Psikologi
Kekuatan Mental dalam Menghadapi Wabah
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي " أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ ".
"Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abil Furat, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya'mar, dari Aisyah RA, istri Nabi ﷺ, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Tha'un (wabah penyakit), lalu beliau mengabarkan kepadaku: 'Bahwasanya wabah itu adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang sedang terjangkit wabah lalu ia menetap di negerinya dengan sabar dan berharap pahala (muhtasib), ia menyadari bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, melainkan ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.'" (HR. Bukhari)
Fakta Sains
Ringkasan penjelasan
Hadis ini menekankan pada sikap mental: Sabar, Mengharap Pahala (Muhtasib), dan Ketenangan Pikiran. Dalam sains modern, sikap ini sangat krusial dalam menentukan tingkat kesembuhan. 1. Psikoneuroimunologi (Hubungan Pikiran dan Imunitas) Bidang sains ini mempelajari bagaimana kondisi psikologis memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Ketenangan vs Kortisol: Seseorang yang panik atau stres berat saat wabah akan memproduksi hormon Kortisol yang tinggi. Kortisol yang berlebihan dikenal sebagai pembunuh sel imun (khususnya sel T dan sel pembunuh alami/NK Cells). Resiliensi Mental: Sikap "sabar dan menyadari ketetapan" yang disebutkan dalam hadis membantu menurunkan tingkat kecemasan (anxiety). Hal ini menjaga sistem imun tetap pada performa maksimal untuk melawan infeksi. 2. Pencegahan Mass Hysteria (Histeria Massa) Secara sosiologi kesehatan, instruksi untuk "menetap di negerinya dengan sabar" mencegah terjadinya pelarian massal. Stabilitas Sosial: Jika semua orang panik dan lari (eksodus), hal ini tidak hanya menyebarkan virus ke wilayah baru, tetapi juga meruntuhkan sistem logistik dan medis di wilayah asal. Kepatuhan Protokol: Sikap sabar dan tenang memudahkan tenaga medis untuk melakukan penanganan secara teratur (mitigasi krisis). 3. Konsep "Kematian Syahid" dalam Konteks Medis Pemberian status pahala syahid bagi yang menetap menunjukkan apresiasi tertinggi terhadap mereka yang bersedia mengisolasi diri demi melindungi orang lain. Dalam epidemiologi, ini disebut sebagai tindakan altruisme heroik yang memutus mata rantai pandemi.
Sahih al-Bukhari No. 3474