُهُ أَنْ يُجَمِّعَ، يُخْبِرُهُ أَنَّ سَالِمًا حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏"‏ كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهْوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ فِي بَيْتِ زَوْجِهَا وَمَسْئُولَةٌ عَنْ رَعِيَّتِهَا، وَالْخَادِمُ رَاعٍ فِي مَالِ سَيِّدِهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ـ قَالَ وَحَسِبْتُ أَنْ قَدْ قَالَ ـ وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي مَالِ أَبِيهِ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Muhammad, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Abdullah, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Yunus, dari Az-Zuhri, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Salim bin Abdullah, dari Ibnu Umar RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Setiap kalian adalah pemimpin (ra'in) dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam (pemimpin negara) adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas harta tuannya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.' Ibnu Umar berkata: 'Aku mengira beliau juga bersabda: Dan seorang laki-laki adalah pemimpin atas harta ayahnya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.'(HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan landasan bagi struktur tata kelola (governance) modern, di mana setiap individu dipandang sebagai unit fungsional yang memiliki otoritas dan kewajiban tertentu. 1. Prinsip Span of Control (Rentang Kendali) Dalam teori organisasi, hadis ini mendefinisikan rentang kendali yang jelas bagi setiap elemen masyarakat. Dari tingkat makro (pemimpin negara) hingga mikro (harta individu), terdapat pembagian tugas (division of labor) yang terstruktur. Secara sistemik, efisiensi sebuah organisasi besar bergantung pada seberapa baik setiap sub-unit menjalankan fungsinya. 2. Akuntabilitas dan Pengendalian Internal Kalimat "setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban" adalah inti dari Akuntabilitas. Dalam manajemen modern, ini disebut sebagai stewardship theory, di mana seseorang diberi kepercayaan untuk mengelola aset atau orang lain bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kepentingan pemilik atau tujuan bersama. Integritas Aset: Contoh "pembantu atas harta tuannya" menunjukkan pentingnya pengendalian internal untuk mencegah fraud (kecurangan) dan memastikan keamanan aset. 3. Teori Sistem dan Interkoneksi Masyarakat digambarkan sebagai sebuah sistem besar yang terdiri dari berbagai subsistem (negara, keluarga, pekerjaan). Jika satu unit (pemimpin keluarga atau pengelola aset) gagal menjalankan fungsinya, maka stabilitas sistem di atasnya akan terganggu. Keberhasilan kolektif adalah hasil dari performa tanggung jawab individu di setiap level.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 893)

Ilmu

Biomekanika Tubuh dan Etika Sosial

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ هَمَّامٍ، حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ هَمَّامِ بْنِ، مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ، عَنْ مُحَمَّدٍ، رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ كُلُّ سُلاَمَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ - قَالَ - تَعْدِلُ بَيْنَ الاِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ - قَالَ - وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ وَكُلُّ خَطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ وَتُمِيطُ الأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ ‏"‏ ‏.

"Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi', telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazzaq bin Hammam, telah menceritakan kepada kami Ma'mar, dari Hammam bin Munabbih, ia berkata: Ini adalah apa yang diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami, dari Muhammad Rasulullah SAW, lalu ia menyebutkan sejumlah hadis, di antaranya Rasulullah SAW bersabda: 'Setiap persendian manusia wajib dikeluarkan sedekahnya setiap hari selama matahari masih terbit. Beliau bersabda: Berlaku adil di antara dua orang ( yang berselisih) adalah sedekah. Membantu seseorang menaiki hewan tunggangannya atau mengangkatkan barang bawaannya ke atas kendaraan tersebut adalah sedekah. Beliau bersabda: Ucapan yang baik adalah sedekah. Setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju salat adalah sedekah. Dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Secara sains dan sosial, hadis ini merangkum dua aspek penting bagi manusia: Integritas Biomekanika (Sulaama): Istilah Sulaama merujuk pada tulang dan persendian. Secara medis, tubuh manusia dewasa memiliki sekitar 206 tulang dan ratusan sendi yang memungkinkan mobilitas. "Sedekah" di sini secara fungsional berarti menggunakan kapasitas gerak tersebut untuk aktivitas positif yang menjaga fleksibilitas dan kesehatan tubuh. Optimasi Infrastruktur Publik: Perintah "menyingkirkan gangguan dari jalan" adalah prinsip dasar manajemen keselamatan jalan raya (road safety) dan kebersihan lingkungan. Hal ini mencegah terjadinya kecelakaan dan memastikan kelancaran arus logistik/manusia.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 1009)

Ilmu

Transparansi dan Integritas Pasar

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ صَالِحٍ أَبِي الْخَلِيلِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ، رَفَعَهُ إِلَى حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا ـ أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا ـ فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا، وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Harb, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Qatadah, dari Shalih Abi Al-Khalil, dari 'Abdullah bin Al-Harith, yang menyandarkannya kepada Hakim bin Hizam RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Dua orang yang melakukan jual beli mempunyai hak khiyar (memilih antara membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah —atau beliau bersabda: hingga keduanya berpisah—. Jika keduanya jujur dan menjelaskan (keadaan barang apa adanya), maka keduanya diberkahi dalam jual beli mereka. Namun, jika keduanya menyembunyikan (cacat barang) dan berdusta, maka dihapuskanlah keberkahan jual beli mereka.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini meletakkan fondasi bagi Etika Bisnis Modern dan Perlindungan Konsumen melalui dua konsep utama: Hak Khiyar (Opsi Pembatalan): Dalam ekonomi modern, ini dikenal sebagai cooling-off period. Hak ini memberikan ruang bagi kedua belah pihak untuk memastikan keputusan diambil secara sadar (tanpa tekanan), yang secara signifikan mengurangi risiko penyesalan pasca-pembelian (buyer's remorse). Asimetri Informasi: Masalah terbesar dalam pasar adalah ketika penjual tahu lebih banyak tentang cacat barang daripada pembeli. Hadis ini mewajibkan Transparansi (Tabayyun). Secara ekonomi, kejujuran menurunkan biaya transaksi karena mengurangi kebutuhan akan pengawasan (audit) dan sengketa hukum. Keberlanjutan Bisnis (Barakah): Keberkahan dalam konteks bisnis dapat diartikan sebagai brand loyalty dan reputasi jangka panjang. Bisnis yang dibangun di atas kebohongan mungkin untung secara instan, namun akan kehilangan kepercayaan pasar (trust capital) yang mengakibatkan kehancuran usaha di masa depan.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 2079)

Ilmu

Etika Kepedulian dan Kesejahteraan Makhluk

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ سُمَىٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ـ رضى الله عنه ـ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ بَيْنَا رَجُلٌ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ الْعَطَشُ، فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا، ثُمَّ خَرَجَ فَإِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ، يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ الْعَطَشِ، فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلأَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيهِ، ثُمَّ رَقِيَ، فَسَقَى الْكَلْبَ فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ ‏"‏‏.‏ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَإِنَّ لَنَا فِي الْبَهَائِمِ أَجْرًا قَالَ ‏"‏ فِي كُلِّ كَبِدٍ رَطْبَةٍ أَجْرٌ ‏"‏‏.‏ تَابَعَهُ حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ وَالرَّبِيعُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ‏.

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf, telah mengabarkan kepada kami Malik, dari Sumay, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Ketika seorang laki-laki sedang berjalan, ia merasakan haus yang sangat. Lalu ia menuruni sebuah sumur dan minum darinya. Setelah keluar, ia melihat seekor anjing yang menjulurkan lidahnya sambil menjilat tanah karena haus. Orang itu berkata: 'Anjing ini telah merasakan haus yang sama seperti yang aku rasakan'. Maka ia pun mengisi sepatunya (khuff) dengan air, lalu memegangnya dengan mulutnya, kemudian ia naik (keluar dari sumur) dan memberi minum anjing tersebut. Maka Allah berterima kasih kepadanya dan mengampuni dosanya.' Para sahabat bertanya: 'Wahai Rasulullah, apakah kami akan mendapatkan pahala karena berbuat baik kepada hewan?' Beliau menjawab: 'Pada setiap hati (makhluk hidup) yang basah terdapat pahala.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan panduan etis yang sangat maju mengenai bagaimana manusia seharusnya berinteraksi dengan ekosistem dan makhluk hidup di sekitarnya. 1. Empati Antar-Spesies Secara psikologis, pria dalam hadis ini melakukan identifikasi perasaan (empati). Ia menyamakan penderitaan fisik yang ia rasakan (haus) dengan yang dirasakan oleh spesies lain. Dalam ilmu lingkungan modern, ini adalah dasar dari Etika Biosentris, di mana setiap makhluk hidup dianggap memiliki nilai dan hak untuk bertahan hidup. 2. Adaptasi dalam Kondisi Kritis Tindakan pria tersebut menggunakan sepatunya (khuff) untuk membawa air mencerminkan kreativitas dalam penyelesaian masalah (problem solving) di lingkungan yang sulit. Dalam geografi wilayah gersang, air adalah sumber daya paling berharga, dan membaginya dengan makhluk lain adalah bentuk tertinggi dari manajemen sumber daya yang berkelanjutan. 3. Definisi Kehidupan (Kaidah "Kibid Rathbah") Kalimat "Setiap hati/limpa yang basah" (Kulli kibidin rathbah) adalah istilah biologis yang sangat menarik. "Basah" di sini merujuk pada metabolisme yang masih berjalan (kehidupan). Secara akademik, ini adalah mandat untuk menjaga Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare) tanpa memandang status atau jenis hewan tersebut. Selama makhluk tersebut memiliki sistem biologis yang membutuhkan asupan (air/makanan), manusia memiliki tanggung jawab moral untuk menolongnya.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 2363)