Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Ilmu

Setiap Orang adalah Manajer bagi Lingkungannya

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏ "‏ أَلاَ كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلاَ فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Laits. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Nafi', dari Ibnu Umar, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: 'Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang pemimpin yang memimpin manusia adalah pemimpin dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarga rumah tangganya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya dan anak-anaknya, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang hamba adalah pemimpin atas harta tuannya dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas harta tersebut. Ketahuilah, setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.'(HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan teks fundamental dalam mendefinisikan struktur tata kelola (governance) dan distribusi tanggung jawab dalam sebuah organisasi sosial maupun korporasi. 1. Distribusi Tanggung Jawab (Delegation of Authority) Dalam manajemen modern, sebuah sistem yang sehat tidak memusatkan seluruh beban pada satu titik (sentralisasi ekstrim). Hadis ini menekankan bahwa setiap individu, terlepas dari posisinya (dari Amir hingga hamba), memiliki domain otoritas spesifik. Secara sistemik, efisiensi organisasi bergantung pada keberhasilan setiap pemegang amanah di tingkatannya masing-masing. 2. Akuntabilitas dan Integritas Aset Istilah "mas'ul" (dimintai pertanggungjawaban) adalah inti dari prinsip Akuntabilitas. Manajemen Aset: Penekanan pada penjagaan harta (maal) menunjukkan pentingnya stewardship—yaitu kewajiban mengelola sumber daya milik orang lain dengan integritas tinggi. Dalam dunia bisnis, ini selaras dengan fungsi auditor dan pengelola keuangan untuk mencegah kebocoran anggaran. Pengembangan Sumber Daya Manusia: Peran wanita dalam menjaga anak-anak (waladihi) menonjolkan aspek kepemimpinan dalam pembentukan karakter dan edukasi, yang merupakan investasi jangka panjang bagi keberlanjutan sebuah peradaban (sistem). 3. Teori Sistem: Interdependensi Fungsi Masyarakat dipandang sebagai sebuah sistem organik. Jika pemimpin keluarga gagal, maka beban negara (Amir) akan bertambah berat. Jika pengelola harta gagal, maka ekonomi sistem akan runtuh. Hadis ini mengajarkan bahwa stabilitas makro (negara/masyarakat) hanya bisa dicapai melalui fungsionalitas mikro (individu/keluarga) yang disiplin dan bertanggung jawab.

Ṣaḥīḥ Muslim no. 1829

Ilmu

Otonomi dan Kepastian Kontrak

حَدَّثَنَا صَدَقَةُ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، قَالَ سَمِعْتُ يَحْيَى، قَالَ سَمِعْتُ نَافِعًا، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، رضى الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِنَّ الْمُتَبَايِعَيْنِ بِالْخِيَارِ فِي بَيْعِهِمَا، مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا، أَوْ يَكُونُ الْبَيْعُ خِيَارًا ‏"‏‏.‏ قَالَ نَافِعٌ وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا اشْتَرَى شَيْئًا يُعْجِبُهُ فَارَقَ صَاحِبَهُ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Sadaqah, telah mengabarkan kepada kami 'Abdul Wahhab, ia berkata: Aku mendengar Yahya, ia berkata: Aku mendengar Nafi', dari Ibnu 'Umar RA, dari Nabi SAW bersabda: 'Sesungguhnya dua orang yang melakukan jual beli memiliki hak khiyar (memilih antara membatalkan atau melanjutkan) dalam transaksi mereka selama keduanya belum berpisah, atau transaksi tersebut mengandung pilihan (khiyar syarat).' Nafi' berkata: Dan adalah Ibnu 'Umar, jika ia telah membeli sesuatu yang ia sukai, maka ia segera meninggalkan (memisahkan diri dari) penjualnya." (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memperdalam konsep Khiyar al-Majlis (hak pilih selama berada di lokasi transaksi) dengan penekanan pada aspek teknis kepastian kontrak. Otonomi Kehendak: Dalam hukum kontrak modern, kesepakatan memerlukan kebebasan berkehendak. Hak khiyar memberikan perlindungan psikologis agar pelaku ekonomi tidak terjebak dalam keputusan impulsif. Ini menjamin bahwa pertukaran nilai terjadi atas dasar kerelaan penuh ('an taradhin). Kepastian Hukum (Legal Certainty): Tindakan Ibnu 'Umar yang segera menjauh setelah membeli barang yang disukainya menunjukkan keinginan untuk segera mengubah status transaksi dari "boleh dibatalkan" menjadi "mengikat secara hukum" (binding contract). Secara ekonomi, ini penting untuk mempercepat perputaran barang dan kepastian hak milik. Fleksibilitas Syarat: Frasa "atau transaksi tersebut mengandung pilihan" merujuk pada Khiyar Syarat, di mana kedua pihak bisa menyepakati masa uji coba (misalnya garansi pengembalian 3 hari). Dalam perdagangan modern, ini adalah fondasi dari kebijakan return and refund yang meningkatkan kepercayaan konsumen.

Sahih al-Bukhari no. 2107

Ilmu

Tingkatan Akurasi dalam Deskripsi Anatomi

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ قَالَ قَتَادَةُ سَمِعْتُ أَبَا نَضْرَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ سَمُرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى حُجْزَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى عُنُقِهِ ‏"

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban bin 'Abdurrahman, Qatadah berkata: Aku mendengar Abu Nadhrah bercerita dari Samurah (bin Jundub) RA, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya di antara mereka (ahli neraka) ada yang dimakan api hingga kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang dimakan api hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang dimakan api hingga lehernya.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Meskipun hadis ini berbicara tentang perkara gaib (neraka), cara Nabi ﷺ mendeskripsikannya menggunakan titik-titik referensi anatomi yang sangat presisi dalam tubuh manusia. 1. Anatomi: Titik-Titik Sendi dan Penyangga Tubuh Nabi ﷺ menyebutkan tiga bagian utama yang dalam anatomi merupakan batas-batas penting: Mata Kaki (Ka'bain): Merupakan dasar penyangga tubuh. Pinggang (Hujzah): Merupakan pusat gravitasi dan pemisah antara bagian bawah (ekstremitas bawah) dan bagian atas tubuh (batang tubuh). Leher ('Unuq): Merupakan bagian vital yang menghubungkan tubuh dengan otak (pusat kesadaran). Penggunaan istilah anatomi ini memberikan gambaran visual yang nyata tentang distribusi intensitas. Dalam sains, kita mengenal istilah Gradien, yaitu perubahan nilai suatu parameter (dalam hal ini, tingkat keparahan/ketinggian) secara bertahap. 2. Termofisika: Level Energi Hadis ini menggambarkan adanya tingkatan (level) energi panas yang berbeda bagi setiap individu berdasarkan amalnya. Secara logika fisika, ini menggambarkan bahwa azab tersebut tidak bersifat "seragam", melainkan memiliki presisi yang luar biasa dalam menargetkan subjek sesuai dengan takarannya (dosis). Penentuan batas hingga mata kaki, pinggang, atau leher menunjukkan adanya hukum keteraturan bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun. 3. Neuropsikologi: Tingkat Kesadaran Nyeri Dalam medis, semakin tinggi tingkat luka bakar menuju area vital (leher/kepala), semakin besar dampaknya terhadap sistem saraf pusat. Deskripsi "hingga leher" menunjukkan level penderitaan maksimal di mana seluruh saraf sensorik di batang tubuh terkena dampak, sementara kesadaran tetap dipertahankan agar rasa sakit tersebut terus terasa.

Sahih Muslim No. 2845a