Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Fisika

Angin sebagai Penjaga Keseimbangan Suhu Bumi

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ حَبِيبِ بْنِ الشَّهِيدِ الْبَصْرِيُّ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ، حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ، عَنْ ذَرٍّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ لاَ تَسُبُّوا الرِّيحَ فَإِذَا رَأَيْتُمْ مَا تَكْرَهُونَ فَقُولُوا اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ هَذِهِ الرِّيحِ وَخَيْرِ مَا فِيهَا وَخَيْرِ مَا أُمِرَتْ بِهِ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ هَذِهِ الرِّيحِ وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُمِرَتْ بِهِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ وَفِي الْبَابِ عَنْ عَائِشَةَ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَعُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِي وَأَنَسٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ وَجَابِرٍ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim bin Habib bin Asy-Syahid Al-Bashri, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhair, telah menceritakan kepada kami Al-A'masy, dari Habib bin Abi Tsabit, dari Dzarr, dari Sa'id bin 'Abdurrahman bin Abza, dari ayahnya, dari Ubay bin Ka'ab RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Janganlah kalian mencela angin. Apabila kalian melihat apa yang tidak kalian sukai (dari angin tersebut), maka berdoalah: Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu kebaikan angin ini, kebaikan apa yang ada di dalamnya, dan kebaikan apa yang diperintahkan kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari keburukan angin ini, keburukan apa yang ada di dalamnya, dan keburukan apa yang diperintahkan kepadanya.'" (HR. Tirmidzi. Ia berkata: Hadis ini Hasan Shahih).

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Secara fisika, angin bukan sekadar udara yang bergerak, melainkan mekanisme utama bumi dalam mendistribusikan energi dan menjaga keseimbangan planet. 1. Angin sebagai Penyeimbang Termal (Thermodynamics) Angin terjadi karena adanya Perbedaan Tekanan (Pressure Gradient Force) yang dipicu oleh perbedaan suhu antarwilayah. Udara bergerak dari area bertekanan tinggi (dingin) ke area bertekanan rendah (panas). - Fungsi Kebaikan: Tanpa angin, wilayah ekuator akan menjadi terlalu panas untuk dihuni, sementara kutub akan membeku secara ekstrem. Angin berfungsi sebagai sistem pendingin global yang memindahkan panas dari khatulistiwa ke wilayah yang lebih dingin. 2. Vektor Pembawa Materi (Aerosol & Moisture Transport) Kalimat "kebaikan yang ada di dalamnya" merujuk pada materi yang dibawa oleh angin. - Siklus Hidrologi: Angin adalah pengangkut uap air (awan) dari samudra ke daratan. Tanpa angin, hujan tidak akan mencapai pedalaman daratan, mengakibatkan kematian vegetasi. - Polinasi: Secara biologis, banyak tanaman bergantung pada angin untuk penyerbukan (anemofili). Angin membawa serbuk sari untuk keberlangsungan pangan manusia. 3. Energi Kinetik dan Potensi Kerusakan Kalimat "keburukan yang ada di dalamnya" berkaitan dengan energi kinetik besar yang bisa merusak. - Gaya Coriolis dan Badai: Ketika kecepatan angin meningkat (akibat gradien tekanan yang tajam), ia berubah menjadi badai atau puting beliung yang membawa energi kinetik penghancur. - Perintah Alam: Dalam fisika, angin bergerak mengikuti hukum-hukum alam yang pasti (seperti Hukum Buys Ballot). Larangan mencela angin adalah pengakuan bahwa angin hanyalah perantara yang menjalankan fungsi fisik sesuai parameter tekanan dan suhu global.

Sunan at-Tirmiżī (Hadits no. 2252)

Fisika

Kemampuan Alam Membersihkan Sumber Air Besar

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلاَّلُ، وَغَيْرُ، وَاحِدٍ، قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَتَوَضَّأُ مِنْ بِئْرِ بُضَاعَةَ وَهِيَ بِئْرٌ يُلْقَى فِيهَا الْحِيَضُ وَلُحُومُ الْكِلاَبِ وَالنَّتْنُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِنَّ الْمَاءَ طَهُورٌ لاَ يُنَجِّسُهُ شَيْءٌ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ ‏.‏ وَقَدْ جَوَّدَ أَبُو أُسَامَةَ هَذَا الْحَدِيثَ فَلَمْ يَرْوِ أَحَدٌ حَدِيثَ أَبِي سَعِيدٍ فِي بِئْرِ بُضَاعَةَ أَحْسَنَ مِمَّا رَوَى أَبُو أُسَامَةَ ‏.‏ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ ‏.‏ وَفِي الْبَابِ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَائِشَةَ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Hannad, Al-Hasan bin Ali Al-Khallal, dan lebih dari satu orang, mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Usamah, dari Al-Walid bin Katsir, dari Muhammad bin Ka'ab, dari Ubaidillah bin Abdullah bin Rafi' bin Khadij, dari Abu Sa'id Al-Khudri, ia berkata: Pernah ditanyakan: 'Wahai Rasulullah, apakah kami boleh berwudhu dari sumur Budha'ah? Padahal itu adalah sumur yang dilemparkan ke dalamnya kain bekas haid, daging anjing, dan benda-benda yang berbau busuk.' Maka Rasulullah SAW bersabda: 'Sesungguhnya air itu suci, tidak ada sesuatu pun yang menajiskannya.' Abu Isa (At-Tirmidzi) berkata: Ini adalah hadis hasan. Abu Usamah telah membaguskan periwayatan hadis ini, dan tidak ada seorang pun yang meriwayatkan hadis Abu Sa'id tentang sumur Budha'ah yang lebih baik daripada riwayat Abu Usamah. Hadis ini juga telah diriwayatkan dari berbagai jalur lain dari Abu Sa'id, dan dalam bab ini terdapat pula riwayat dari Ibnu Abbas dan Aisyah."

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan konsep fisika fluida dan dinamika pelarutan. Dalam fisika, kemampuan suatu zat cair untuk mempertahankan kemurniannya sangat bergantung pada volume massa dan debit aliran. Sumur Budha'ah, menurut catatan sejarah, merupakan sumber mata air yang sangat luas dan airnya mengalir (bukan genangan air yang dangkal). Berdasarkan hukum pengenceran (dilution principle), ketika kontaminan masuk ke dalam volume air yang sangat besar, energi kinetik molekul air dan pergerakan partikel di dalamnya akan menyebarkan polutan tersebut hingga konsentrasinya mencapai titik yang sangat rendah atau terabaikan secara makroskopis. Dalam fisika lingkungan, fenomena ini disebut sebagai kapasitas asimilasi, di mana air memiliki daya pulih mandiri (self-purification) selama beban pencemarnya tidak melampaui ambang batas kejenuhan. Rasulullah SAW menetapkan kesimpulan fisika yang praktis: selama zat asing tersebut tidak mampu mengubah sifat fisik air (indikator optik pada warna, atau vibrasi molekul pada bau dan rasa), maka secara substansial air tersebut tetap dominan dan terjaga kemurniannya. Analisis Utama: Hukum Massa dan Volume: Air dalam jumlah besar memiliki ketahanan terhadap kontaminasi karena rasio pelarut (solvent) jauh lebih tinggi daripada zat terlarut (solute). Entropi dan Difusi: Proses penyebaran partikel polutan dalam air yang luas secara alami akan menurunkan tingkat bahaya polutan tersebut melalui penyebaran molekuler secara merata. Indikator Fisik Dasar: Penentuan kesucian air dalam hadis ini selaras dengan pengecekan laboratorium awal terhadap kualitas air yang menggunakan pengamatan indrawi (fisik) sebagai standar keamanan.

Sunan at-Tirmiżī (Hadits no. 66)

Fisika

Menjaga Kesejukan Tubuh agar Ibadah Lebih Fokus

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا لَيْثٌ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، أَخ ْبَرَنَا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ ابْنِ الْمُسَيَّبِ، وَأَبِي، سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا اشْتَدَّ الْحَرُّ فَأَبْرِدُوا بِالصَّلاَةِ فَإِنَّ شِدَّةَ الْحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَهَنَّمَ ‏"

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Laits. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh, telah mengabarkan kepada kami Al-Laits, dari Ibnu Syihab, dari Ibnu Al-Musayyab dan Abu Salamah bin 'Abdurrahman, dari Abu Hurairah RA, bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Apabila cuaca sangat panas, maka tunggulah hingga suhu menjadi lebih dingin untuk mengerjakan shalat, karena sesungguhnya panas yang menyengat itu berasal dari hembusan api Neraka Jahannam.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan panduan praktis yang sangat selaras dengan prinsip-prinsip fisika mengenai bagaimana lingkungan ekstrem memengaruhi sistem biologis manusia. 1. Perpindahan Panas dan Lingkungan (Heat Transfer) Saat tengah hari (waktu Dzuhur), matahari berada pada posisi kulminasi atau mendekati titik Zenit. Hal ini menyebabkan intensitas radiasi matahari mencapai puncaknya. Radiasi dan Konveksi: Tubuh manusia menerima beban panas dari radiasi langsung matahari serta konveksi udara panas di sekitarnya. Faiha' (Hembusan): Secara fisik, suhu yang sangat tinggi di permukaan bumi merupakan hasil dari pelepasan energi panas yang masif. Penundaan shalat hingga suhu lebih dingin (Ibrad) memungkinkan terjadinya pelepasan kalor dari permukaan bumi ke atmosfer (pendinginan permukaan), sehingga lingkungan menjadi lebih stabil secara termal. 2. Termoregulasi dan Homeostasis Tubuh manusia memiliki sistem pengaturan suhu internal (Homeostasis). Ketika suhu lingkungan naik secara ekstrem: Beban Metabolik: Tubuh harus mengalihkan banyak energi untuk mendinginkan diri melalui proses penguapan keringat (evaporative cooling). Konduktivitas Saraf: Suhu tinggi yang berlebihan dapat mengganggu transmisi sinyal saraf dan menyebabkan kelelahan kognitif. Dalam kondisi ini, kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi (khusyuk) menurun drastis karena otak lebih fokus pada mekanisme bertahan hidup dari panas (heat stress). 3. Optimalisasi Fokus dalam Fisika Sistem Dalam fisika sistem, sebuah proses akan berjalan paling efisien ketika gangguan eksternal berada pada tingkat minimum. Dengan melakukan Ibrad (menunggu dingin), kita secara aktif menurunkan "gangguan" berupa energi termal berlebih dari lingkungan. Hal ini memungkinkan sistem pusat (otak/hati) untuk bekerja lebih tenang tanpa harus bersaing dengan stres fisik akibat panas matahari.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 615)

Fisika

Memisahkan Kontaminasi pada Benda Padat

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ مَيْمُونَةَ ـ رضى الله عنهم ـ قَالَتْ سُئِلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم عَنْ فَأْرَةٍ سَقَطَتْ فِي سَمْنٍ فَقَالَ ‏ "‏ أَلْقُوهَا وَمَا حَوْلَهَا وَكُلُوهُ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin 'Abdullah, telah menceritakan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah, dari Ibnu 'Abbas, dari Maimunah RA (istri Nabi ﷺ), ia berkata: Nabi ﷺ ditanya mengenai seekor tikus yang jatuh ke dalam samin (lemak/mentega cair yang memadat). Beliau bersabda: 'Buanglah tikus itu dan bagian (samin) yang ada di sekitarnya, lalu makanlah sisa samin kalian.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menunjukkan prinsip luar biasa mengenai sifat fisik benda padat dan cair dalam menghambat penyebaran bakteri atau zat najis. 1. Sifat Fisika Zat: Padat vs Cair Dalam riwayat lain yang memperjelas hadis ini, dibedakan antara samin yang padat dan cair. - Zat Padat/Semi-Padat: Pada samin yang memadat (seperti mentega dingin), jarak antar molekul sangat rapat dan gaya kohesi sangat kuat. Hal ini menyebabkan laju difusi (perpindahan zat) sangat lambat. Ketika bangkai tikus jatuh, kontaminasi mikroba hanya terjadi pada area yang bersentuhan langsung dengan bangkai tersebut. - Zat Cair: Jika samin dalam bentuk minyak cair, molekul bergerak bebas. Kontaminan (bakteri dari bangkai) akan menyebar ke seluruh volume minyak melalui arus konveksi dan difusi cepat, sehingga seluruh minyak menjadi tidak layak konsumsi. 2. Mikrobiologi dan Keamanan Pangan Perintah "buanglah bagian di sekitarnya" adalah tindakan Sanitasi Preventif. - Zona Kontaminasi: Cairan tubuh dari bangkai tikus mengandung bakteri patogen (seperti Salmonella atau Leptospira). Karena samin bersifat lemak (lipid), bakteri tersebut cenderung terperangkap di area lemak yang membeku di sekitar bangkai. - Efisiensi Pembersihan: Dengan membuang area sekitarnya (radius tertentu), kita secara fisik menghilangkan koloni mikroba yang mungkin telah bermigrasi, sementara bagian samin yang lebih jauh tetap steril karena sifat lemak padat yang bertindak sebagai penghalang mekanis. 3. Konservasi Sumber Daya Secara ekonomi dan lingkungan, hadis ini mengajarkan untuk tidak membuang seluruh sumber daya jika kerusakan hanya bersifat lokal. Ini adalah prinsip Efisiensi Material dalam sains pangan: memisahkan bagian yang terkontaminasi tanpa merusak keseluruhan produk.

Sahih al-Bukhari No. 5540