Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Psikologi

Transparansi untuk Mencegah Salah Paham

حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلاَنَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ، عَنْ صَفِيَّةَ ابْنَةِ حُيَىٍّ، قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم مُعْتَكِفًا، فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلاً فَحَدَّثْتُهُ ثُمَّ قُمْتُ، فَانْقَلَبْتُ فَقَامَ مَعِي لِيَقْلِبَنِي‏.‏ وَكَانَ مَسْكَنُهَا فِي دَارِ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، فَمَرَّ رَجُلاَنِ مِنَ الأَنْصَارِ، فَلَمَّا رَأَيَا النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَسْرَعَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ عَلَى رِسْلِكُمَا إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَىٍّ ‏"‏‏.‏ فَقَالاَ سُبْحَانَ اللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ‏.‏ قَالَ ‏"‏ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنَ الإِنْسَانِ مَجْرَى الدَّمِ، وَإِنِّي خَشِيتُ أَنْ يَقْذِفَ فِي قُلُوبِكُمَا سُوءًا ـ أَوْ قَالَ ـ شَيْئًا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepadaku Mahmud bin Ghailan, telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, dari Az-Zuhri, dari 'Ali bin Husain, dari Shafiyyah binti Huyay RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ sedang beri'tikaf, lalu aku datang mengunjungi beliau pada malam hari. Aku berbincang dengan beliau, kemudian aku berdiri untuk pulang, dan beliau pun ikut berdiri untuk mengantarku. Tempat tinggal Shafiyyah saat itu berada di rumah Usamah bin Zaid. Tiba-tiba dua orang laki-laki dari kaum Anshar lewat. Ketika mereka melihat Nabi ﷺ, mereka mempercepat langkah kaki mereka. Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Tenanglah, sesungguhnya dia adalah Shafiyyah binti Huyay.' > Keduanya berkata: 'Subhanallah, wahai Rasulullah!' (mereka tidak mungkin berburuk sangka). Beliau bersabda: 'Sesungguhnya setan itu mengalir dalam diri manusia melalui aliran darah. Dan aku khawatir ia membisikkan keburukan—atau sesuatu—ke dalam hati kalian berdua.'" (HR. Bukhari & Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mengandung prinsip komunikasi yang krusial untuk mencegah distorsi informasi di otak manusia. 1. Psikologi Kognitif: Teori Atribusi dan Bias Konfirmasi Secara psikologis, otak manusia cenderung melakukan Atribusi, yaitu proses menyimpulkan penyebab di balik perilaku orang lain. Persepsi Visual yang Cepat: Dua orang Anshar tersebut mempercepat langkah karena merasa canggung melihat Nabi ﷺ bersama seorang wanita di kegelapan malam. Tanpa klarifikasi, otak dapat menciptakan "skenario palsu" (bias) untuk mengisi ketidakpastian informasi. Klarifikasi Instan: Nabi ﷺ melakukan teknik "Pre-empting", yaitu memberikan informasi benar sebelum otak audiens membangun kesimpulan yang salah. Secara teknologi komunikasi, ini adalah cara paling efektif untuk menjaga integritas data informasi. 2. Fisiologi: Sistem Sirkulasi Darah (Circulatory System) Perumpamaan "mengalir seperti aliran darah" memiliki kedalaman ilmiah yang luar biasa jika dikaitkan dengan emosi manusia: Hormon dan Aliran Darah: Emosi (seperti rasa takut, curiga, atau marah) dipicu oleh hormon seperti Adrenalin dan Kortisol yang dilepaskan ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini bergerak sangat cepat ke seluruh organ tubuh melalui pembuluh darah, memengaruhi detak jantung dan cara berpikir seseorang. Sirkulasi Sistemik: Darah manusia menempuh seluruh jaringan tubuh dalam waktu yang sangat singkat. Metafora ini menggambarkan betapa cepatnya sebuah "bisikan" atau pikiran negatif menyebar dan memengaruhi seluruh kondisi psikis dan fisik seseorang jika tidak segera dikendalikan. 3. Teknologi Sosial: Transparansi Informasi Dalam dunia Keamanan Informasi dan manajemen reputasi, hadis ini mengajarkan pentingnya Transparansi. Ketidakjelasan informasi (seperti melihat sosok wanita di kegelapan) adalah celah keamanan (vulnerability) yang bisa dieksploitasi oleh "gangguan" (setan/hoaks). Nabi ﷺ menutup celah tersebut dengan verifikasi data yang jujur.

Sahih al-Bukhari No. 3281

Psikologi

Kekuatan Kata-Kata dalam Menjaga Imun Tubuh

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ لاَ عَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ ‏"‏‏.‏ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ ‏"‏ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata: Aku mendengar Qatadah, dari Anas bin Malik RA, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (merasa sial karena tanda-tanda alam), dan aku menyukai al-fa'l.' Para sahabat bertanya: 'Apa itu al-fa'l?' Beliau menjawab: 'Kalimat yang baik.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini meletakkan keseimbangan antara fakta biologis dan kesehatan mental. 1. Epidemiologi: Melawan Mitos Penularan Otomatis Istilah "Laa 'adwa" (tidak ada penularan) bukan berarti menafikan keberadaan kuman, melainkan mengoreksi keyakinan kuno bahwa penyakit menular memiliki "kehendak sendiri" atau kekuatan gaib yang tak terelakkan. Kausatif vs Deterministik: Secara medis, penularan penyakit adalah proses probabilistik (kemungkinan). Keberadaan bakteri tidak otomatis membuat semua orang sakit; hal itu bergantung pada daya tahan tubuh (imunitas), jumlah kuman (viral load), dan izin Sang Pencipta. Memutus Rantai Ketakutan: Dengan memahami ini, masyarakat tidak lagi panik secara berlebihan (parno) namun tetap waspada melalui protokol kesehatan. 2. Psikologi Kognitif: The Power of Optimism (Al-Fa'l) Nabi ﷺ menekankan pentingnya "Al-Fa'l" (optimisme/kata-kata baik). Dalam sains modern, ini berkaitan erat dengan: Efek Plasebo: Pikiran yang positif dan penuh harapan dapat memicu otak untuk melepaskan hormon Endorfin dan Dopamin. Hormon-hormon ini dikenal dapat meningkatkan respon sistem imun tubuh. Neuroplastisitas: Kata-kata baik (Kalimat thayyibah) yang diucapkan berulang kali membantu membentuk jalur saraf baru yang lebih sehat di otak, sehingga seseorang memiliki daya tahan mental (resilience) yang lebih kuat saat menghadapi penyakit atau kesulitan. 3. Psikologi Sosial: Melawan Confirmation Bias (Thiyarah) Thiyarah adalah kecenderungan menghubungkan kejadian buruk dengan tanda alam yang tidak relevan (misal: melihat burung tertentu lalu merasa sial). Bias Kognitif: Secara sains, ini adalah bentuk Bias Konfirmasi, di mana manusia hanya fokus pada hal buruk untuk membenarkan ketakutannya. Nabi ﷺ melarang ini karena dapat merusak kesehatan mental dan menghentikan produktivitas manusia.

Sahih al-Bukhari No. 5776

Psikologi

Menjaga Ketenangan di Sekitar Orang Sakit

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَجَعُهُ قَالَ ‏"‏ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ ‏"‏‏.‏ قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ‏.‏ قَالَ ‏"‏ قُومُوا عَنِّي، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ ‏"‏‏.‏ فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَبَيْنَ كِتَابِهِ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah, dari Ibnu 'Abbas RA, ia berkata: Ketika rasa sakit Nabi ﷺ semakin parah, beliau bersabda: 'Bawakanlah kepadaku alat tulis, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah kitab (catatan) agar kalian tidak tersesat setelahnya.' Umar berkata: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ sedang didera rasa sakit yang amat sangat, dan di sisi kita sudah ada Kitabullah (Al-Qur'an) yang cukup bagi kita.' Maka orang-orang di sana pun berselisih dan kegaduhan semakin meningkat. Beliau bersabda: 'Berdirilah (pergilah) dariku, tidak pantas ada pertikaian di hadapanku.' Ibnu Abbas keluar sambil berkata: 'Sungguh malapetaka yang benar-benar malapetaka adalah apa yang menghalangi antara Rasulullah ﷺ dan tulisan beliau (pesan terakhirnya).'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Dari sudut pandang medis dan psikologi, peristiwa ini memberikan gambaran tentang manajemen situasi saat menghadapi pasien dalam kondisi terminal (menjelang wafat). 1. Patofisiologi Rasa Sakit dan Kesadaran (Kognisi) Kalimat "ghalabahul waja'" (rasa sakit yang menguasai beliau) menunjukkan kondisi fisik yang sangat berat. Respon Nyeri: Secara medis, nyeri yang sangat hebat dapat memicu pelepasan sitokin dan perubahan neurokimia yang sangat melelahkan tubuh. Namun, permintaan Nabi ﷺ untuk menulis menunjukkan bahwa fungsi eksekutif kognitif beliau (kemampuan merencanakan dan memberikan instruksi) masih bekerja, meskipun secara fisik beliau sangat lemah. Dilema Medis: Dalam kedokteran modern, ada tantangan saat pasien kritis ingin membuat keputusan penting (Informed Consent). Umar bin Khattab, dari sudut pandang pragmatis, melihat beban fisik Nabi ﷺ dan tidak ingin menambah penderitaan beliau dengan aktivitas menulis yang berat. 2. Psikologi Komunikasi: Manajemen Krisis Terjadinya "katsural laghath" (banyak kegaduhan) di ruang perawatan adalah sesuatu yang sangat dihindari dalam protokol kesehatan modern. Ketenangan Pasien (Healing Environment): Kegaduhan di sekitar pasien yang sedang kritis dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan stres emosional. Perintah Nabi ﷺ "Qumu 'anni" (pergilah dariku) adalah tindakan medis-psikologis yang tepat untuk memulihkan ketenangan lingkungan (environment control). 3. Teknologi Informasi: Dokumentasi Terakhir Keinginan Nabi ﷺ untuk menuliskan pesan agar umat tidak tersesat adalah prinsip Preservasi Informasi. Redundansi Data: Beliau ingin memastikan bahwa pesan penting memiliki bentuk fisik (tulisan) selain dari pesan lisan. Dalam teori informasi, dokumentasi tertulis berfungsi sebagai hardcopy yang mengurangi risiko distorsi informasi (noise) di masa depan.

Sahih al-Bukhari No. 114

Psikologi

Kekuatan Lingkungan untuk Perubahan Diri

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الْمُثَنَّى - قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ ‏.‏ فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ ‏.‏ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ ‏.‏ وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ ‏.‏ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ ‏.‏ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar—lafaz dari Al-Mutsanna—ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Abu Ash-Shiddiq, dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Ia lalu bertanya tentang orang yang paling alim (pintar) di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah). Ia mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya? Rahib itu menjawab: "Tidak ada." Maka ia pun membunuh rahib tersebut sehingga lengkaplah 100 jiwa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ditunjukkan kepada seorang ilmuwan/alim. Ia berkata bahwa ia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Ilmuwan itu menjawab: "Ya, siapa yang dapat menghalangi antara dirimu dengan taubat? Pergilah ke negeri sana, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah, maka sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke negerimu, karena negerimu adalah tempat yang buruk." Ia pun berangkat, hingga ketika sampai di tengah jalan, kematian menjemputnya. Maka berselisihlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat berkata: "Ia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah." Malaikat Azab berkata: "Ia belum pernah berbuat baik sedikit pun." Lalu datanglah malaikat dalam wujud manusia, mereka menjadikannya penengah. Ia berkata: "Ukurlah jarak antara dua tempat tersebut (tempat asal dan tempat tujuan), ke arah mana ia lebih dekat, maka ia milik tempat itu." Mereka pun mengukurnya dan mendapatinya lebih dekat ke tanah yang ia tuju, maka Malaikat Rahmat pun mengambil nyawanya.' Qatadah berkata: Hasan Al-Bashri menyebutkan kepada kami, bahwa saat kematian menjemputnya, ia (pria itu) menyeret dadanya (agar lebih dekat ke arah negeri tujuan)." (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Psikologi Lingkungan (Environmental Psychology) Ilmuwan dalam hadis ini memberikan saran medis-psikologis yang sangat tepat: "Jangan kembali ke negerimu, karena itu adalah tempat yang buruk." Trigger Emosi: Dalam psikologi perilaku, lingkungan lama seringkali penuh dengan "cue" atau pemicu (teman yang toksik, memori kekerasan, tekanan sosial) yang dapat memicu perilaku kriminal berulang (relapse). Modifikasi Perilaku: Untuk berubah secara total, seseorang membutuhkan "Enviromental Reset". Berada di lingkungan baru yang positif akan membentuk kebiasaan baru (habituasi) dan mendukung kesehatan mental. 2. Matematika: Geometri dan Teori Pengukuran Solusi yang diberikan malaikat penengah adalah solusi Kuantitatif. Pengukuran Jarak: Menggunakan pengukuran fisik untuk menyelesaikan sengketa kualitatif (apakah dia baik atau buruk). Ini adalah prinsip dasar Statistik dan Data: ketika ada perdebatan persepsi, kembalilah ke data yang bisa diukur. Vektor Kemauan: Tindakan pria tersebut "menyeret dadanya" menunjukkan adanya usaha fisik terakhir untuk mengubah koordinat posisinya. Dalam fisika, setiap milimeter perubahan posisi adalah hasil dari energi dan niat yang nyata. 3. Diferensiasi Ahli Ibadah vs Ilmuwan (Sains) Hadis ini membedakan antara orang yang hanya beribadah (Rahib) dengan orang yang berilmu (Alim). Pendekatan Kaku vs Solutif: Rahib menjawab secara emosional dan tanpa dasar ilmu sehingga memicu kriminalitas baru. Ilmuwan menjawab berbasis solusi dan pemahaman tentang sifat manusia, yang akhirnya menyelamatkan nyawa (dan jiwa) orang tersebut. Ini menekankan bahwa Sains/Ilmu sangat krusial dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan yang kompleks.

Sahih Muslim No. 2766a

Psikologi

Memilih Jalur Keselamatan di Tengah Bahaya

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ، الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أَهْلُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ ادْعُ لِيَ الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لأَمْرٍ وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِيَ الأَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيلَ الْمُهَاجِرِينَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلاَفِهِمْ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلاَ تُقْدِمْهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ إِنِّي مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ ‏.‏ فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ فَقَالَ عُمَرُ لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ - وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ - نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عِدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ثُمَّ انْصَرَفَ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, ia berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Ibnu Syihab, dari 'Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab, dari 'Abdullah bin 'Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Abdullah bin Abbas RA: Bahwasanya Umar bin Al-Khattab berangkat menuju Syam. Ketika sampai di daerah Sargh, beliau bertemu dengan para panglima pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan kawan-kawannya. Mereka mengabarkan bahwa wabah penyakit (Tha'un) sedang melanda wilayah Syam. Ibnu Abbas berkata: Umar berkata kepadaku, 'Panggillah kaum Muhajirin awal!' Aku pun memanggil mereka. Umar bermusyawarah dengan mereka dan memberitahu bahwa wabah sedang terjadi di Syam. Mereka berselisih pendapat; sebagian berkata, 'Engkau keluar untuk suatu urusan, kami rasa engkau tidak perlu pulang.' Sebagian lain berkata, 'Bersamamu ada sisa manusia dan para sahabat Rasulullah ﷺ, kami tidak setuju jika engkau membawa mereka menuju wabah ini.' Umar berkata, 'Pergilah kalian dariku.' Kemudian Umar berkata, 'Panggillah kaum Anshar!' Aku memanggil mereka dan Umar bermusyawarah, namun mereka berselisih seperti kaum Muhajirin. Umar berkata, 'Pergilah kalian dariku.' Lalu Umar berkata, 'Panggillah para tetua Quraisy yang ikut hijrah saat Fathul Makkah!' Aku memanggil mereka, dan ternyata tidak ada dua orang pun yang berselisih. Mereka berkata, 'Kami berpendapat sebaiknya engkau pulang bersama orang-orang dan jangan membawa mereka menuju wabah ini.' Maka Umar menyeru kepada orang-orang, 'Besok pagi aku akan berada di atas punggung unta (pulang), maka bersiaplah!' Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bertanya, 'Apakah engkau lari dari takdir Allah?' Umar menjawab, 'Seandainya orang lain yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah! Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta yang menuruni lembah dengan dua sisi; yang satu subur dan yang lain tandus. Bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat subur, itu karena takdir Allah, dan jika di tempat tandus juga karena takdir Allah?' Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya absen karena suatu keperluan. Ia berkata, 'Aku punya ilmu tentang ini, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian mendengar wabah di suatu negeri, janganlah mendatanginya. Dan jika terjadi di negeri tempat kalian berada, janganlah keluar darinya karena lari darinya."' Mendengar itu, Umar bin Al-Khattab memuji Allah lalu pergi pulang." (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Manajemen Risiko (Risk Assessment) Umar bin Khattab melakukan proses pengambilan keputusan yang sangat sistematis (mirip dengan metode Delphi dalam manajemen modern): Konsultasi Berlapis: Beliau mengumpulkan berbagai kelompok ahli (Muhajirin, Anshar, dan Praktisi/Tetua). Prinsip Kehati-hatian (Precautionary Principle): Dalam sains, jika ada risiko besar yang belum pasti namun berpotensi mematikan, pilihan terbaik adalah menghindari risiko tersebut daripada menerjangnya. 2. Logika Probabilitas dan Pilihan (Takdir vs Usaha) Dialog antara Umar dan Abu Ubaidah adalah perdebatan Filsafat Sains yang sangat mendalam: Sistem Deterministik vs Stokastik: Abu Ubaidah melihat takdir sebagai satu garis lurus yang tidak bisa dihindari (deterministik). Umar menjelaskan bahwa hidup adalah rangkaian probabilitas (pilihan antara kondisi subur atau tandus). Hukum Sebab-Akibat (Kausalitas): Memilih tempat subur menghasilkan unta gemuk, memilih tempat wabah menghasilkan penyakit. Keduanya adalah ketetapan Allah, namun manusia diberi alat (akal) untuk memilih jalur kausalitas yang paling maslahat. 3. Validasi Data Ilmiah Keputusan Umar yang awalnya didasarkan pada logika dan musyawarah, akhirnya divalidasi oleh "data" (hadis yang dibawa Abdurrahman bin Auf). Integrasi Pengetahuan: Ini menunjukkan bahwa kebijakan publik yang baik adalah gabungan dari analisis logika (ijtihad) dan bukti empiris/wahyu (data).

Sahih Muslim No. 2219a

Psikologi

Rahasia Konsistensi Tanpa Kelelahan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ ‏"‏ مَنْ هَذِهِ ‏"‏‏.‏ قَالَتْ فُلاَنَةُ‏.‏ تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا‏.‏ قَالَ ‏"‏ مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا ‏"‏‏.‏ وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hisyam, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ayahku, dari Aisyah RA: Bahwasanya Nabi ﷺ masuk ke rumahnya dan di saat itu ada seorang wanita. Beliau bertanya: 'Siapa ini?' Aisyah menjawab: 'Ini si fulanah,' lalu Aisyah menceritakan betapa hebatnya shalat wanita itu. Beliau bersabda: 'Cukup, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan.' Dan amalan agama yang paling beliau cintai adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) oleh pelakunya." (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan panduan yang sangat akurat secara psikologis mengenai cara otak manusia memproses beban kerja dan kebiasaan. 1. Psikologi: Pencegahan Burnout Istilah "Beramallah sesuai kemampuan" adalah prinsip dasar pencegahan Burnout (kelelahan mental dan fisik yang ekstrem). Beban Kognitif: Jika seseorang memaksa melakukan aktivitas di luar batas kemampuannya secara mendadak (seperti wanita dalam hadis yang shalat terus-menerus), otak akan mengalami stres tinggi. Efek Kebosanan (Fatigue): Kata "sampai kalian bosan" dalam sains merujuk pada kelelahan sistem saraf. Ketika tubuh dipaksa melampaui batas, mekanisme pertahanan otak akan memicu rasa jenuh dan enggan sebagai sinyal untuk berhenti. Jika ini terjadi, seseorang justru akan berhenti total dari aktivitas tersebut. 2. Neuroplastisitas: Kekuatan Konsistensi (Dawaam) Pernyataan bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang "terus-menerus" berkaitan erat dengan pembentukan jalur saraf di otak. Pembentukan Habit (Kebiasaan): Untuk mengubah suatu tindakan menjadi kebiasaan otomatis, otak membutuhkan pengulangan yang stabil, bukan intensitas tinggi yang hanya sesekali. Mielinisasi: Aktivitas yang dilakukan secara konsisten (meskipun kecil) memperkuat lapisan Mielin pada sel saraf. Semakin sering dilakukan, semakin sedikit energi yang dibutuhkan otak untuk melakukan tindakan tersebut, sehingga amalan menjadi ringan dan langgeng. 3. Biologi: Manajemen Energi dan Homeostasis Tubuh manusia bekerja berdasarkan prinsip Homeostasis (keseimbangan). Ritme Sirkadian: Memaksakan ibadah/pekerjaan tanpa henti mengganggu ritme biologis tubuh. Nabi ﷺ menekankan agar aktivitas dilakukan dengan porsi yang bisa diterima oleh metabolisme tubuh agar kesehatan jangka panjang tetap terjaga.

Sahih al-Bukhari No. 43