Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Medis

Jaga Jarak dan Kontrol Infeksi

وَقَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنَا سَلِيمُ بْنُ حَيَّانَ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مِينَاءَ، قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ لاَ عَدْوَى وَلاَ طِيَرَةَ وَلاَ هَامَةَ وَلاَ صَفَرَ، وَفِرَّ مِنَ الْمَجْذُومِ كَمَا تَفِرُّ مِنَ الأَسَدِ ‏"‏‏.

"Dan Affan berkata: telah menceritakan kepada kami Salim bin Hayyan, telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Mina, ia berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Tidak ada penularan penyakit (secara otomatis tanpa izin Allah), tidak ada ramalan buruk (tathayyur), tidak ada keburukan dari burung hantu, dan tidak ada kesialan pada bulan Safar. Dan larilah dari orang yang terkena penyakit kusta (lepra) sebagaimana engkau lari dari seekor singa.' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan salah satu fondasi utama dalam memahami epidemiologi dan etika medis terhadap penyakit menular. Terdapat dua pesan medis yang sangat krusial di dalamnya: Konsep Patogenesis (Sebab-Akibat): Pernyataan "Tidak ada penularan penyakit" dalam konteks ini bukan berarti menafikan keberadaan kuman, melainkan meluruskan keyakinan jahiliyah bahwa penyakit menular dengan sendirinya tanpa kendali Pencipta. Secara medis, ini menekankan bahwa paparan terhadap patogen tidak selalu berujung pada infeksi, karena sangat bergantung pada variabel daya tahan tubuh (imunitas) dan virulensi kuman tersebut. Penyakit Kusta (Lepra) dan Transmisi: Perintah untuk "Lari dari orang kusta sebagaimana lari dari singa" adalah instruksi klinis mengenai pencegahan kontak (contact prevention). Penyakit kusta disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Secara medis, kusta menular melalui kontak erat dan lama serta melalui percikan cairan pernapasan (droplet). Penggunaan metafora "lari dari singa" menunjukkan tingkat kewaspadaan yang tinggi yang harus dimiliki seseorang terhadap penyakit menular yang bersifat kronis dan dapat menyebabkan cacat permanen. Ini adalah protokol isolasi mandiri dan pembatasan fisik yang diajarkan jauh sebelum dunia kedokteran modern memahami mekanisme mikrobiologi secara detail. Analisis Utama: Profilaksis Penularan: Menghindari kontak fisik langsung dengan penderita penyakit infeksius menular sebagai langkah perlindungan diri. Psikologi Kesehatan: Mengurangi kecemasan irasional (seperti ramalan buruk/tahayul) dan menggantinya dengan tindakan preventif yang logis dan nyata. Higiene Publik: Membangun kesadaran komunitas untuk melindungi yang sehat tanpa mendiskriminasi secara tidak manusiawi, namun tetap menjaga jarak aman secara medis.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 5707)

Alam

Etika dan Keberlanjutan Ekosistem

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، ح وَحَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْمُبَارَكِ، حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ أَنَسٍ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا، أَوْ يَزْرَعُ زَرْعًا، فَيَأْكُلُ مِنْهُ طَيْرٌ أَوْ إِنْسَانٌ أَوْ بَهِيمَةٌ، إِلاَّ كَانَ لَهُ بِهِ صَدَقَةٌ ‏"‏‏.‏ وَقَالَ لَنَا مُسْلِمٌ حَدَّثَنَا أَبَانُ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، حَدَّثَنَا أَنَسٌ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏.

"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah. (Dalam jalur lain) telah menceritakan kepadaku Abdurrahman bin Al-Mubarak, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah, dari Qatadah, dari Anas bin Malik $RA$, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menabur benih tanaman, lalu hasilnya dimakan oleh burung, manusia, maupun hewan ternak, kecuali hal itu menjadi sedekah baginya.' (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan konsep ekosistem, ketahanan pangan, dan konservasi lingkungan. Secara ilmiah, aktivitas menanam yang dianjurkan dalam hadis ini merupakan fondasi dari keberlanjutan hidup di bumi. Siklus Rantai Makanan: Hadis ini menyebutkan tiga konsumen utama: burung, manusia, dan hewan. Secara ekologis, menanam pohon bukan hanya tentang produksi pangan bagi manusia, tetapi juga menyediakan habitat dan sumber energi bagi keanekaragaman hayati. Ini selaras dengan prinsip keseimbangan ekosistem di mana tumbuhan berperan sebagai produsen primer. Layanan Ekosistem (Ecosystem Services): Selain menghasilkan buah, pohon yang ditanam memberikan manfaat fisik berupa produksi oksigen (O2), penyerapan karbon dioksida (CO2), serta pencegahan erosi tanah. Dalam sains lingkungan, setiap pohon yang ditanam berkontribusi pada mitigasi perubahan iklim. Ketahanan Pangan dan Keberlanjutan: Penekanan pada menanam benih (planting) menunjukkan pentingnya investasi sumber daya alam jangka panjang. Sedekah dalam konteks ini tidak hanya bersifat teologis, tetapi juga sosiologis; yaitu memastikan ketersediaan energi bagi makhluk hidup lain secara berkelanjutan. Analisis Utama: Simbiosis Mutualisme: Manusia mendapatkan pahala (dan manfaat ekonomi), sementara lingkungan mendapatkan pemulihan kualitas udara dan tanah. Konservasi Hayati: Menyediakan sumber nutrisi bagi satwa liar (seperti burung) adalah langkah nyata dalam menjaga mata rantai kehidupan agar tidak terputus. Manajemen Sumber Daya: Transformasi lahan melalui penanaman benih adalah cara paling efektif untuk menjaga ketersediaan air tanah dan kestabilan iklim mikro.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 2320)

Astronomi

Astronomi dan Siklus Kalender Kamariah

حَدَّثَنَا آدَمُ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، حَدَّثَنَا الأَسْوَدُ بْنُ قَيْسٍ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَمْرٍو، أَنَّهُ سَمِعَ ابْنَ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ ‏ "‏ إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَّةٌ، لاَ نَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ الشَّهْرُ هَكَذَا وَهَكَذَا ‏"‏‏.‏ يَعْنِي مَرَّةً تِسْعَةً وَعِشْرِينَ، وَمَرَّةً ثَلاَثِينَ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, telah menceritakan kepada kami Al-Aswad bin Qais, telah menceritakan kepada kami Said bin 'Amru, bahwa ia mendengar Ibnu Umar RA dari Nabi SAW, beliau bersabda: 'Sesungguhnya kami adalah umat yang ummi, kami tidak menulis dan tidak pula menghitung. Bulan itu adalah begini dan begini.' Maksudnya, terkadang dua puluh sembilan hari dan terkadang tiga puluh hari. (HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini berkaitan erat dengan sistem penanggalan Lunisolar (berbasis bulan) dan astronomi posisi. Secara ilmiah, hadis ini memberikan dasar yang sangat kuat mengenai durasi satu siklus sinodik bulan.Siklus Sinodik Bulan: Secara astronomis, satu bulan kamariah ditentukan berdasarkan revolusi bulan mengelilingi bumi relatif terhadap matahari. Durasi rata-rata satu siklus ini adalah sekitar 29,53 hari. Karena hari harus berupa bilangan bulat, maka dalam sistem matematika kalender, durasi bulan harus digenapkan menjadi 29 atau 30 hari. Kepastian Numerik: Pernyataan Rasulullah SAW bahwa bulan itu "begini dan begini" (29 atau 30) menunjukkan pemahaman akurat bahwa dalam kalender lunar, tidak ada bulan yang berjumlah 28 atau 31 hari. Ini adalah fakta astronomis yang permanen. Metode Observasi (Rukyat): Penggunaan istilah "kami tidak menghitung (la nahsub)" pada masa itu merujuk pada kemudahan syariat yang mengutamakan observasi langsung (melihat hilal) daripada perhitungan rumit (hisab) yang pada masa itu belum bisa diakses oleh masyarakat umum. Namun, secara implisit, hadis ini mengakui adanya sistem aritmatika waktu yang mengatur pergantian fase bulan. Analisis Utama: Aritmatika Kalender: Pembulatan angka 29,53 hari menjadi selang-seling 29 dan 30 hari adalah cara paling akurat untuk sinkronisasi kalender dengan fenomena langit. Sains Navigasi: Pengamatan bulan merupakan metode navigasi dan penentuan waktu tertua di dunia yang diakui secara ilmiah keakuratannya. Demokratisasi Sains: Pernyataan "umat ummi" menunjukkan bahwa hukum alam (sunnatullah) dapat dipahami melalui observasi fisik yang sederhana namun tetap berbasis pada keteraturan matematis yang kompleks.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 1913)

Medis

Sanitasi dan Kontrol Infeksi Lingkungan

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ، وَقُتَيْبَةُ، وَابْنُ، حُجْرٍ جَمِيعًا عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ جَعْفَرٍ، - قَالَ ابْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ، - أَخْبَرَنِي الْعَلاَءُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏"‏ اتَّقُوا اللَّعَّانَيْنِ ‏"‏ ‏.‏ قَالُوا وَمَا اللَّعَّانَانِ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ ‏"‏ الَّذِي يَتَخَلَّى فِي طَرِيقِ النَّاسِ أَوْ فِي ظِلِّهِمْ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, Qutaibah, dan Ibnu Hujr, semuanya dari Isma'il bin Ja'far —Ibnu Ayyub berkata: Isma'il menceritakan kepada kami— ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Al-'Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Waspadalah terhadap dua hal yang mendatangkan laknat.' Para sahabat bertanya, 'Apakah dua hal yang mendatangkan laknat itu, wahai Rasulullah?' Beliau menjawab, 'Orang yang buang air di jalan yang dilewati manusia atau di tempat mereka berteduh.'(HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan prinsip dasar dalam higiene sanitasi lingkungan dan pengendalian penyakit menular. Secara medis dan ilmiah, larangan tersebut memiliki peran penting dalam memutus rantai penularan penyakit di masyarakat. 1. Vektor Penyakit dan Transmisi Fekal-Oral Buang air (ekskresi) di tempat umum seperti jalan atau tempat berteduh menyediakan media bagi mikroorganisme patogen—seperti Escherichia coli, Salmonella, atau virus hepatitis A—untuk menyebar. Tempat yang teduh umumnya memiliki kelembapan yang lebih stabil, sehingga secara biologis mendukung mikroba bertahan hidup lebih lama dibandingkan area yang terpapar sinar matahari langsung yang mengandung radiasi ultraviolet. 2. Pencemaran Lingkungan Feses dan urin yang dibuang sembarangan di jalur aktivitas manusia dapat terbawa oleh alas kaki, roda kendaraan, atau aliran air hujan menuju sumber air bersih. Dalam kajian kesehatan masyarakat, kondisi ini merupakan salah satu faktor utama merebaknya penyakit saluran pencernaan seperti tifus dan kolera. 3. Etika Publik dan Kesejahteraan Mental Tempat berteduh merupakan fasilitas publik yang penting untuk melindungi masyarakat dari panas ekstrem. Dalam perspektif psikologi lingkungan, kebersihan fasilitas umum berpengaruh signifikan terhadap kenyamanan dan kesehatan mental masyarakat. Larangan dalam hadis ini memastikan ruang publik tetap bersih, layak guna, dan aman bagi semua. Analisis Utama: Interupsi Jalur Infeksi: Larangan ini secara efektif menghentikan penyebaran kuman dari feses ke manusia melalui perantara tanah atau lalat di area padat aktivitas. Mikrobiologi Terapan: Menghindari pembuangan limbah biologis di area lembap (tempat teduh) untuk mencegah kolonisasi bakteri patogen secara masif. Keamanan Fasilitas Umum: Menjaga kebersihan infrastruktur sosial (jalan dan tempat teduh) sebagai bentuk perlindungan kesehatan preventif bagi seluruh anggota masyarakat.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 269)

Medis

Fisiologi dan Performa Proaktif

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَابْنُ، نُمَيْرٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ، عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ، عَنِ الأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Ibnu Numair, keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris, dari Rabi'ah bin Utsman, dari Muhammad bin Yahya bin Habban, dari Al-A'raj, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, namun pada keduanya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah untuk mendapatkan apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau merasa tidak berdaya. Jika sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau berkata: “Seandainya aku tadi berbuat begini, tentu akan begini dan begitu.” Namun katakanlah: “Qadarullah (ini adalah ketetapan Allah), dan apa yang Dia kehendaki, Dia perbuat.” Karena sesungguhnya kalimat “seandainya” itu membuka celah bagi perbuatan setan.”(HR. Muslim)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mencakup dua dimensi kesehatan yang sangat penting, yaitu ketahanan fisik (fisiologis) dan ketahanan mental (psikologis). 1. Kesehatan Fisik (Fisiologi) Istilah “mukmin yang kuat” dalam perspektif medis berkaitan dengan kapasitas fungsional tubuh. Tubuh yang kuat memiliki sistem imun yang lebih baik, kepadatan tulang yang terjaga, serta kebugaran kardiovaskular yang optimal. Kekuatan fisik memungkinkan seseorang menjalankan fungsi sosial dan ibadah secara maksimal. Dalam kedokteran olahraga, kekuatan otot dan daya tahan tubuh berkorelasi langsung dengan penurunan risiko penyakit kronis serta peningkatan harapan hidup yang berkualitas. 2. Psikologi Kognitif dan Kesehatan Mental Hadis ini juga menawarkan prinsip regulasi emosi dan resiliensi psikologis yang sangat kuat: Self-Efficacy (Efikasi Diri): Ungkapan “bersungguh-sungguhlah… dan jangan merasa tidak berdaya” mendorong terbentuknya internal locus of control. Dalam psikologi, hal ini merupakan faktor utama dalam motivasi, ketekunan, dan pencapaian tujuan hidup. Rumination (Perenungan Negatif): Larangan mengucapkan “seandainya” (lau) merupakan bentuk pencegahan terhadap ruminasi, yaitu kecenderungan mengulang-ulang penyesalan masa lalu. Secara klinis, ruminasi berlebihan merupakan pemicu utama gangguan kecemasan dan depresi. Acceptance and Commitment Therapy (ACT): Pernyataan “Qadarullah” merepresentasikan sikap penerimaan (acceptance) terhadap realitas yang tidak dapat diubah. Pendekatan ini membantu individu menghentikan siklus stres kronis dan mengarahkan fokus pada adaptasi serta tindakan konstruktif ke depan.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2664)

Astronomi

Mekanika Langit dan Fenomena Gerhana

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ، قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ ـ رضى الله عنهما ـ أَنَّهُ كَانَ يُخْبِرُ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم‏.‏ ‏ "‏ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنَّهُمَا آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَصَلُّوا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Asbagh, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku Ibnu Wahb, ia berkata: telah mengabarkan kepadaku 'Amru, dari Abdurrahman bin Al-Qasim, yang menceritakan kepadanya dari ayahnya, dari Ibnu Umar RA, bahwa ia mengabarkan dari Nabi SAW, beliau bersabda: 'Sesungguhnya matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kelahiran seseorang. Namun keduanya adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Maka apabila kalian melihatnya (gerhana), maka shalatlah.'(HR. Bukhari)"

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini merupakan salah satu fondasi penting dalam sejarah peradaban Islam yang memisahkan antara astronomi (sains) dan astrologi (mitos atau takhayul). 1. Hukum Alam yang Objektif (Natural Law) Secara astronomis, gerhana matahari dan gerhana bulan adalah fenomena mekanika langit yang terjadi akibat konfigurasi posisi tiga benda langit—Matahari, Bumi, dan Bulan—yang berada pada satu garis lurus (syzygy). Penegasan Nabi SAW bahwa gerhana tidak berkaitan dengan kematian atau kelahiran seseorang menunjukkan bahwa fenomena alam bersifat objektif dan tidak dipengaruhi oleh peristiwa emosional manusia. Prinsip ini sejalan dengan dasar sains modern bahwa gejala alam memiliki sebab fisika yang konsisten dan dapat diuji. 2. Periodisitas dan Prediktabilitas Dengan menyebut matahari dan bulan sebagai “tanda-tanda kebesaran Allah”, hadis ini secara implisit mengakui adanya keteraturan matematis di alam semesta. Gerhana terjadi akibat pergerakan benda-benda langit yang presisi dalam orbitnya. Dalam fisika modern, keteraturan ini dijelaskan melalui Hukum Gravitasi Newton dan Hukum Kepler, yang memungkinkan manusia memprediksi terjadinya gerhana secara akurat hingga ribuan tahun ke depan. 3. Hukum Optik (Oklusi dan Bayangan) Gerhana matahari terjadi ketika bulan menutupi cahaya matahari (oklusi), sedangkan gerhana bulan terjadi ketika bulan memasuki bayang-bayang bumi (umbra). Penjelasan Nabi SAW menghapus interpretasi magis—seperti mitos bulan ditelan makhluk tertentu—dan mengarahkan umat pada pengamatan empiris (ru’yah) terhadap fenomena fisik yang nyata.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 1041)