Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Astronomi

Fenomena Kosmik Terbelahnya Bulan

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، وَسُفْيَانَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِرْقَتَيْنِ، فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ اشْهَدُوا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu'bah dan Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Ibnu Mas'ud RA, ia berkata: 'Bulan terbelah menjadi dua bagian pada masa Rasulullah SAW; satu bagian berada di atas gunung dan bagian lainnya berada di bawahnya (di balik gunung). Maka Rasulullah SAW bersabda: "Saksikanlah!"'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mencatat salah satu peristiwa luar biasa yang dalam sains dapat ditinjau melalui beberapa pendekatan mekanika langit dan pengamatan permukaan. 1. Integritas Struktural Bulan Secara astronomi, bulan adalah benda langit padat yang terikat oleh gravitasi internalnya sendiri. Peristiwa terbelahnya bulan secara fisik merupakan fenomena yang melampaui hukum fisika normal (mukjizat). Jika sebuah benda langit seukuran bulan benar-benar terpisah, secara teoritis ia akan menciptakan gangguan gravitasi yang masif pada pasang surut air laut di bumi. Namun, kembalinya bulan ke bentuk semula menunjukkan adanya pemulihan integritas struktural yang instan. 2. Fitur Geologi: Rimae (Parit Bulan) Para astronom telah memetakan permukaan bulan dan menemukan fitur yang disebut Rimae atau Rilles (parit/rekahan panjang). Salah satu yang paling terkenal adalah Hadley Rille. Meskipun ilmu geologi bulan saat ini menjelaskan bahwa rekahan ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik kuno atau saluran lava yang runtuh, keberadaan garis-garis rekahan panjang yang melintasi permukaan bulan sering kali menjadi objek diskusi menarik jika dikaitkan dengan catatan sejarah mengenai pembelahan bulan. 3. Perspektif Pengamat (Paralaks dan Sudut Pandang) Laporan Ibnu Mas'ud yang menyatakan satu bagian berada "di atas gunung" dan lainnya "di bawah gunung" menunjukkan posisi pengamat berada pada sudut tertentu di mana perspektif visual bulan tampak terpisah oleh bentang alam (Gunung Abi Qubais di Mekkah). Secara optik, ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut terjadi di ruang angkasa namun terproyeksi secara nyata dalam medan pandang manusia di bumi.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 4864)

Astronomi

Batas Astronomis dan Rentang Waktu Shalat

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، كِلاَهُمَا عَنِ الأَزْرَقِ، - قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ الأَزْرَقُ، - حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ رَجُلاً سَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ فَقَالَ لَهُ ‏"‏ صَلِّ مَعَنَا هَذَيْنِ ‏"‏ ‏.‏ يَعْنِي الْيَوْمَيْنِ فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الظُّهْرَ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ فَلَمَّا أَنْ كَانَ الْيَوْمُ الثَّانِي أَمَرَهُ فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ فَأَبْرَدَ بِهَا فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا وَصَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ وَصَلَّى الْمَغْرِبَ قَبْلَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ وَصَلَّى الْعِشَاءَ بَعْدَ مَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ وَصَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ قَالَ ‏"‏ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ ‏"‏ ‏.‏ فَقَالَ الرَّجُلُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ ‏"‏ وَقْتُ صَلاَتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ubaidullah bin Said, keduanya dari Al-Azraq—Zuhair berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al-Azraq—telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi SAW: Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang waktu shalat, maka beliau bersabda: 'Shalatlah bersama kami selama dua hari ini.' Ketika matahari telah tergelincir (Zawal), beliau memerintahkan Bilal untuk azan, lalu memerintahkannya untuk iqamah shalat Dzuhur. Kemudian beliau memerintahkannya iqamah shalat Ashar saat matahari masih tinggi, putih, dan jernih. Lalu beliau memerintahkannya iqamah shalat Maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian beliau memerintahkannya iqamah shalat Isya ketika syafaq (cahaya merah di ufuk) telah hilang. Lalu beliau memerintahkannya iqamah shalat Subuh ketika fajar terbit. Pada hari kedua, beliau memerintahkan Bilal untuk menunda shalat Dzuhur hingga waktu dingin (Abrada). Beliau mengerjakan shalat Ashar saat matahari masih tinggi namun mengakhirkannya dari waktu hari pertama. Beliau mengerjakan shalat Maghrib sebelum syafaq hilang. Beliau mengerjakan shalat Isya setelah berlalu sepertiga malam. Dan beliau mengerjakan shalat Subuh saat hari sudah mulai terang (Asfara). Kemudian beliau bertanya: 'Di mana orang yang bertanya tentang waktu shalat tadi?' Laki-laki itu menjawab: 'Saya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Waktu shalat kalian adalah di antara apa yang telah kalian lihat (kerjakan) ini.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini adalah panduan praktis mengenai Astronomi Posisi yang menetapkan batas awal dan akhir (limit bawah dan atas) untuk setiap waktu shalat berdasarkan fenomena cahaya dan posisi benda langit. 1. Fenomena Dzuhur dan Ashar (Sudut Deklinasi) - Dzuhur (Zawal): Dimulai saat matahari melewati garis meridian (titik tertinggi). Secara astronomis, ini adalah saat bayangan benda berada pada panjang minimumnya sebelum mulai memanjang ke arah timur. - Ashar: Ditentukan oleh rasio panjang bayangan terhadap tinggi benda. Hadis ini menunjukkan rentang waktu dari saat matahari masih "putih" (intensitas cahaya tinggi) hingga posisi matahari lebih rendah di ufuk. 2. Fenomena Maghrib dan Isya (Refraksi Atmosfer) - Maghrib: Terjadi tepat saat piringan matahari menghilang di bawah cakrawala (terbenam). - Isya (Hilangnya Syafaq): Secara astronomis, ini disebut Twilight (fajar/senja astronomis). Syafaq adalah hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi meskipun matahari sudah berada di bawah ufuk. Isya dimulai ketika matahari mencapai kedalaman tertentu (biasanya sekitar 17^0 hingga 18^0 di bawah cakrawala) sehingga langit benar-benar gelap. 3. Fenomena Subuh (Fajar Shadiq) - Subuh (Fajar): Dimulai saat munculnya cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Secara biologis dan astronomis, ini adalah transisi dari gelap total ke munculnya cahaya pertama akibat hamburan atmosfer. Nabi SAW mencontohkan batas akhirnya pada kondisi Isfar, yaitu saat cahaya matahari sudah mulai menerangi bumi dengan jelas namun piringan matahari belum terbit.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 613)

Astronomi

Banyaknya Bintang dan Kepadatan Alam Langit

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْمُهَاجِرِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ مُوَرِّقٍ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِنِّي أَرَى مَا لاَ تَرَوْنَ وَأَسْمَعُ مَا لاَ تَسْمَعُونَ أَطَّتِ السَّمَاءُ وَحُقَّ لَهَا أَنْ تَئِطَّ مَا فِيهَا مَوْضِعُ أَرْبَعِ أَصَابِعَ إِلاَّ وَمَلَكٌ وَاضِعٌ جَبْهَتَهُ سَاجِدًا لِلَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَمَا تَلَذَّذْتُمْ بِالنِّسَاءِ عَلَى الْفُرُشِ وَلَخَرَجْتُمْ إِلَى الصُّعُدَاتِ تَجْأَرُونَ إِلَى اللَّهِ ‏"‏ ‏.‏ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ شَجَرَةً تُعْضَدُ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَابِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَعَائِشَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَأَنَسٍ ‏.‏ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ ‏.‏ وَيُرْوَى مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ أَنَّ أَبَا ذَرٍّ قَالَ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ شَجَرَةً تُعْضَدُ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az-Zubairi, telah menceritakan kepada kami Israil, dari Ibrahim bin Al-Muhajir, dari Mujahid, dari Muwarriq, dari Abu Dzar RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya aku melihat apa yang tidak kalian lihat dan aku mendengar apa yang tidak kalian dengar. Langit merintih/mengerit (Aththath), dan memang sudah haknya bagi langit untuk merintih. Tidak ada satu ruang pun seukuran empat jari melainkan di sana ada malaikat yang meletakkan dahinya bersujud kepada Allah. > Sekiranya kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, kalian tidak akan merasa nikmat bersama wanita di atas ranjang, dan kalian akan keluar menuju tanah lapang memohon dengan sungguh-sungguh kepada Allah.' > (Abu Dzar menambahkan): 'Duhai, seandainya aku hanyalah sebatang pohon yang ditebang'." (HR. Tirmidzi, ia berkata: Hadis ini Hasan Gharib)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menggunakan istilah Aththath (suara beban berat yang membebani pelana atau bangunan) untuk menggambarkan kondisi langit. Hal ini dapat ditinjau melalui konsep beban massa dalam ruang semesta. 1. Fenomena Kerapatan Ruang (Space Density) Dalam astronomi, ruang angkasa sering dianggap sebagai vakum atau ruang hampa. Namun, hadis ini menjelaskan bahwa langit sebenarnya "penuh" secara dimensi lain (malaikat). Massa Non-Barionik: Dalam kosmologi modern, diketahui bahwa materi yang kita lihat (bintang, planet) hanya mengisi sekitar 5% alam semesta. Sisanya adalah Dark Matter dan Dark Energy yang mengisi setiap jengkal ruang. Analogi "setiap empat jari ada yang bersujud" secara sains selaras dengan konsep bahwa ruang yang tampak kosong sebenarnya memiliki kerapatan energi atau massa yang sangat tinggi yang menjaga struktur alam semesta tetap utuh. 2. Bunyi Akibat Beban Ekstrem (Aththath) Kata Aththath merujuk pada suara derit benda yang menahan beban sangat berat melampaui kapasitas normalnya. Gelombang Gravitasi: Secara astrofisika, ruang-waktu (space-time) bukanlah sesuatu yang kaku, melainkan kain elastis yang dapat melengkung dan bergetar akibat massa yang besar. Getaran pada struktur ruang-waktu ini dikenal sebagai Gelombang Gravitasi. Tegangan Ruang: Istilah "langit merintih karena beban" dapat diinterpretasikan secara ilmiah sebagai besarnya energi dan massa yang mengisi alam semesta, yang memberikan tekanan luar biasa pada dimensi ruang-waktu itu sendiri. 3. Keterbatasan Sensorik Manusia Kalimat "Aku melihat apa yang tidak kalian lihat" berkaitan dengan Spektrum Elektromagnetik. Mata manusia hanya mampu melihat cahaya tampak (visible light), yang hanya merupakan sebagian kecil dari spektrum energi di alam semesta. Terdapat realitas lain (seperti gelombang radio, sinar-X, materi gelap, atau dimensi lain) yang ada di sekitar kita namun tidak terdeteksi oleh indra manusia tanpa alat bantu.

Jāmiʿ at-Tirmiḏī (Hadits no. 2312)

Astronomi

Penciptaan Alam Semesta dan Awal Kosmos

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ، أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ، وَهْبٍ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلاَنِيُّ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو، بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ - قَالَ - وَعَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepadaku Abu Ath-Thahir, Ahmad bin 'Amr bin Abdullah bin 'Amr bin Sarh, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab, telah mengabarkan kepadaku Abu Hani' Al-Khaulani, dari Abu 'Abdurrahman Al-Hubuli, dari 'Abdullah bin 'Amr bin Al-'Ash, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Allah telah menuliskan takdir (ketetapan) setiap makhluk lima puluh ribu tahun sebelum Dia menciptakan langit dan bumi.' Beliau bersabda: 'Dan Arsy-Nya berada di atas air.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menyinggung konsep yang sangat fundamental dalam fisika mengenai "penulisan" cetak biru alam semesta sebelum materialisasi fisik langit dan bumi terjadi. 1. Determinisme dan Informasi Kosmik (Information Theory) Dalam fisika kuantum dan kosmologi, terdapat konsep bahwa Informasi adalah entitas dasar alam semesta. Kondisi Awal (Initial Conditions): Fisika klasik (Newtonian) berpendapat bahwa jika kita mengetahui posisi dan momentum setiap partikel pada awal penciptaan, maka seluruh masa depan alam semesta dapat dihitung (deterministik). Penulisan Takdir: Secara ilmiah, ini selaras dengan konsep bahwa hukum-hukum fisika dan konstanta alam semesta (seperti kecepatan cahaya, gravitasi, dll.) sudah ditetapkan secara presisi sebelum materi pertama terbentuk. Tanpa "cetak biru" (takdir) ini, atom tidak akan bisa terbentuk pasca-Big Bang. 2. Skala Waktu Pra-Kosmik Angka "lima puluh ribu tahun" dalam konteks ini menarik secara saintifik. Waktu Relatif: Waktu seperti yang kita kenal (detik, tahun) terikat pada ruang-waktu yang diciptakan bersama alam semesta. Sebelum adanya "langit dan bumi" (ruang-waktu), penyebutan satuan tahun menunjukkan adanya Skala Urutan atau dimensi waktu primordial yang berbeda dengan waktu sirkular bumi. Pre-Big Bang: Kosmologi modern mulai meneliti fase sebelum ledakan besar (Pre-Big Bang Epoch), di mana fluktuasi kuantum menentukan struktur galaksi yang akan muncul miliaran tahun kemudian. 3. Fluida Kosmik: "Arsy di Atas Air" Kalimat "Arsy-Nya di atas air" sering dikaitkan oleh para ilmuwan muslim dengan kondisi awal alam semesta. Fluida Primordial: Pada fase awal setelah Big Bang, alam semesta berada dalam bentuk Plasma yang berperilaku seperti fluida (zat alir/cair) dengan kepadatan dan suhu ekstrem. Hidrodinamika Kosmik: Dalam astrofisika, materi awal alam semesta sering dimodelkan menggunakan hukum-hukum hidrodinamika (ilmu air/zat cair). Penggambaran "air" secara metaforis dapat mewakili samudera energi atau materi dasar yang menjadi fondasi bagi struktur langit dan bumi yang diciptakan kemudian.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2653)

Astronomi

Membaca Perubahan Cahaya Langit sebagai Penanda Waktu

حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ الْمِسْمَعِيُّ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالاَ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ، - وَهُوَ ابْنُ هِشَامٍ - حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي أَيُّوبَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا صَلَّيْتُمُ الْفَجْرَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَطْلُعَ قَرْنُ الشَّمْسِ الأَوَّلُ ثُمَّ إِذَا صَلَّيْتُمُ الظُّهْرَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَحْضُرَ الْعَصْرُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعَصْرَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْمَغْرِبَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى أَنْ يَسْقُطَ الشَّفَقُ فَإِذَا صَلَّيْتُمُ الْعِشَاءَ فَإِنَّهُ وَقْتٌ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Ghassan Al-Misma'i dan Muhammad bin Al-Mutsanna, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz—yaitu Ibnu Hisyam—telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Abu Ayyub, dari 'Abdullah bin 'Amru, bahwasanya Nabi Allah SAW bersabda: 'Apabila kalian shalat fajar (Subuh), maka waktunya adalah hingga terbit tanduk matahari yang pertama. Kemudian apabila kalian shalat Dzuhur, maka waktunya adalah hingga datang waktu Ashar. Apabila kalian shalat Ashar, maka waktunya adalah hingga matahari menguning (menguning cahayanya). Apabila kalian shalat Maghrib, maka waktunya adalah hingga hilangnya syafaq (cahaya kemerahan di langit). Dan apabila kalian shalat Isya, maka waktunya adalah hingga tengah malam.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menetapkan jadwal waktu berdasarkan pengamatan benda langit dan perubahan sifat cahaya di atmosfer (fenomena optik). 1. Terbitnya "Tanduk Matahari" (Shoruq) Secara astronomi, ini merujuk pada Sunrise (Matahari terbit). - Refraksi Atmosfer: Cahaya pertama yang muncul sebelum piringan matahari terlihat sepenuhnya disebut "tanduk pertama". Secara fisika, karena adanya refraksi (pembiasan) cahaya oleh atmosfer bumi, kita sebenarnya melihat bayangan matahari sedikit lebih awal sebelum posisi fisiknya benar-benar melewati garis horison. 2. Matahari Menguning (Tashfarrul Syams) Fenomena ini terjadi pada akhir waktu Ashar menuju terbenamnya matahari. - Hamburan Rayleigh (Rayleigh Scattering): Saat matahari mendekati horison, sinar matahari harus menempuh jarak yang lebih jauh melalui atmosfer bumi. Partikel atmosfer menghamburkan cahaya biru (gelombang pendek) dan menyisakan cahaya kuning, oranye, dan merah (gelombang panjang). Secara fisika, "menguningnya" matahari menandakan peningkatan ketebalan atmosfer yang harus ditembus cahaya. 3. Hilangnya Syafaq (Twilight) Syafaq adalah cahaya kemerahan atau sisa terang setelah matahari terbenam. - Senja Astronomis: Secara sains, Syafaq adalah fenomena Twilight. Maghrib berakhir ketika matahari berada pada sudut tertentu di bawah horison (biasanya sekitar 17^0 hingga 18^0. Pada titik ini, atmosfer atas tidak lagi membiaskan cahaya matahari ke permukaan bumi, sehingga langit menjadi gelap total. 4. Definisi Tengah Malam (Nishful Lail) Dalam fisika waktu Islam, tengah malam bukan selalu pukul 00:00. - Perhitungan Durasi: Tengah malam dihitung sebagai titik tengah antara waktu Maghrib (matahari terbenam) dan waktu Subuh (fajar shadiq). Secara astronomis, ini adalah saat matahari berada pada titik terendahnya di bawah horison (Nadir) pada sisi bumi yang berlawanan.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 612)

Astronomi

Harmoni Ibadah dengan Perjalanan Matahari

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبٍ الْحَارِثِيُّ، حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، أَخْبَرَنِي سَيَّارُ بْنُ سَلاَمَةَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يَسْأَلُ أَبَا بَرْزَةَ، عَنْ صَلاَةِ، رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم - قَالَ - قُلْتُ آنْتَ سَمِعْتَهُ قَالَ فَقَالَ كَأَنَّمَا أَسْمَعُكَ السَّاعَةَ - قَالَ - سَمِعْتُ أَبِي يَسْأَلُهُ عَنْ صَلاَةِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ كَانَ لاَ يُبَالِي بَعْضَ تَأْخِيرِهَا - قَالَ يَعْنِي الْعِشَاءَ - إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ وَلاَ يُحِبُّ النَّوْمَ قَبْلَهَا وَلاَ الْحَدِيثَ بَعْدَهَا ‏.‏ قَالَ شُعْبَةُ ثُمَّ لَقِيتُهُ بَعْدُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ وَكَانَ يُصَلِّي الظُّهْرَ حِينَ تَزُولُ الشَّمْسُ وَالْعَصْرَ يَذْهَبُ الرَّجُلُ إِلَى أَقْصَى الْمَدِينَةِ وَالشَّمْسُ حَيَّةٌ - قَالَ - وَالْمَغْرِبَ لاَ أَدْرِي أَىَّ حِينٍ ذَكَرَ ‏.‏ قَالَ ثُمَّ لَقِيتُهُ بَعْدُ فَسَأَلْتُهُ فَقَالَ وَكَانَ يُصَلِّي الصُّبْحَ فَيَنْصَرِفُ الرَّجُلُ فَيَنْظُرُ إِلَى وَجْهِ جَلِيسِهِ الَّذِي يَعْرِفُ فَيَعْرِفُهُ ‏.‏ قَالَ وَكَانَ يَقْرَأُ فِيهَا بِالسِّتِّينَ إِلَى الْمِائَةِ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Habib Al-Haritsi, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al-Harits, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah mengabarkan kepadaku Sayyar bin Salamah, ia berkata: Aku mendengar ayahku bertanya kepada Abu Barzah tentang shalat Rasulullah ﷺ. Sayyar berkata: Aku bertanya (kepada ayahku), 'Apakah engkau benar-benar mendengarnya?' Ayahku menjawab, 'Seolah-olah aku mendengarmu saat ini.' Ayahku berkata: Aku mendengar (Abu Barzah) ditanya tentang shalat Rasulullah ﷺ, lalu ia menjawab: 'Beliau tidak keberatan mengakhirkan shalat Isya hingga pertengahan malam, beliau tidak menyukai tidur sebelum Isya dan tidak menyukai berbincang-bincang setelahnya.' > Syu'bah berkata: Kemudian aku menemui Sayyar lagi dan bertanya kepadanya, lalu ia menjawab: 'Beliau shalat Dzuhur saat matahari tergelincir (zawal), shalat Ashar di mana seseorang bisa pergi ke ujung kota Madinah sementara matahari masih terasa panas (sinarnya masih kuat), dan aku tidak tahu jam berapa beliau menyebutkan untuk Maghrib.' > Syu'bah berkata: Kemudian aku menemuinya lagi dan bertanya, lalu ia menjawab: 'Beliau shalat Subuh, kemudian seseorang berpaling (selesai shalat) lalu melihat wajah teman duduk yang dikenalnya, maka ia bisa mengenalinya. Dan beliau membaca 60 hingga 100 ayat (dalam shalat Subuh tersebut).'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini adalah panduan navigasi waktu yang sangat akurat berdasarkan posisi matahari di bola langit. 1. Fenomena Zawal (Shalat Dzuhur) Secara astronomi, Zawal adalah saat matahari melewati garis meridian (garis tengah langit). - Kulminasi: Ini adalah titik tertinggi matahari pada hari itu. Begitu matahari bergeser sedikit ke arah barat, bayangan benda akan mulai memanjang kembali setelah mencapai titik terpendeknya. Inilah penanda masuknya waktu Dzuhur. 2. Matahari yang "Hidup" (Shalat Ashar) Istilah "Matahari masih hidup" (Asy-Syamsu Hayyah) merujuk pada intensitas cahaya. - Ketinggian Matahari: Saat Ashar dimulai, matahari masih berada pada ketinggian yang cukup di atas cakrawala. Cahaya matahari belum mengalami banyak Hamburan Rayleigh, sehingga warnanya masih putih cemerlang dan suhunya masih terasa panas. Seseorang bisa melakukan perjalanan jauh sebelum matahari mencapai titik rendah yang kuning dan redup. 3. Ambang Cahaya Subuh (Twilight) Kondisi "mengenali wajah teman duduk" saat selesai shalat menunjukkan transisi cahaya. - Fajar Shadiq: Shalat dimulai saat fajar menyingsing. Karena bacaan Nabi ﷺ cukup panjang (60-100 ayat), maka waktu shalat memakan waktu sekitar 20-30 menit. - Civil Twilight: Saat selesai shalat, langit sudah masuk ke fase Civil Twilight (Fajar Sipil), di mana posisi matahari sekitar 6 derajat di bawah cakrawala. Pada kondisi ini, cahaya sudah cukup terang untuk mata manusia melakukan identifikasi visual terhadap objek atau wajah tanpa bantuan lampu. 4. Definisi Astronomis "Tengah Malam" Bagi astronomi Islam, "Tengah Malam" bukan sekadar jam 12 malam, melainkan titik tengah antara matahari terbenam (Maghrib) dan matahari terbit (Subuh). Hadis ini menunjukkan fleksibilitas waktu Isya yang bergantung pada panjang pendeknya malam di suatu musim.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 647)