Psikologi
Transparansi untuk Mencegah Salah Paham
حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُعْتَكِفًا، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي. وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَسْرَعَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم " عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ". فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ " إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا ـ أَوْ قَالَ ـ شَيْئًا ".
"Telah menceritakan kepadaku Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari 'Ali bin Husain, dari Shafiyyah binti Huyay RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ sedang beri'tikaf, lalu aku datang mengunjungi beliau pada malam hari. Aku berbincang dengan beliau, kemudian aku berdiri untuk pulang, dan beliau pun ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Shafiyyah saat itu berada di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba dua orang laki-laki dari kaum Anshar lewat. Ketika mereka melihat Nabi ﷺ, mereka mempercepat langkah kaki mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Tenanglah, sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyay.' > Keduanya berkata: 'Subhanallah, wahai Rasulullah!' (mereka tidak mungkin berburuk sangka). Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia melalui aliran darah. Dan aku khawatir ia membisikkan keburukan—atau sesuatu—ke dalam hati kalian berdua.'" (HR. Bukhari & Muslim)
Fakta Sains
Ringkasan penjelasan
Hadis ini mengandung prinsip komunikasi yang krusial untuk mencegah distorsi informasi di otak manusia. 1. Psikologi Kognitif: Teori Atribusi dan Bias Konfirmasi Secara psikologis, otak manusia cenderung melakukan Atribusi, yaitu proses menyimpulkan penyebab di balik perilaku orang lain. Persepsi Visual yang Cepat: Dua orang Anshar tersebut mempercepat langkah karena merasa canggung melihat Nabi ﷺ bersama seorang wanita di kegelapan malam. Tanpa klarifikasi, otak dapat menciptakan "skenario palsu" (bias) untuk mengisi ketidakpastian informasi. Klarifikasi Instan: Nabi ﷺ melakukan teknik "Pre-empting", yaitu memberikan informasi benar sebelum otak audiens membangun kesimpulan yang salah. Secara teknologi komunikasi, ini adalah cara paling efektif untuk menjaga integritas data informasi. 2. Fisiologi: Sistem Sirkulasi Darah (Circulatory System) Perumpamaan "mengalir seperti aliran darah" memiliki kedalaman ilmiah yang luar biasa jika dikaitkan dengan emosi manusia: Hormon dan Aliran Darah: Emosi (seperti rasa takut, curiga, atau marah) dipicu oleh hormon seperti Adrenalin dan Kortisol yang dilepaskan ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini bergerak sangat cepat ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh darah, memengaruhi detak jantung dan cara berpikir seseorang. Sirkulasi Sistemik: Darah manusia menempuh seluruh jaringan tubuh dalam waktu yang sangat singkat. Metafora ini menggambarkan betapa cepatnya sebuah "bisikan" atau pikiran negatif menyebar dan memengaruhi seluruh kondisi psikis dan fisik seseorang jika tidak segera dikendalikan. 3. Teknologi Sosial: Transparansi Informasi Dalam dunia Keamanan Informasi dan manajemen reputasi, hadis ini mengajarkan pentingnya Transparansi. Ketidakjelasan informasi (seperti melihat sosok wanita di kegelapan) adalah celah keamanan (vulnerability) yang bisa dieksploitasi oleh "gangguan" (setan/hoaks). Nabi ﷺ menutup celah tersebut dengan verifikasi data yang jujur.
Sahih al-Bukhari No. 3281