Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Psikologi

Rahasia Konsistensi Tanpa Kelelahan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ هِشَامٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي، عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ عَلَيْهَا وَعِنْدَهَا امْرَأَةٌ قَالَ ‏"‏ مَنْ هَذِهِ ‏"‏‏.‏ قَالَتْ فُلاَنَةُ‏.‏ تَذْكُرُ مِنْ صَلاَتِهَا‏.‏ قَالَ ‏"‏ مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا ‏"‏‏.‏ وَكَانَ أَحَبَّ الدِّينِ إِلَيْهِ مَا دَامَ عَلَيْهِ صَاحِبُهُ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Mutsanna, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Hisyam, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku ayahku, dari Aisyah RA: Bahwasanya Nabi ﷺ masuk ke rumahnya dan di saat itu ada seorang wanita. Beliau bertanya: 'Siapa ini?' Aisyah menjawab: 'Ini si fulanah,' lalu Aisyah menceritakan betapa hebatnya shalat wanita itu. Beliau bersabda: 'Cukup, beramallah sesuai dengan kemampuan kalian. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan.' Dan amalan agama yang paling beliau cintai adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten) oleh pelakunya." (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini memberikan panduan yang sangat akurat secara psikologis mengenai cara otak manusia memproses beban kerja dan kebiasaan. 1. Psikologi: Pencegahan Burnout Istilah "Beramallah sesuai kemampuan" adalah prinsip dasar pencegahan Burnout (kelelahan mental dan fisik yang ekstrem). Beban Kognitif: Jika seseorang memaksa melakukan aktivitas di luar batas kemampuannya secara mendadak (seperti wanita dalam hadis yang shalat terus-menerus), otak akan mengalami stres tinggi. Efek Kebosanan (Fatigue): Kata "sampai kalian bosan" dalam sains merujuk pada kelelahan sistem saraf. Ketika tubuh dipaksa melampaui batas, mekanisme pertahanan otak akan memicu rasa jenuh dan enggan sebagai sinyal untuk berhenti. Jika ini terjadi, seseorang justru akan berhenti total dari aktivitas tersebut. 2. Neuroplastisitas: Kekuatan Konsistensi (Dawaam) Pernyataan bahwa amalan yang paling dicintai adalah yang "terus-menerus" berkaitan erat dengan pembentukan jalur saraf di otak. Pembentukan Habit (Kebiasaan): Untuk mengubah suatu tindakan menjadi kebiasaan otomatis, otak membutuhkan pengulangan yang stabil, bukan intensitas tinggi yang hanya sesekali. Mielinisasi: Aktivitas yang dilakukan secara konsisten (meskipun kecil) memperkuat lapisan Mielin pada sel saraf. Semakin sering dilakukan, semakin sedikit energi yang dibutuhkan otak untuk melakukan tindakan tersebut, sehingga amalan menjadi ringan dan langgeng. 3. Biologi: Manajemen Energi dan Homeostasis Tubuh manusia bekerja berdasarkan prinsip Homeostasis (keseimbangan). Ritme Sirkadian: Memaksakan ibadah/pekerjaan tanpa henti mengganggu ritme biologis tubuh. Nabi ﷺ menekankan agar aktivitas dilakukan dengan porsi yang bisa diterima oleh metabolisme tubuh agar kesehatan jangka panjang tetap terjaga.

Sahih al-Bukhari No. 43

Psikologi

Kekuatan Mental dalam Menghadapi Wabah

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ أَبِي الْفُرَاتِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بُرَيْدَةَ، عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ، عَنْ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنِ الطَّاعُونِ، فَأَخْبَرَنِي ‏ "‏ أَنَّهُ عَذَابٌ يَبْعَثُهُ اللَّهُ عَلَى مَنْ يَشَاءُ، وَأَنَّ اللَّهَ جَعَلَهُ رَحْمَةً لِلْمُؤْمِنِينَ، لَيْسَ مِنْ أَحَدٍ يَقَعُ الطَّاعُونُ فَيَمْكُثُ فِي بَلَدِهِ صَابِرًا مُحْتَسِبًا، يَعْلَمُ أَنَّهُ لاَ يُصِيبُهُ إِلاَّ مَا كَتَبَ اللَّهُ لَهُ، إِلاَّ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ شَهِيدٍ ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il, telah menceritakan kepada kami Dawud bin Abil Furat, telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Buraidah, dari Yahya bin Ya'mar, dari Aisyah RA, istri Nabi ﷺ, ia berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang Tha'un (wabah penyakit), lalu beliau mengabarkan kepadaku: 'Bahwasanya wabah itu adalah azab yang Allah kirimkan kepada siapa yang Dia kehendaki, dan Allah menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman. Tidaklah seseorang yang sedang terjangkit wabah lalu ia menetap di negerinya dengan sabar dan berharap pahala (muhtasib), ia menyadari bahwa tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah Allah tetapkan baginya, melainkan ia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mati syahid.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menekankan pada sikap mental: Sabar, Mengharap Pahala (Muhtasib), dan Ketenangan Pikiran. Dalam sains modern, sikap ini sangat krusial dalam menentukan tingkat kesembuhan. 1. Psikoneuroimunologi (Hubungan Pikiran dan Imunitas) Bidang sains ini mempelajari bagaimana kondisi psikologis memengaruhi sistem kekebalan tubuh. Ketenangan vs Kortisol: Seseorang yang panik atau stres berat saat wabah akan memproduksi hormon Kortisol yang tinggi. Kortisol yang berlebihan dikenal sebagai pembunuh sel imun (khususnya sel T dan sel pembunuh alami/NK Cells). Resiliensi Mental: Sikap "sabar dan menyadari ketetapan" yang disebutkan dalam hadis membantu menurunkan tingkat kecemasan (anxiety). Hal ini menjaga sistem imun tetap pada performa maksimal untuk melawan infeksi. 2. Pencegahan Mass Hysteria (Histeria Massa) Secara sosiologi kesehatan, instruksi untuk "menetap di negerinya dengan sabar" mencegah terjadinya pelarian massal. Stabilitas Sosial: Jika semua orang panik dan lari (eksodus), hal ini tidak hanya menyebarkan virus ke wilayah baru, tetapi juga meruntuhkan sistem logistik dan medis di wilayah asal. Kepatuhan Protokol: Sikap sabar dan tenang memudahkan tenaga medis untuk melakukan penanganan secara teratur (mitigasi krisis). 3. Konsep "Kematian Syahid" dalam Konteks Medis Pemberian status pahala syahid bagi yang menetap menunjukkan apresiasi tertinggi terhadap mereka yang bersedia mengisolasi diri demi melindungi orang lain. Dalam epidemiologi, ini disebut sebagai tindakan altruisme heroik yang memutus mata rantai pandemi.

Sahih al-Bukhari No. 3474

Medis

Menjaga Tubuh dari Kelelahan Ekstrem (puasa saat perjalanan jauh)

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَمُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، وَابْنُ، بَشَّارٍ جَمِيعًا عَنْ مُحَمَّدِ، بْنِ جَعْفَرٍ - قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ، - عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْحَسَنِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، - رضى الله عنهما - قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي سَفَرٍ فَرَأَى رَجُلاً قَدِ اجْتَمَعَ النَّاسُ عَلَيْهِ وَقَدْ ظُلِّلَ عَلَيْهِ فَقَالَ ‏"‏ مَا لَهُ ‏"‏ ‏.‏ قَالُوا رَجُلٌ صَائِمٌ ‏.‏ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏"‏ لَيْسَ مِنَ الْبِرِّ أَنْ تَصُومُوا فِي السَّفَرِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Muhammad bin Al-Mutsanna, dan Ibnu Basysyar, semuanya dari Muhammad bin Ja'far—Abu Bakar berkata: telah menceritakan kepada kami Ghundar—dari Syu'bah, dari Muhammad bin 'Abdurrahman bin Sa'ad, dari Muhammad bin 'Amru bin Al-Hasan, dari Jabir bin 'Abdullah RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ pernah berada dalam suatu perjalanan, lalu beliau melihat seorang laki-laki yang dikerumuni orang banyak dan sedang diberikan naungan (pucat/pingsan). Beliau bertanya: 'Ada apa dengan orang ini?' Mereka menjawab: 'Dia sedang berpuasa.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: 'Bukanlah suatu kebaikan melakukan puasa dalam perjalanan (yang memberatkan).'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Konteks hadis ini adalah perjalanan di masa itu yang dilakukan di bawah terik matahari dengan aktivitas fisik yang berat. 1. Fisiologi Cairan (Hidrasi) Perjalanan jauh di daerah panas menyebabkan tubuh kehilangan cairan secara masif melalui keringat. Hipovolemia: Jika seseorang berpuasa dalam kondisi ini, volume darah akan menurun (hipovolemia). Hal ini menyebabkan tekanan darah drop drastis, sehingga otak kekurangan oksigen. Inilah yang menyebabkan laki-laki dalam hadis tersebut tampak pingsan atau lemas hingga harus dikerumuni. Gagal Ginjal Akut: Dehidrasi berat saat aktivitas fisik dapat memicu kerusakan ginjal akut karena kekurangan aliran darah ke ginjal. 2. Termoregulasi (Pingsan karena Panas) Kondisi laki-laki tersebut kemungkinan besar mengalami Heat Exhaustion (kelelahan karena panas). Mekanisme Pendinginan: Tubuh mendinginkan diri melalui penguapan keringat. Tanpa asupan air, mekanisme ini terhenti, suhu inti tubuh naik, dan mengakibatkan pingsan. Nabi ﷺ melihat bahwa memaksakan puasa dalam kondisi ini justru merusak tubuh, yang secara medis dikategorikan sebagai tindakan yang membahayakan nyawa. 3. Nutrisi dan Energi (Hipoglikemia) Perjalanan membutuhkan energi besar. Glukosa Darah: Aktivitas fisik saat safar menghabiskan cadangan glikogen di otot dan hati. Jika tidak ada asupan makanan, kadar gula darah akan turun drastis (hipoglikemia), menyebabkan pusing, gemetar, dan kehilangan kesadaran.

Sahih Muslim 1115a

Biologi

Keajaiban Air Laut sebagai Sumber Kehidupan

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ سَلَمَةَ، - مِنْ آلِ ابْنِ الأَزْرَقِ - أَنَّ الْمُغِيرَةَ بْنَ أَبِي بُرْدَةَ، - وَهُوَ مِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ - أَخْبَرَهُ أَنَّهُ، سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا نَرْكَبُ الْبَحْرَ وَنَحْمِلُ مَعَنَا الْقَلِيلَ مِنَ الْمَاءِ فَإِنْ تَوَضَّأْنَا بِهِ عَطِشْنَا أَفَنَتَوَضَّأُ بِمَاءِ الْبَحْرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ هُوَ الطَّهُورُ مَاؤُهُ الْحِلُّ مَيْتَتُهُ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, dari Malik, dari Shafwan bin Sulaim, dari Said bin Salamah—dari keluarga Ibnu Al-Azraq—bahwa Al-Mughirah bin Abi Burdah—dari bani Abdid Dar—mengabarkan kepadanya bahwa ia mendengar Abu Hurairah RA berkata: Seseorang bertanya kepada Nabi ﷺ: 'Wahai Rasulullah, kami mengarungi lautan dan kami hanya membawa sedikit air (tawar). Jika kami menggunakannya untuk berwudu, maka kami akan kehausan. Apakah boleh kami berwudu dengan air laut?' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.'" (HR. Abu Dawud, dinilai Sahih oleh Al-Albani)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

1. Hidrologi: Kemampuan Purifikasi Diri (Self-Purification) Pertanyaan sahabat muncul karena air laut rasanya asin, pahit, dan terkadang berbau. Secara logika waktu itu, air yang tidak tawar dianggap kotor atau tidak bisa menyucikan. Salinitas sebagai Disinfektan: Kadar garam yang tinggi dalam air laut berfungsi sebagai agen antimikroba alami. Sebagian besar bakteri patogen dari daratan tidak dapat bertahan hidup dalam kondisi salinitas tinggi (proses osmosis menghancurkan sel bakteri). Volume Masif: Lautan memiliki volume yang sangat besar sehingga mampu melakukan pengenceran (dilution) terhadap polutan secara alami melalui sirkulasi arus, menjadikannya tetap "suci" secara biologis. 2. Biologi Kelautan: "Halal Bangkainya" Pernyataan "halal bangkainya" adalah revolusi biologi pada masa itu. Perbedaan Sistem Dekomposisi: Hewan darat yang mati (bangkai) cepat membusuk dan menjadi sarang bakteri berbahaya bagi manusia karena paparan udara dan lalat. Namun, hewan laut (seperti ikan) memiliki struktur fisiologis yang berbeda. Keamanan Konsumsi: Selama tidak mengandung racun alami, biota laut yang baru mati tetap aman dikonsumsi karena suhu air laut yang cenderung rendah memperlambat pembusukan, dan sifat garam laut membantu menjaga kesegaran jaringan otot ikan lebih lama dibanding hewan darat. 3. Manajemen Kelangsungan Hidup (Survival Strategy) Secara medis, Nabi ﷺ memberikan solusi cerdas untuk mencegah Dehidrasi. Beliau melarang penggunaan air tawar untuk wudu jika stok sedikit, karena air tawar adalah sumber daya kritis bagi metabolisme tubuh saat di tengah laut. Memaksa wudu dengan air tawar di tengah laut adalah risiko medis yang fatal (kegagalan organ karena kehausan).

Sunan Abi Dawud No. 83

Psikologi

Kekuatan Bangkit dari Kesalahan

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ جَعْفَرٍ الْجَزَرِيِّ، عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Rafi', telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar, dari Ja'far Al-Jazari, dari Yazid bin Al-Ashamm, dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: 'Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kalian dan mendatangkan suatu kaum yang berbuat dosa, lalu mereka memohon ampun kepada Allah, dan Allah pun mengampuni mereka.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini tidak sedang memotivasi manusia untuk berbuat dosa, melainkan menjelaskan hakikat biologis dan psikologis manusia sebagai makhluk yang tidak sempurna (berbeda dengan malaikat). 1. Psikologi: Penerimaan Diri dan "Growth Mindset" Secara psikologis, perfeksionisme (keinginan untuk tidak pernah salah) sering kali memicu kecemasan kronis dan depresi. Belajar dari Kesalahan: Dalam sains kognitif, otak manusia belajar paling efektif melalui mekanisme error-correction (koreksi kesalahan). Tanpa kesalahan, tidak ada proses evaluasi diri. Kesehatan Mental: Hadis ini mencegah manusia dari keputusasaan (self-loathing). Kesadaran bahwa "salah itu manusiawi" memungkinkan seseorang untuk segera bangkit (bertaubat) daripada terpuruk dalam rasa bersalah yang merusak mental. 2. Antropologi: Karakteristik Makhluk Bermoral Secara antropologis, yang membedakan manusia dengan makhluk lain adalah kemampuan pilihan moral (free will). Proses Dinamis: Hubungan antara manusia dan Pencipta dalam hadis ini digambarkan sebagai proses dinamis: Ada tindakan (salah), ada kesadaran (istigfar), dan ada pemulihan (ampunan). Ini adalah siklus Resiliensi—kemampuan untuk kembali pulih setelah jatuh. 3. Neurobiologi: Sistem Penghargaan (Reward System) Proses "memohon ampun dan merasa diampuni" memiliki dampak fisik pada otak. Pelepasan Beban: Secara neurosains, perasaan bersalah yang terus-menerus meningkatkan hormon stres. Tindakan istigfar (mengakui kesalahan) dan keyakinan akan ampunan memicu pelepasan ketegangan di amigdala (pusat emosi), memberikan rasa tenang secara fisiologis.

Sahih Muslim No. 2749

Psikologi

Tiga Pilar Kehidupan yang Seimbang

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ، هِشَامُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، قَالَ الْوَلِيدُ بْنُ الْعَيْزَارِ أَخْبَرَنِي قَالَ سَمِعْتُ أَبَا عَمْرٍو الشَّيْبَانِيَّ، يَقُولُ حَدَّثَنَا صَاحِبُ، هَذِهِ الدَّارِ وَأَشَارَ إِلَى دَارِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم أَىُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ ‏"‏ الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا ‏"‏‏.‏ قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ‏"‏ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ ‏"‏‏.‏ قَالَ ثُمَّ أَىُّ قَالَ ‏"‏ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ‏"‏‏.‏ قَالَ حَدَّثَنِي بِهِنَّ وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abul Walid, Hisyam bin 'Abdul Malik, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata: Al-Walid bin Al-'Aizar telah mengabarkan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Abu 'Amru Asy-Syaibani berkata: Telah menceritakan kepada kami pemilik rumah ini—seraya menunjuk ke rumah 'Abdullah (bin Mas'ud) RA—ia berkata: Aku bertanya kepada Nabi ﷺ: 'Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?' Beliau menjawab: 'Shalat pada waktunya.' > Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau menjawab: 'Kemudian berbakti kepada kedua orang tua.' > Aku bertanya lagi: 'Kemudian apa?' Beliau menjawab: 'Kemudian berjihad di jalan Allah.' Ibnu Mas'ud berkata: 'Beliau menceritakan hal-hal itu kepadaku, seandainya aku meminta tambahan, niscaya beliau akan menambahkannya untukku'." (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Nabi ﷺ memberikan urutan yang sangat logis bagi stabilitas psikologis dan sosial manusia. 1. Shalat pada Waktunya (Manajemen Ritme Sirkadian) Secara sains, disiplin waktu adalah kunci kesehatan mental. Ritme Biologis: Shalat yang tersebar dalam lima waktu bertindak sebagai "jangkar" bagi Ritme Sirkadian (jam biologis) manusia. Melakukan aktivitas tepat waktu membantu otak mengatur pelepasan hormon (seperti melatonin dan kortisol) secara teratur. Disiplin Kognitif: Membiasakan diri melakukan tugas terpenting tepat waktu melatih fungsi eksekutif di otak depan (Prefrontal Cortex), yang bertanggung jawab atas kontrol diri dan perencanaan jangka panjang. 2. Berbakti kepada Orang Tua (Psikologi Relasi & Longevitas) Setelah hubungan dengan waktu (Tuhan), Nabi ﷺ menekankan hubungan dengan akar biologis (Orang Tua). Teori Kelekatan (Attachment Theory): Hubungan yang baik dengan orang tua menurunkan tingkat stres kronis. Sains menunjukkan bahwa dukungan sosial dari keluarga adalah faktor utama dalam meningkatkan sistem imun. Kecerdasan Emosional: Berbakti membutuhkan empati dan kontrol emosi. Melatih bakti kepada orang tua secara konsisten adalah bentuk latihan kecerdasan emosional yang paling mendasar. 3. Jihad di Jalan Allah (Psikologi Kebermaknaan & Altruisme) Jihad (perjuangan sungguh-sungguh) adalah puncak dari pengabdian sosial. Eudaimonia: Dalam psikologi positif, kebahagiaan tertinggi (Eudaimonia) dicapai saat seseorang berjuang untuk tujuan yang lebih besar dari dirinya sendiri. Neurotransmiter: Tindakan pengorbanan dan perjuangan demi kebaikan umum memicu pelepasan Dopamin dan Oksitosin, yang memberikan rasa bermakna dan kepuasan hidup yang tidak bisa didapatkan dari kesenangan materi belaka.

Sahih al-Bukhari No. 527