Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Biologi

360 Sendi dan Rahasia Kesehatan Tubuh

حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْحُلْوَانِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو تَوْبَةَ الرَّبِيعُ بْنُ نَافِعٍ، حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ، - يَعْنِي ابْنَ سَلاَّمٍ - عَنْ زَيْدٍ، أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَلاَّمٍ، يَقُولُ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ فَرُّوخَ، أَنَّهُ سَمِعَ عَائِشَةَ، تَقُولُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ إِنَّهُ خُلِقَ كُلُّ إِنْسَانٍ مِنْ بَنِي آدَمَ عَلَى سِتِّينَ وَثَلاَثِمَائَةِ مَفْصِلٍ فَمَنْ كَبَّرَ اللَّهَ وَحَمِدَ اللَّهَ وَهَلَّلَ اللَّهَ وَسَبَّحَ اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ وَعَزَلَ حَجَرًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ شَوْكَةً أَوْ عَظْمًا عَنْ طَرِيقِ النَّاسِ وَأَمَرَ بِمَعْرُوفٍ أَوْ نَهَى عَنْ مُنْكَرٍ عَدَدَ تِلْكَ السِّتِّينَ وَالثَّلاَثِمِائَةِ السُّلاَمَى فَإِنَّهُ يَمْشِي يَوْمَئِذٍ وَقَدْ زَحْزَحَ نَفْسَهُ عَنِ النَّارِ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو تَوْبَةَ وَرُبَّمَا قَالَ ‏"‏ يُمْسِي ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Hasan bin 'Ali Al-Hulwani, telah menceritakan kepada kami Abu Taubah Ar-Rabi' bin Nafi', telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah—yakni Ibnu Sallam—dari Zaid, bahwa ia mendengar Abu Sallam berkata: telah menceritakan kepadaku 'Abdullah bin Farrukh, bahwa ia mendengar Aisyah RA berkata: Sesungguhnya Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya setiap manusia dari anak cucu Adam diciptakan di atas tiga ratus enam puluh (360) persendian. Maka barangsiapa yang bertakbir, bertahmid, bertahlil, bertasbih, dan beristigfar kepada Allah, atau menyingkirkan batu dari jalanan manusia, atau duri, atau tulang dari jalanan manusia, atau menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, sebanyak jumlah tiga ratus enam puluh persendian tersebut, maka ia berjalan (atau memasuki waktu sore) pada hari itu dalam keadaan telah menjauhkan dirinya dari api neraka.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mencatat angka 360 secara spesifik, yang merupakan fakta medis mengenai jumlah persendian manusia secara keseluruhan. 1. Osteologi dan Artikulas (Ilmu Tulang dan Sendi) Dalam anatomi modern, jumlah tulang orang dewasa adalah sekitar 206, namun jumlah sendi (pertemuan antar tulang) jauh lebih banyak. Klasifikasi Sendi: Sendi terbagi menjadi sendi mati (Sinartrosis), sendi kaku (Amfiartrosis), dan sendi gerak (Diartrosis). Penghitungan Medis: Banyak literatur medis kontemporer (seperti dalam buku Human Body oleh Dr. Sarah Brewer) yang mengonfirmasi bahwa tubuh manusia memang memiliki sekitar 360 sendi jika menghitung seluruh persendian kecil di tulang belakang, tengkorak, tangan, dan kaki. Sendi tulang belakang dan dada: 147 Sendi anggota gerak atas (tangan): 86 Sendi anggota gerak bawah (kaki): 88 Sendi panggul dan tengkorak: 39 Total: 360 2. Biomekanika dan Aktivitas Fisik Nabi ﷺ menghubungkan syukur atas sendi ini dengan tindakan fisik (menyingkirkan batu, berjalan, dll). Kesehatan Muskuloskeletal: Secara biomekanika, sendi yang tidak digunakan untuk bergerak akan mengalami kekakuan (ankylosis). Aktivitas sosial-fisik yang dicontohkan dalam hadis (berjalan di jalan umum untuk membantu orang lain) secara tidak langsung adalah bentuk fisioterapi alami untuk menjaga kesehatan 360 sendi tersebut. 3. Metabolisme dan Rasa Syukur Setiap gerakan yang dilakukan untuk menyingkirkan rintangan melibatkan koordinasi ratusan sendi secara simultan. Sains mengakui bahwa mobilitas manusia adalah sistem yang sangat kompleks yang memungkinkan kita berinteraksi dengan lingkungan secara efisien.

Sahih Muslim No. 1007a

Biologi

Menjaga Kebersihan Sumber Air

وَحَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، وَمُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ، قَالاَ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ، ح وَحَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ، حَدَّثَنَا اللَّيْثُ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ نَهَى أَنْ يُبَالَ فِي الْمَاءِ الرَّاكِدِ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya dan Muhammad bin Rumh, keduanya berkata: telah mengabarkan kepada kami Al-Laits. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Al-Laits, dari Abu Az-Zubair, dari Jabir RA, dari Rasulullah ﷺ: 'Bahwasanya beliau melarang buang air kecil di air yang diam (tidak mengalir).'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Larangan ini sangat logis secara medis dan ilmiah untuk mencegah terjadinya wabah penyakit serta kerusakan ekosistem air. 1. Konsentrasi Patogen dan Infeksi Air (Waterborne Diseases) Dalam air yang mengalir (sungai), limbah akan terbawa arus dan mengalami pengenceran (dilution). Namun, dalam air yang diam (al-ma' ar-rakid) seperti kolam atau genangan: Akumulasi Bakteri: Urine manusia dapat mengandung bakteri dan parasit. Jika dibuang ke air diam, mikroba tersebut tidak akan pergi ke mana-mana, melainkan berkembang biak secara eksponensial. Siklus Penularan: Air tersebut menjadi "bom waktu" bagi siapa pun yang menggunakan air itu untuk mandi, mencuci, atau tidak sengaja tertelan. Penyakit seperti Kolera, Disentri, dan Schistosomiasis (infeksi cacing pita air) menyebar melalui cara ini. 2. Eutrofikasi (Kerusakan Ekosistem Air)Secara kimiawi, urine mengandung nitrogen (N) dan fosfor (P) dalam kadar tinggi. Ledakan Alga: Di air yang diam, nutrisi dari urine bertindak sebagai pupuk bagi alga. Fenomena ini disebut Eutrofikasi. Alga akan tumbuh menutupi permukaan air secara berlebihan (algal bloom). Penurunan Oksigen: Saat alga mati dan membusuk, proses tersebut menghabiskan oksigen terlarut dalam air, yang mengakibatkan ikan dan organisme air lainnya mati karena kekurangan oksigen (hipoksia). 3. Toksisitas AmoniaUrine yang terdegradasi dalam air diam akan berubah menjadi Amonia. Tanpa aliran air untuk membawanya pergi, kadar amonia akan meningkat hingga mencapai level yang beracun bagi kulit manusia dan kehidupan akuatik.

Sahih Muslim No. 281

Medis

Karantina adalah Kunci Memutus Wabah

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ أَخْبَرَنِي حَبِيبُ بْنُ أَبِي ثَابِتٍ، قَالَ سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ سَعْدٍ، قَالَ سَمِعْتُ أُسَامَةَ بْنَ زَيْدٍ، يُحَدِّثُ سَعْدًا عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِالطَّاعُونِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَدْخُلُوهَا، وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا مِنْهَا ‏"‏‏.‏ فَقُلْتُ أَنْتَ سَمِعْتَهُ يُحَدِّثُ سَعْدًا وَلاَ يُنْكِرُهُ قَالَ نَعَمْ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin 'Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Habib bin Abi Tsabit, ia berkata: aku mendengar Ibrahim bin Sa'ad berkata: aku mendengar Usamah bin Zaid RA menceritakan kepada Sa'ad (bin Abi Waqqas) dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: 'Jika kalian mendengar wabah penyakit (Tha'un) melanda suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Dan jika wabah itu terjadi di negeri tempat kalian berada, maka janganlah kalian keluar darinya.' Aku (Habib) bertanya: 'Engkau benar-benar mendengar beliau menceritakannya kepada Sa'ad dan ia tidak mengingkarinya?' Ia menjawab: 'Ya'." (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menetapkan protokol kesehatan masyarakat yang baru dipahami dan diterapkan secara global secara ketat ribuan tahun kemudian, terutama saat pandemi COVID-19. 1. Konsep Karantina Wilayah (Lockdown) Instruksi Nabi ﷺ mencakup dua arah pengendalian pergerakan manusia: Inbound (Mencegah Masuk): "Jangan memasukinya." Ini bertujuan untuk mencegah orang yang sehat terpapar patogen (virus/bakteri) di wilayah zona merah. Outbound (Mencegah Keluar): "Jangan keluar darinya." Ini adalah konsep Karantina Mandiri. Tujuannya adalah mencegah orang yang mungkin sudah terinfeksi (meskipun belum bergejala/OTG) menjadi pembawa (carrier) yang menyebarkan penyakit ke wilayah baru yang masih bersih. 2. Memutus Rantai Penularan (Breaking the Chain) Dalam epidemiologi, penyebaran penyakit bergantung pada mobilitas manusia. Vektor Manusia: Manusia adalah kendaraan utama bagi patogen. Dengan menghentikan mobilitas total di area wabah, virus atau bakteri kehilangan "kendaraan" untuk berpindah. Penurunan Kurva (Flattening the Curve): Dengan tetap berada di tempat, sistem kesehatan setempat dapat fokus menangani pasien yang ada tanpa membebani wilayah lain yang sistem kesehatannya mungkin tidak siap menghadapi wabah baru. 3. Prinsip Infectious Disease Control Hadis ini sangat cerdas karena mempertimbangkan masa Inkubasi. Seseorang yang tampak sehat di wilayah wabah bisa saja sudah membawa bibit penyakit di dalam tubuhnya. Jika ia diizinkan keluar ke negeri lain, ia akan memulai rantai infeksi baru di sana.

Sahih al-Bukhari No. 5728

Psikologi

Memilih Jalur Keselamatan di Tengah Bahaya

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ، قَالَ قَرَأْتُ عَلَى مَالِكٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ عَبْدِ، الْحَمِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زَيْدِ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أَهْلُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ ‏.‏ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَقَالَ عُمَرُ ادْعُ لِيَ الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَاءَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لأَمْرٍ وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِيَ الأَنْصَارَ فَدَعَوْتُهُمْ لَهُ فَاسْتَشَارَهُمْ فَسَلَكُوا سَبِيلَ الْمُهَاجِرِينَ وَاخْتَلَفُوا كَاخْتِلاَفِهِمْ ‏.‏ فَقَالَ ارْتَفِعُوا عَنِّي ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ ‏.‏ فَدَعَوْتُهُمْ فَلَمْ يَخْتَلِفْ عَلَيْهِ رَجُلاَنِ فَقَالُوا نَرَى أَنْ تَرْجِعَ بِالنَّاسِ وَلاَ تُقْدِمْهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَاءِ ‏.‏ فَنَادَى عُمَرُ فِي النَّاسِ إِنِّي مُصْبِحٌ عَلَى ظَهْرٍ فَأَصْبِحُوا عَلَيْهِ ‏.‏ فَقَالَ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ فَقَالَ عُمَرُ لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ - وَكَانَ عُمَرُ يَكْرَهُ خِلاَفَهُ - نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَتْ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطْتَ وَادِيًا لَهُ عِدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا خَصْبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ قَالَ فَجَاءَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ وَكَانَ مُتَغَيِّبًا فِي بَعْضِ حَاجَتِهِ فَقَالَ إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَحَمِدَ اللَّهَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ثُمَّ انْصَرَفَ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At-Tamimi, ia berkata: Aku membaca di hadapan Malik, dari Ibnu Syihab, dari 'Abdul Hamid bin 'Abdurrahman bin Zaid bin Al-Khattab, dari 'Abdullah bin 'Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, dari Abdullah bin Abbas RA: Bahwasanya Umar bin Al-Khattab berangkat menuju Syam. Ketika sampai di daerah Sargh, beliau bertemu dengan para panglima pasukan, yaitu Abu Ubaidah bin Al-Jarrah dan kawan-kawannya. Mereka mengabarkan bahwa wabah penyakit (Tha'un) sedang melanda wilayah Syam. Ibnu Abbas berkata: Umar berkata kepadaku, 'Panggillah kaum Muhajirin awal!' Aku pun memanggil mereka. Umar bermusyawarah dengan mereka dan memberitahu bahwa wabah sedang terjadi di Syam. Mereka berselisih pendapat; sebagian berkata, 'Engkau keluar untuk suatu urusan, kami rasa engkau tidak perlu pulang.' Sebagian lain berkata, 'Bersamamu ada sisa manusia dan para sahabat Rasulullah ﷺ, kami tidak setuju jika engkau membawa mereka menuju wabah ini.' Umar berkata, 'Pergilah kalian dariku.' Kemudian Umar berkata, 'Panggillah kaum Anshar!' Aku memanggil mereka dan Umar bermusyawarah, namun mereka berselisih seperti kaum Muhajirin. Umar berkata, 'Pergilah kalian dariku.' Lalu Umar berkata, 'Panggillah para tetua Quraisy yang ikut hijrah saat Fathul Makkah!' Aku memanggil mereka, dan ternyata tidak ada dua orang pun yang berselisih. Mereka berkata, 'Kami berpendapat sebaiknya engkau pulang bersama orang-orang dan jangan membawa mereka menuju wabah ini.' Maka Umar menyeru kepada orang-orang, 'Besok pagi aku akan berada di atas punggung unta (pulang), maka bersiaplah!' Abu Ubaidah bin Al-Jarrah bertanya, 'Apakah engkau lari dari takdir Allah?' Umar menjawab, 'Seandainya orang lain yang mengatakannya, wahai Abu Ubaidah! Ya, kita lari dari takdir Allah menuju takdir Allah yang lain. Bagaimana pendapatmu jika engkau memiliki unta yang menuruni lembah dengan dua sisi; yang satu subur dan yang lain tandus. Bukankah jika engkau menggembalakannya di tempat subur, itu karena takdir Allah, dan jika di tempat tandus juga karena takdir Allah?' Lalu datanglah Abdurrahman bin Auf yang sebelumnya absen karena suatu keperluan. Ia berkata, 'Aku punya ilmu tentang ini, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian mendengar wabah di suatu negeri, janganlah mendatanginya. Dan jika terjadi di negeri tempat kalian berada, janganlah keluar darinya karena lari darinya."' Mendengar itu, Umar bin Al-Khattab memuji Allah lalu pergi pulang." (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Manajemen Risiko (Risk Assessment) Umar bin Khattab melakukan proses pengambilan keputusan yang sangat sistematis (mirip dengan metode Delphi dalam manajemen modern): Konsultasi Berlapis: Beliau mengumpulkan berbagai kelompok ahli (Muhajirin, Anshar, dan Praktisi/Tetua). Prinsip Kehati-hatian (Precautionary Principle): Dalam sains, jika ada risiko besar yang belum pasti namun berpotensi mematikan, pilihan terbaik adalah menghindari risiko tersebut daripada menerjangnya. 2. Logika Probabilitas dan Pilihan (Takdir vs Usaha) Dialog antara Umar dan Abu Ubaidah adalah perdebatan Filsafat Sains yang sangat mendalam: Sistem Deterministik vs Stokastik: Abu Ubaidah melihat takdir sebagai satu garis lurus yang tidak bisa dihindari (deterministik). Umar menjelaskan bahwa hidup adalah rangkaian probabilitas (pilihan antara kondisi subur atau tandus). Hukum Sebab-Akibat (Kausalitas): Memilih tempat subur menghasilkan unta gemuk, memilih tempat wabah menghasilkan penyakit. Keduanya adalah ketetapan Allah, namun manusia diberi alat (akal) untuk memilih jalur kausalitas yang paling maslahat. 3. Validasi Data Ilmiah Keputusan Umar yang awalnya didasarkan pada logika dan musyawarah, akhirnya divalidasi oleh "data" (hadis yang dibawa Abdurrahman bin Auf). Integrasi Pengetahuan: Ini menunjukkan bahwa kebijakan publik yang baik adalah gabungan dari analisis logika (ijtihad) dan bukti empiris/wahyu (data).

Sahih Muslim No. 2219a

Biologi

Mengapa Kita Dilarang Meniup Minuman?

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ خَشْرَمٍ، أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ، عَنْ مَالِكِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَيُّوبَ، وَهُوَ ابْنُ حَبِيبٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا الْمُثَنَّى الْجُهَنِيَّ، يَذْكُرُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنِ النَّفْخِ فِي الشُّرْبِ ‏.‏ فَقَالَ رَجُلٌ الْقَذَاةُ أَرَاهَا فِي الإِنَاءِ قَالَ ‏"‏ أَهْرِقْهَا ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَإِنِّي لاَ أَرْوَى مِنْ نَفَسٍ وَاحِدٍ قَالَ ‏"‏ فَأَبِنِ الْقَدَحَ إِذًا عَنْ فِيكَ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin Khasyram, telah mengabarkan kepada kami 'Isa bin Yunus, dari Malik bin Anas, dari Ayyub—yaitu Ibnu Habib—bahwa ia mendengar Abu Al-Mutsanna Al-Juhani menyebutkan dari Abu Sa'id Al-Khudri RA: Bahwasanya Nabi ﷺ melarang meniup pada minuman. Kemudian seorang laki-laki berkata: 'Aku melihat ada kotoran (debu/kecil) di dalam wadah itu.' Beliau bersabda: 'Tumpahkanlah (buang kotorannya).' Orang itu berkata lagi: 'Sesungguhnya aku tidak merasa puas (haus tidak hilang) hanya dengan satu nafas.' Beliau bersabda: 'Kalau begitu, jauhkanlah wadah itu dari mulutmu (saat bernafas).'" (HR. Tirmidzi, Hadis Hasan Shahih)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Reaksi Kimia: Pembentukan Asam Karbonat Saat kita bernapas, gas yang kita keluarkan adalah Karbondioksida (CO_2). Reaksi dengan Air: Ketika CO_2 ditiupkan ke dalam air (H_2O), terjadi reaksi kimia yang membentuk Asam Karbonat (H_2CO_3). CO_2 + H_2O menjadi H_2CO_3 Dampak: Meskipun dalam jumlah kecil, perubahan tingkat keasaman (pH) pada minuman dapat memengaruhi keseimbangan asam-basa dalam tubuh jika dilakukan secara terus-menerus. 2. Mikrobiologi: Kontaminasi Bakteri dan Virus Mulut manusia adalah rumah bagi ribuan jenis mikroorganisme (mikrobiota mulut). Transmisi Droplet: Saat meniup, kita mengeluarkan partikel air kecil (droplet) yang membawa kuman, bakteri, atau sisa makanan dari mulut ke dalam minuman. Ini meningkatkan risiko kontaminasi silang, terutama jika wadah tersebut digunakan bersama orang lain. 3. Masalah Partikel (Kotoran/Debu) Instruksi Nabi ﷺ untuk "menumpahkannya" saat melihat kotoran adalah prinsip Sanitasi Fisik. Daripada meniupnya (yang justru bisa membuat kotoran semakin tersebar di permukaan air atau justru memasukkan kuman dari mulut), membuang sebagian air yang ada kotorannya adalah cara paling efektif untuk memastikan sisa air tetap bersih dari kontaminan fisik. 4. Fisiologi: Manajemen Nafas Saat Minum Saran Nabi ﷺ untuk menjauhkan wadah saat ingin mengambil nafas (fabinil qadaha 'an fika) berkaitan dengan Efisiensi Oksigen. Minum terburu-buru tanpa menjauhkan gelas membuat seseorang sering kali bernapas di dalam gelas. Hal ini menyebabkan ia menghirup kembali CO_2 yang baru saja ia keluarkan, sehingga asupan oksigen ke otak berkurang dan menyebabkan rasa sesak atau tidak puas saat minum.

Jami` at-Tirmidhi No. 1887

Ilmu

Tingkatan Akurasi dalam Deskripsi Anatomi

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، قَالَ قَالَ قَتَادَةُ سَمِعْتُ أَبَا نَضْرَةَ، يُحَدِّثُ عَنْ سَمُرَةَ، أَنَّهُ سَمِعَ نَبِيَّ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏ "‏ إِنَّ مِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ النَّارُ إِلَى كَعْبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى حُجْزَتِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ تَأْخُذُهُ إِلَى عُنُقِهِ ‏"

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Syaiban bin 'Abdurrahman, Qatadah berkata: Aku mendengar Abu Nadhrah bercerita dari Samurah (bin Jundub) RA, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya di antara mereka (ahli neraka) ada yang dimakan api hingga kedua mata kakinya, di antara mereka ada yang dimakan api hingga pinggangnya, dan di antara mereka ada yang dimakan api hingga lehernya.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Meskipun hadis ini berbicara tentang perkara gaib (neraka), cara Nabi ﷺ mendeskripsikannya menggunakan titik-titik referensi anatomi yang sangat presisi dalam tubuh manusia. 1. Anatomi: Titik-Titik Sendi dan Penyangga Tubuh Nabi ﷺ menyebutkan tiga bagian utama yang dalam anatomi merupakan batas-batas penting: Mata Kaki (Ka'bain): Merupakan dasar penyangga tubuh. Pinggang (Hujzah): Merupakan pusat gravitasi dan pemisah antara bagian bawah (ekstremitas bawah) dan bagian atas tubuh (batang tubuh). Leher ('Unuq): Merupakan bagian vital yang menghubungkan tubuh dengan otak (pusat kesadaran). Penggunaan istilah anatomi ini memberikan gambaran visual yang nyata tentang distribusi intensitas. Dalam sains, kita mengenal istilah Gradien, yaitu perubahan nilai suatu parameter (dalam hal ini, tingkat keparahan/ketinggian) secara bertahap. 2. Termofisika: Level Energi Hadis ini menggambarkan adanya tingkatan (level) energi panas yang berbeda bagi setiap individu berdasarkan amalnya. Secara logika fisika, ini menggambarkan bahwa azab tersebut tidak bersifat "seragam", melainkan memiliki presisi yang luar biasa dalam menargetkan subjek sesuai dengan takarannya (dosis). Penentuan batas hingga mata kaki, pinggang, atau leher menunjukkan adanya hukum keteraturan bahkan dalam kondisi ekstrem sekalipun. 3. Neuropsikologi: Tingkat Kesadaran Nyeri Dalam medis, semakin tinggi tingkat luka bakar menuju area vital (leher/kepala), semakin besar dampaknya terhadap sistem saraf pusat. Deskripsi "hingga leher" menunjukkan level penderitaan maksimal di mana seluruh saraf sensorik di batang tubuh terkena dampak, sementara kesadaran tetap dipertahankan agar rasa sakit tersebut terus terasa.

Sahih Muslim No. 2845a