Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Astronomi

Menentukan Waktu Berdasarkan Gerak Bulan

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ، - رضى الله عنهما - عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ ذَكَرَ رَمَضَانَ فَقَالَ ‏ "‏ لاَ تَصُومُوا حَتَّى تَرَوُا الْهِلاَلَ وَلاَ تُفْطِرُوا حَتَّى تَرَوْهُ فَإِنْ أُغْمِيَ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوا لَهُ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, ia berkata: Aku membacakan di hadapan Malik, dari Nafi', dari Ibnu Umar RA, dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau menyebutkan tentang bulan Ramadhan, lalu beliau bersabda: 'Janganlah kalian berpuasa hingga kalian melihat hilal, dan janganlah kalian berbuka (mengakhiri puasa) hingga kalian melihatnya. Jika awan menutupi penglihatan kalian (mendung), maka takdirkanlah (hitunglah) untuknya.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menetapkan standar observasi berbasis posisi benda langit yang sangat sesuai dengan kaidah Mekanika Langit. 1. Definisi Hilal dalam Astronomi Hilal adalah bagian terkecil dari bulan yang memantulkan sinar matahari sesaat setelah fase Konjungsi (Ijtima'). - Konjungsi: Secara astronomis, ini adalah saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari dalam garis bujur yang sama. Pada fase ini, Bulan tidak terlihat sama sekali. - Lag Time: Hilal baru bisa terlihat (rukyat) apabila telah terjadi jarak sudut (elongasi) yang cukup antara Bulan dan Matahari, serta Bulan berada di atas ufuk saat Matahari terbenam. 2. Faktor Penghambat Penglihatan (Ughmiya 'Alaikum) Kalimat "jika awan menutupi" merujuk pada kendala atmosfer dalam observasi astronomis: - Transparansi Atmosfer: Debu, kelembapan tinggi, dan awan dapat membiaskan cahaya hilal yang sangat tipis sehingga tidak tertangkap oleh mata manusia maupun teleskop. - Batas Visibilitas (Kriteria): Para astronom menggunakan parameter seperti ketinggian hilal (biasanya minimal 3^0) dan jarak sudut (6,4^0) untuk menentukan apakah hilal secara teknis mungkin untuk dilihat. 3. Konsep Faqduru Lahu (Hukum Perhitungan) Instruksi untuk "menakdirkan" atau "menghitung" memiliki kaitan erat dengan ilmu Falak/Komputasi: - Aritmatika Kalender: Jika secara visual (rukyat) hilal tidak terlihat karena mendung, maka dilakukan Istikmal (menggenapkan jumlah hari menjadi 30) atau menggunakan Hisab (perhitungan posisi geometris bulan). - Orbit Bulan: Bulan mengelilingi bumi dalam waktu sinodik rata-rata 29,53 hari. Oleh karena itu, bulan Hijriah hanya mungkin berjumlah 29 atau 30 hari. Hadis ini memberikan solusi matematis ketika observasi fisik gagal dilakukan.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 1080)

Astronomi

Gerhana sebagai Peristiwa Alam yang Teratur

وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، ح. وَحَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، - وَاللَّفْظُ لَهُ - قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يُصَلِّي فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ جِدًّا ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَأَطَالَ الْقِيَامَ جِدًّا وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ جِدًّا وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ قَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَامَ فَأَطَالَ الْقِيَامَ وَهُوَ دُونَ الْقِيَامِ الأَوَّلِ ثُمَّ رَكَعَ فَأَطَالَ الرُّكُوعَ وَهُوَ دُونَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ سَجَدَ ثُمَّ انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَقَدْ تَجَلَّتِ الشَّمْسُ فَخَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ ‏"‏ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَإِنَّهُمَا لاَ يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ إِنْ مِنْ أَحَدٍ أَغْيَرَ مِنَ اللَّهِ أَنْ يَزْنِيَ عَبْدُهُ أَوْ تَزْنِيَ أَمَتُهُ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ وَاللَّهِ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا وَلَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً أَلاَ هَلْ بَلَّغْتُ "‏ ‏.‏ وَفِي رِوَايَةِ مَالِكٍ ‏"‏ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, dari Malik bin Anas, dari Hisyam bin 'Urwah, dari ayahnya, dari Aisyah. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah—dan lafaz ini miliknya—ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair, telah menceritakan kepada kami Hisyam, dari ayahnya, dari Aisyah RA, ia berkata: Pernah terjadi gerhana matahari pada masa Rasulullah ﷺ. Beliau lalu berdiri melaksanakan shalat dan memperlama berdirinya dengan sangat lama. Kemudian beliau rukuk dan memperlama rukuknya dengan sangat lama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berdiri lagi dengan sangat lama, namun lebih singkat dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk lagi dengan sangat lama, namun lebih singkat dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau sujud. Setelah itu beliau berdiri lagi (untuk rakaat kedua) dan memperlama berdiri, namun lebih singkat dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan memperlama rukuk, namun lebih singkat dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau mengangkat kepalanya dan berdiri lagi dengan lama, namun lebih singkat dari berdiri yang pertama. Kemudian beliau rukuk dan memperlama rukuk, namun lebih singkat dari rukuk yang pertama. Kemudian beliau sujud. Setelah Rasulullah ﷺ selesai, matahari telah tampak kembali (gerhana berakhir). Beliau kemudian berkhutbah di hadapan orang banyak, memuji Allah dan menyanjung-Nya, lalu bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena lahirnya seseorang. Jika kalian melihat gerhana tersebut, maka bertakbirlah, berdoalah kepada Allah, shalatlah, dan bersedekahlah. Wahai umat Muhammad, demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah saat melihat hamba laki-laki atau perempuan-Nya berzina. Wahai umat Muhammad, demi Allah, andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Bukankah aku telah menyampaikan?'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan deskripsi observasional yang sangat akurat mengenai dinamika gerhana matahari serta durasi dan perubahan intensitas cahayanya, yang selaras dengan penjelasan astronomi modern. 1. Mekanika Orbit dan Durasi Fenomena Gerhana matahari terjadi ketika Bulan melintas di antara Bumi dan Matahari sehingga menutupi sebagian atau seluruh piringan Matahari. Secara astronomis, keseluruhan proses gerhana—dari kontak awal hingga akhir—dapat berlangsung sekitar 2 hingga 5 jam, tergantung pada lintasan dan kecepatan orbit Bulan. Tata cara shalat Rasulullah SAW yang sangat lama, dengan dua rukuk dalam satu rakaat dan bacaan yang panjang, selaras secara fisik dengan durasi transit Bulan yang menutupi piringan Matahari. Hal ini menunjukkan penyesuaian ibadah dengan fenomena alam yang sedang berlangsung hingga matahari kembali terang. 2. Perubahan Intensitas Cahaya (Luminositas) Pernyataan bahwa matahari “telah terang kembali” menggambarkan fase akhir gerhana, yaitu ketika piringan Bulan sepenuhnya meninggalkan piringan Matahari. Dalam astronomi, ini dikenal sebagai fase kontak terakhir. Perubahan dari kondisi redup menuju terang kembali merupakan fenomena optik nyata akibat kembalinya pancaran cahaya fotosfer Matahari ke permukaan Bumi. 3. Cahaya sebagai Fenomena Fisika (Bukan Mistis) Penegasan Nabi SAW bahwa matahari dan bulan adalah “tanda-tanda kebesaran Allah” yang tidak terkait dengan kematian atau kelahiran seseorang menempatkan keduanya sebagai objek fisik yang tunduk pada hukum alam. Cahaya matahari yang berkurang saat gerhana bukan karena matahari kehilangan energinya, melainkan karena terjadinya penghalangan cahaya oleh benda langit padat (Bulan) yang tidak memancarkan cahaya sendiri. Ini sejalan dengan prinsip dasar fisika cahaya dan konservasi energi.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 901)