Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Medis

Reaksi Tubuh Saat Marah dan Cara Meredakannya

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ، عَنْ أَبِي حَمْزَةَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ ثَابِتٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ صُرَدٍ، قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَرَجُلاَنِ يَسْتَبَّانِ، فَأَحَدُهُمَا احْمَرَّ وَجْهُهُ وَانْتَفَخَتْ أَوْدَاجُهُ، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ إِنِّي لأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ، لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ‏.‏ ذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ ‏"‏‏.‏ فَقَالُوا لَهُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ تَعَوَّذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ ‏"‏‏.‏ فَقَالَ وَهَلْ بِي جُنُونٌ

"Telah menceritakan kepada kami 'Abdan, dari Abu Hamzah, dari Al-A'masy, dari 'Adi bin Tsabit, dari Sulaiman bin Shurad RA, ia berkata: Aku pernah duduk bersama Nabi ﷺ sementara ada dua orang lelaki yang saling mencaci. Salah seorang dari mereka telah merah wajahnya dan urat lehernya menegang (membengkak). Maka Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang jika ia ucapkan, niscaya akan hilang apa yang ia rasakan (marahnya). Seandainya ia mengucapkan: "A'udzu billahi minas-syaithan" (Aku berlindung kepada Allah dari setan), niscaya akan hilang apa yang ia rasakan.' > Orang-orang kemudian berkata kepada lelaki itu: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ bersabda: Berlindunglah kepada Allah dari setan.' Namun lelaki itu menjawab: 'Apakah aku sudah gila?'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Deskripsi fisik dalam hadis ini menggambarkan secara akurat apa yang terjadi pada tubuh manusia saat mengalami lonjakan emosi kemarahan yang hebat. 1. Vasodilatasi dan Perubahan Wajah Menjadi Merah Deskripsi "wajahnya memerah" adalah fenomena fisiologis nyata. Mekanisme: Saat marah, otak memicu kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon Adrenalin (Epinefrin) ke dalam darah. Hal ini menyebabkan jantung berdetak lebih cepat dan pembuluh darah mengalami vasodilatasi (pelebaran) di area wajah dan leher untuk meningkatkan aliran darah. Tujuannya secara evolusioner adalah mempersiapkan otot wajah dan otak untuk menghadapi ancaman. 2. Tekanan Darah dan Menegangnya Urat Leher Deskripsi "urat lehernya menegang" (intafakhat awdajuhu) berkaitan dengan tekanan hemodinamik. Vena Jugularis: Pembengkakan yang terlihat di leher sering kali merupakan tanda meningkatnya tekanan vena dan peningkatan volume darah yang dipompa jantung secara mendadak. Otot-otot di sekitar leher dan rahang juga mengalami kontraksi isometrik akibat tegangan sistem saraf simpatik. 3. Neuropsikologi: Interupsi Kognitif melalui Doa Nabi ﷺ memberikan solusi berupa kalimat doa sebagai teknik "Cognitive Reframing": Aktivasi Prefrontal Cortex: Saat marah besar, bagian otak emosional (Amygdala) mengambil alih kontrol (hijacking). Mengucapkan sebuah kalimat doa yang disadari mengharuskan otak untuk mengaktifkan Prefrontal Cortex (bagian otak berpikir). Relaksasi melalui Kata: Secara psikologis, mengalihkan fokus dari objek kemarahan ke kalimat perlindungan memaksa sistem saraf beralih dari mode Simpatik (tegang) ke Parasimpatik (tenang), yang perlahan menurunkan detak jantung dan tekanan darah. 4. Penolakan Lelaki Tersebut (Anosognosia Emosional) Reaksi lelaki yang menjawab "Apakah aku gila?" menunjukkan kondisi di mana seseorang yang dikuasai amarah kehilangan kesadaran diri (self-awareness). Secara medis, kemarahan yang ekstrem dapat menurunkan kemampuan penilaian objektif, sehingga saran yang logis sekalipun dianggap sebagai serangan.

Sahih al-Bukhari No. 3282

Psikologi

Kekuatan Kata-Kata dalam Menjaga Imun Tubuh

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ لاَ عَدْوَى، وَلاَ طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ ‏"‏‏.‏ قَالُوا وَمَا الْفَأْلُ قَالَ ‏"‏ كَلِمَةٌ طَيِّبَةٌ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basyar, telah menceritakan kepada kami Ibnu Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata: Aku mendengar Qatadah, dari Anas bin Malik RA, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Tidak ada 'adwa (penularan penyakit yang terjadi dengan sendirinya tanpa izin Allah), tidak ada thiyarah (merasa sial karena tanda-tanda alam), dan aku menyukai al-fa'l.' Para sahabat bertanya: 'Apa itu al-fa'l?' Beliau menjawab: 'Kalimat yang baik.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini meletakkan keseimbangan antara fakta biologis dan kesehatan mental. 1. Epidemiologi: Melawan Mitos Penularan Otomatis Istilah "Laa 'adwa" (tidak ada penularan) bukan berarti menafikan keberadaan kuman, melainkan mengoreksi keyakinan kuno bahwa penyakit menular memiliki "kehendak sendiri" atau kekuatan gaib yang tak terelakkan. Kausatif vs Deterministik: Secara medis, penularan penyakit adalah proses probabilistik (kemungkinan). Keberadaan bakteri tidak otomatis membuat semua orang sakit; hal itu bergantung pada daya tahan tubuh (imunitas), jumlah kuman (viral load), dan izin Sang Pencipta. Memutus Rantai Ketakutan: Dengan memahami ini, masyarakat tidak lagi panik secara berlebihan (parno) namun tetap waspada melalui protokol kesehatan. 2. Psikologi Kognitif: The Power of Optimism (Al-Fa'l) Nabi ﷺ menekankan pentingnya "Al-Fa'l" (optimisme/kata-kata baik). Dalam sains modern, ini berkaitan erat dengan: Efek Plasebo: Pikiran yang positif dan penuh harapan dapat memicu otak untuk melepaskan hormon Endorfin dan Dopamin. Hormon-hormon ini dikenal dapat meningkatkan respon sistem imun tubuh. Neuroplastisitas: Kata-kata baik (Kalimat thayyibah) yang diucapkan berulang kali membantu membentuk jalur saraf baru yang lebih sehat di otak, sehingga seseorang memiliki daya tahan mental (resilience) yang lebih kuat saat menghadapi penyakit atau kesulitan. 3. Psikologi Sosial: Melawan Confirmation Bias (Thiyarah) Thiyarah adalah kecenderungan menghubungkan kejadian buruk dengan tanda alam yang tidak relevan (misal: melihat burung tertentu lalu merasa sial). Bias Kognitif: Secara sains, ini adalah bentuk Bias Konfirmasi, di mana manusia hanya fokus pada hal buruk untuk membenarkan ketakutannya. Nabi ﷺ melarang ini karena dapat merusak kesehatan mental dan menghentikan produktivitas manusia.

Sahih al-Bukhari No. 5776

Biologi

Keajaiban Penciptaan Manusia dalam Rahim

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ، وَوَكِيعٌ، ح وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ، اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ - وَاللَّفْظُ لَهُ - حَدَّثَنَا أَبِي وَأَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالُوا حَدَّثَنَا الأَعْمَشُ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ حَدَّثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهُوَ الصَّادِقُ الْمَصْدُوقُ ‏ "‏ إِنَّ أَحَدَكُمْ يُجْمَعُ خَلْقُهُ فِي بَطْنِ أُمِّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ عَلَقَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يَكُونُ فِي ذَلِكَ مُضْغَةً مِثْلَ ذَلِكَ ثُمَّ يُرْسَلُ الْمَلَكُ فَيَنْفُخُ فِيهِ الرُّوحَ وَيُؤْمَرُ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ بِكَتْبِ رِزْقِهِ وَأَجَلِهِ وَعَمَلِهِ وَشَقِيٌّ أَوْ سَعِيدٌ فَوَالَّذِي لاَ إِلَهَ غَيْرُهُ إِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ فَيَدْخُلُهَا وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ حَتَّى مَا يَكُونَ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا إِلاَّ ذِرَاعٌ فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَعْمَلُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ فَيَدْخُلُهَا ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dan Waki’. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair Al-Hamdani—dan lafaz ini miliknya—telah menceritakan kepada kami ayahku, Abu Mu’awiyah, dan Waki’, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Al-A’masy, dari Zaid bin Wahb, dari Abdullah (bin Mas'ud) RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ menceritakan kepada kami—dan beliau adalah orang yang jujur dan dibenarkan ucapannya: 'Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan penciptaannya dalam perut ibunya selama 40 hari (sebagai nutfah), kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah/sesuatu yang menempel) selama itu pula, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu pula. Kemudian diutuslah malaikat kepadanya untuk meniupkan ruh dan diperintahkan untuk menuliskan empat ketetapan: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia celaka atau bahagia...'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan deskripsi bertahap yang sangat akurat mengenai perkembangan janin yang baru bisa dibuktikan secara medis ribuan tahun kemudian melalui mikroskop dan ultrasonografi (USG). 1. Tahap 40 Hari Pertama: Fase Awal & Organogenesis Dalam sains, 40 hari pertama adalah masa yang sangat krusial (masa embrionik). Nutfah ke Blastokista: Setelah pembuahan, sel membelah dan membentuk blastokista yang kemudian tertanam di rahim. Pembentukan Dasar: Pada akhir minggu ke-6 (sekitar hari ke-42), jantung mulai berdetak dan dasar-dasar otak serta anggota tubuh mulai terbentuk. 2. Tahap 'Alaqah (Sesuatu yang Menempel/Bergantung) Secara bahasa, 'alaqah berarti sesuatu yang menempel atau lintah. Kesesuaian Medis: Embrio pada tahap awal mendapatkan nutrisi dengan cara menempel pada dinding rahim (implantasi). Secara visual, embrio pada tahap ini memang terlihat seperti lintah yang bergantung dan menyerap nutrisi dari darah ibunya. 3. Tahap Mudghah (Segumpal Daging/Tampak Seperti Bekas Kunyahan) Kata Mudghah menggambarkan sesuatu yang memiliki bekas gigitan. Somit: Pada tahap ini, di punggung embrio muncul struktur yang disebut Somit. Somit ini tampak seperti tonjolan-tonjolan berderet yang secara visual sangat mirip dengan bekas gigitan gigi pada sepotong daging. Struktur inilah yang nantinya menjadi tulang belakang dan otot. 4. Penulisan Takdir dan Genetika Secara metaforis, penulisan rezeki, ajal, dan sifat manusia pada masa janin berkaitan dengan Program Genetik. Cetak Biru Kehidupan: Sejak pembuahan, seluruh informasi mengenai potensi fisik, kecenderungan biologis, dan karakteristik dasar seseorang sudah "tertulis" dalam kode DNA. Sains modern mengakui bahwa banyak aspek kehidupan kita sudah terprogram secara biologis sejak dalam rahim.

Sahih Muslim No. 2643a

Psikologi

Menjaga Ketenangan di Sekitar Orang Sakit

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ، قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ لَمَّا اشْتَدَّ بِالنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم وَجَعُهُ قَالَ ‏"‏ ائْتُونِي بِكِتَابٍ أَكْتُبُ لَكُمْ كِتَابًا لاَ تَضِلُّوا بَعْدَهُ ‏"‏‏.‏ قَالَ عُمَرُ إِنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم غَلَبَهُ الْوَجَعُ وَعِنْدَنَا كِتَابُ اللَّهِ حَسْبُنَا فَاخْتَلَفُوا وَكَثُرَ اللَّغَطُ‏.‏ قَالَ ‏"‏ قُومُوا عَنِّي، وَلاَ يَنْبَغِي عِنْدِي التَّنَازُعُ ‏"‏‏.‏ فَخَرَجَ ابْنُ عَبَّاسٍ يَقُولُ إِنَّ الرَّزِيَّةَ كُلَّ الرَّزِيَّةِ مَا حَالَ بَيْنَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَبَيْنَ كِتَابِهِ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Yunus, dari Ibnu Syihab, dari 'Ubaidillah bin 'Abdullah, dari Ibnu 'Abbas RA, ia berkata: Ketika rasa sakit Nabi ﷺ semakin parah, beliau bersabda: 'Bawakanlah kepadaku alat tulis, aku akan menuliskan untuk kalian sebuah kitab (catatan) agar kalian tidak tersesat setelahnya.' Umar berkata: 'Sesungguhnya Nabi ﷺ sedang didera rasa sakit yang amat sangat, dan di sisi kita sudah ada Kitabullah (Al-Qur'an) yang cukup bagi kita.' Maka orang-orang di sana pun berselisih dan kegaduhan semakin meningkat. Beliau bersabda: 'Berdirilah (pergilah) dariku, tidak pantas ada pertikaian di hadapanku.' Ibnu Abbas keluar sambil berkata: 'Sungguh malapetaka yang benar-benar malapetaka adalah apa yang menghalangi antara Rasulullah ﷺ dan tulisan beliau (pesan terakhirnya).'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Dari sudut pandang medis dan psikologi, peristiwa ini memberikan gambaran tentang manajemen situasi saat menghadapi pasien dalam kondisi terminal (menjelang wafat). 1. Patofisiologi Rasa Sakit dan Kesadaran (Kognisi) Kalimat "ghalabahul waja'" (rasa sakit yang menguasai beliau) menunjukkan kondisi fisik yang sangat berat. Respon Nyeri: Secara medis, nyeri yang sangat hebat dapat memicu pelepasan sitokin dan perubahan neurokimia yang sangat melelahkan tubuh. Namun, permintaan Nabi ﷺ untuk menulis menunjukkan bahwa fungsi eksekutif kognitif beliau (kemampuan merencanakan dan memberikan instruksi) masih bekerja, meskipun secara fisik beliau sangat lemah. Dilema Medis: Dalam kedokteran modern, ada tantangan saat pasien kritis ingin membuat keputusan penting (Informed Consent). Umar bin Khattab, dari sudut pandang pragmatis, melihat beban fisik Nabi ﷺ dan tidak ingin menambah penderitaan beliau dengan aktivitas menulis yang berat. 2. Psikologi Komunikasi: Manajemen Krisis Terjadinya "katsural laghath" (banyak kegaduhan) di ruang perawatan adalah sesuatu yang sangat dihindari dalam protokol kesehatan modern. Ketenangan Pasien (Healing Environment): Kegaduhan di sekitar pasien yang sedang kritis dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, dan stres emosional. Perintah Nabi ﷺ "Qumu 'anni" (pergilah dariku) adalah tindakan medis-psikologis yang tepat untuk memulihkan ketenangan lingkungan (environment control). 3. Teknologi Informasi: Dokumentasi Terakhir Keinginan Nabi ﷺ untuk menuliskan pesan agar umat tidak tersesat adalah prinsip Preservasi Informasi. Redundansi Data: Beliau ingin memastikan bahwa pesan penting memiliki bentuk fisik (tulisan) selain dari pesan lisan. Dalam teori informasi, dokumentasi tertulis berfungsi sebagai hardcopy yang mengurangi risiko distorsi informasi (noise) di masa depan.

Sahih al-Bukhari No. 114

Biologi

Mengendalikan Hewan Pembawa Kuman di Rumah

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي، هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَنْ قَتَلَ وَزَغَةً فِي أَوَّلِ ضَرْبَةٍ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً وَمَنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّانِيَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً لِدُونِ الأُولَى وَإِنْ قَتَلَهَا فِي الضَّرْبَةِ الثَّالِثَةِ فَلَهُ كَذَا وَكَذَا حَسَنَةً لِدُونِ الثَّانِيَةِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Khalid bin Abdullah, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa yang membunuh cicak/tokek (Wazaghah) pada pukulan pertama, maka baginya pahala sekian dan sekian. Barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan kedua, maka baginya pahala sekian dan sekian yang lebih kecil dari yang pertama. Dan barangsiapa yang membunuhnya pada pukulan ketiga, maka baginya pahala sekian dan sekian yang lebih kecil dari yang kedua.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Secara biologis dan medis, ada alasan kuat mengapa hewan kategori Wazaghah (cicak dinding, tokek, dan sejenisnya) perlu dikendalikan populasinya di dalam lingkungan rumah. 1. Mikrobiologi: Pembawa Bakteri Salmonella Secara medis, cicak dan tokek dikategorikan sebagai hewan pengganggu yang membawa patogen. Kontaminasi Makanan: Kulit dan kotoran cicak sering kali mengandung bakteri Salmonella. Bakteri ini adalah penyebab utama keracunan makanan, diare parah, dan tifus. Karena cicak sering merayap di area dapur, meja makan, dan langit-langit, risiko jatuhnya kotoran atau kuman ke makanan manusia sangat tinggi. Parasit: Cicak juga diketahui membawa telur cacing dan parasit lainnya yang dapat berpindah ke lingkungan manusia. 2. Kecepatan dan Ketepatan (Efisiensi Mekanis) Mengapa ada perbedaan pahala antara pukulan pertama, kedua, dan ketiga? Ini berkaitan dengan Prinsip Efisiensi dan Ihsan. Menghindari Penderitaan Hewan: Dalam biologi, hewan memiliki sistem saraf untuk merasakan nyeri. Membunuh dalam satu pukulan (cepat) berarti memutus sistem saraf pusat secara instan, sehingga hewan tidak menderita lama. Ini adalah prinsip Eutanasi yang etis dalam sains. Kemampuan Adaptasi Hewan: Cicak memiliki kemampuan Autotomi (memutuskan ekor) dan gerak refleks yang sangat cepat. Jika pukulan pertama gagal, hewan tersebut akan melepaskan hormon stres dan bergerak lebih liar, sehingga lebih sulit ditangkap dan berisiko menyebarkan kuman lebih luas saat ia melarikan diri ke celah-celah bangunan. 3. Higienitas Lingkungan Dalam ekologi pemukiman, populasi cicak yang terlalu banyak menunjukkan sanitasi yang kurang baik (biasanya karena banyak nyamuk atau serangga kecil sebagai makanannya). Mengendalikan cicak berarti juga mendorong manusia untuk menjaga kebersihan rumah dari serangga lain.

Sahih Muslim No. 2240a

Psikologi

Kekuatan Lingkungan untuk Perubahan Diri

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، - وَاللَّفْظُ لاِبْنِ الْمُثَنَّى - قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنَ تَوْبَةٍ فَقَالَ لاَ ‏.‏ فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدِ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلاَ تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ ‏.‏ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ ‏.‏ وَقَالَتْ مَلاَئِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ ‏.‏ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ ‏.‏ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلاَئِكَةُ الرَّحْمَةِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar—lafaz dari Al-Mutsanna—ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam, telah menceritakan kepadaku ayahku, dari Qatadah, dari Abu Ash-Shiddiq, dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, bahwa Nabi ﷺ bersabda: 'Dahulu pada umat sebelum kalian, ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 jiwa. Ia lalu bertanya tentang orang yang paling alim (pintar) di muka bumi, maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah). Ia mendatanginya dan berkata bahwa ia telah membunuh 99 jiwa, apakah ada taubat baginya? Rahib itu menjawab: "Tidak ada." Maka ia pun membunuh rahib tersebut sehingga lengkaplah 100 jiwa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling alim di muka bumi, lalu ditunjukkan kepada seorang ilmuwan/alim. Ia berkata bahwa ia telah membunuh 100 jiwa, apakah ada taubat baginya? Ilmuwan itu menjawab: "Ya, siapa yang dapat menghalangi antara dirimu dengan taubat? Pergilah ke negeri sana, karena di sana ada orang-orang yang menyembah Allah, maka sembahlah Allah bersama mereka dan janganlah kembali ke negerimu, karena negerimu adalah tempat yang buruk." Ia pun berangkat, hingga ketika sampai di tengah jalan, kematian menjemputnya. Maka berselisihlah Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab. Malaikat Rahmat berkata: "Ia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah." Malaikat Azab berkata: "Ia belum pernah berbuat baik sedikit pun." Lalu datanglah malaikat dalam wujud manusia, mereka menjadikannya penengah. Ia berkata: "Ukurlah jarak antara dua tempat tersebut (tempat asal dan tempat tujuan), ke arah mana ia lebih dekat, maka ia milik tempat itu." Mereka pun mengukurnya dan mendapatinya lebih dekat ke tanah yang ia tuju, maka Malaikat Rahmat pun mengambil nyawanya.' Qatadah berkata: Hasan Al-Bashri menyebutkan kepada kami, bahwa saat kematian menjemputnya, ia (pria itu) menyeret dadanya (agar lebih dekat ke arah negeri tujuan)." (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Psikologi Lingkungan (Environmental Psychology) Ilmuwan dalam hadis ini memberikan saran medis-psikologis yang sangat tepat: "Jangan kembali ke negerimu, karena itu adalah tempat yang buruk." Trigger Emosi: Dalam psikologi perilaku, lingkungan lama seringkali penuh dengan "cue" atau pemicu (teman yang toksik, memori kekerasan, tekanan sosial) yang dapat memicu perilaku kriminal berulang (relapse). Modifikasi Perilaku: Untuk berubah secara total, seseorang membutuhkan "Enviromental Reset". Berada di lingkungan baru yang positif akan membentuk kebiasaan baru (habituasi) dan mendukung kesehatan mental. 2. Matematika: Geometri dan Teori Pengukuran Solusi yang diberikan malaikat penengah adalah solusi Kuantitatif. Pengukuran Jarak: Menggunakan pengukuran fisik untuk menyelesaikan sengketa kualitatif (apakah dia baik atau buruk). Ini adalah prinsip dasar Statistik dan Data: ketika ada perdebatan persepsi, kembalilah ke data yang bisa diukur. Vektor Kemauan: Tindakan pria tersebut "menyeret dadanya" menunjukkan adanya usaha fisik terakhir untuk mengubah koordinat posisinya. Dalam fisika, setiap milimeter perubahan posisi adalah hasil dari energi dan niat yang nyata. 3. Diferensiasi Ahli Ibadah vs Ilmuwan (Sains) Hadis ini membedakan antara orang yang hanya beribadah (Rahib) dengan orang yang berilmu (Alim). Pendekatan Kaku vs Solutif: Rahib menjawab secara emosional dan tanpa dasar ilmu sehingga memicu kriminalitas baru. Ilmuwan menjawab berbasis solusi dan pemahaman tentang sifat manusia, yang akhirnya menyelamatkan nyawa (dan jiwa) orang tersebut. Ini menekankan bahwa Sains/Ilmu sangat krusial dalam menyelesaikan masalah kemanusiaan yang kompleks.

Sahih Muslim No. 2766a