Database Hadis & Sains

Menemukan Fakta Sains & Teknologi Dalam Hadis

Jelajahi topik berdasarkan kategori, cari kata kunci, lalu buka detail untuk membaca hadis, terjemah, dan penjelasan ilmiahnya.

Astronomi

Dinamika Orbit Matahari dan Stabilitas Kosmik

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ ـ رضى الله عنه ـ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم لأَبِي ذَرٍّ حِينَ غَرَبَتِ الشَّمْسُ ‏"‏ تَدْرِي أَيْنَ تَذْهَبُ ‏"‏‏.‏ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ‏.‏ قَالَ ‏"‏ فَإِنَّهَا تَذْهَبُ حَتَّى تَسْجُدَ تَحْتَ الْعَرْشِ، فَتَسْتَأْذِنَ فَيُؤْذَنَ لَهَا، وَيُوشِكُ أَنْ تَسْجُدَ فَلاَ يُقْبَلَ مِنْهَا، وَتَسْتَأْذِنَ فَلاَ يُؤْذَنَ لَهَا، يُقَالُ لَهَا ارْجِعِي مِنْ حَيْثُ جِئْتِ‏.‏ فَتَطْلُعُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَذَلِكَ قَوْلُهُ تَعَالَى ‏{‏وَالشَّمْسُ تَجْرِي لِمُسْتَقَرٍّ لَهَا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ ‏}‏‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim At-Taimi, dari ayahnya, dari Abu Dzar RA, ia berkata: Nabi SAW bersabda kepada Abu Dzar ketika matahari terbenam: 'Tahukah engkau ke mana matahari itu pergi?' Aku menjawab: 'Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.' Beliau bersabda: 'Sesungguhnya ia pergi hingga bersujud di bawah Arsy, lalu ia meminta izin (untuk terbit kembali) dan diizinkan baginya. Dan hampir tiba waktunya ia bersujud namun tidak diterima darinya, dan ia meminta izin namun tidak diizinkan. Dikatakan kepadanya: "Kembalilah ke tempat asalmu datang," maka ia pun terbit dari tempat terbenamnya (barat). Itulah firman Allah Ta'ala: "Dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui." (QS. Yasin: 38)'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menggunakan bahasa metaforis untuk menjelaskan fenomena kosmik yang sangat besar. Dalam sains astronomi, pergerakan matahari dapat ditinjau dari beberapa sudut pandang: 1. Lintasan Matahari (The Solar Path) Secara fisik, matahari tidak pernah benar-benar "berhenti". Kalimat "matahari berjalan di tempat peredarannya" (مُسْتَقَرٍّ لَهَا) dalam astronomi merujuk pada Solar Apex. Matahari beserta seluruh tata surya bergerak dengan kecepatan sekitar 20 km/detik menuju suatu titik di rasi bintang Hercules. Perjalanan ini adalah gerakan yang terus-menerus (kontinu) hingga mencapai titik akhir yang ditentukan secara kosmik. 2. Mekanisme Rotasi Bumi dan Terbit dari Barat Secara astronomis, matahari terbit dari timur dan terbenam di barat karena bumi berputar pada porosnya (rotasi) dari barat ke timur. Peristiwa "terbit dari barat" secara mekanika langit berarti terjadinya Pembalikan Arah Rotasi atau pergeseran sumbu kutub secara drastis (Pole Shift). Kelembaman (Inertia): Untuk membalikkan arah rotasi objek sebesar bumi, diperlukan energi kinetik yang sangat masif. Stabilitas Sistem: Hadis ini mengisyaratkan bahwa keteraturan orbit matahari dan rotasi bumi bukanlah sesuatu yang terjadi secara otomatis tanpa kendali, melainkan ada mekanisme "izin" (hukum fisika yang konsisten) yang menjaga keseimbangannya setiap hari. 3. Konsep Pergerakan Relatif Pernyataan bahwa matahari "pergi" saat terbenam adalah penjelasan berdasarkan perspektif pengamat di bumi (Geocentric Perspective). Namun, secara astronomi global, matahari selalu menyinari bagian bumi yang lain. Maka, "bersujud di bawah Arsy" secara maknawi dapat diartikan sebagai ketundukan total seluruh sistem tata surya terhadap hukum gravitasi dan hukum alam semesta yang maha luas (Arsy sebagai simbol cakupan kekuasaan tertinggi).

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 3199)

Astronomi

Mekanika Orbit Bulan dan Penentuan Kalender

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى، أَخْبَرَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ، الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ إِذَا رَأَيْتُمُ الْهِلاَلَ فَصُومُوا وَإِذَا رَأَيْتُمُوهُ فَأَفْطِرُوا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَصُومُوا ثَلاَثِينَ يَوْمًا ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim bin Sa'ad, dari Ibnu Syihab, dari Sa'id bin Al-Musayyab, dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: 'Apabila kalian melihat hilal (bulan sabit muda), maka berpuasalah. Dan apabila kalian melihatnya (kembali), maka berbukalah (berhari raya). Jika hilal tertutup awan bagi kalian, maka sempurnakanlah hitungan bulan menjadi tiga puluh hari.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini meletakkan dasar metodologi penentuan waktu berbasis Lunasolar (bulan-matahari) yang sangat akurat secara astronomis. 1. Definisi Hilal (Bulan Sabit Muda) Secara astronomi, hilal adalah bagian dari permukaan bulan yang memantulkan cahaya matahari dan tampak dari bumi sesaat setelah fase Konjungsi (Ijtimak). - Fase Konjungsi: Kondisi di mana bumi, bulan, dan matahari berada pada satu garis bujur ekliptika yang sama. Pada saat ini, bulan tidak terlihat (bulan mati). - Visibilitas: Hilal baru bisa terlihat jika bulan telah memiliki jarak sudut (elongasi) yang cukup dari matahari dan berada pada ketinggian tertentu di atas cakrawala saat matahari terbenam. 2. Faktor Penghalang (Ghumma) Istilah "tertutup awan" (ghumma) dalam astronomi modern mencakup variabel Luminansi Langit. Selain awan fisik, visibilitas hilal dipengaruhi oleh: - Kontras Cahaya: Jika hilal terlalu tipis, cahayanya akan kalah oleh semburat cahaya senja (afterglow/shafaq). - Refraksi Atmosfer: Atmosfer bumi dapat membiaskan cahaya hilal, atau justru debu dan polusi menghalangi pantulan cahaya yang lemah tersebut.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 1081)

Astronomi

Stabilitas Bintang dan Fase Akhir Kosmos

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، وَإِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ بْنِ أَبَانَ، كُلُّهُمْ عَنْ حُسَيْنٍ، - قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ الْجُعْفِيُّ، - عَنْ مُجَمِّعِ بْنِ يَحْيَى، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ صَلَّيْنَا الْمَغْرِبَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ قُلْنَا لَوْ جَلَسْنَا حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَهُ الْعِشَاءَ - قَالَ - فَجَلَسْنَا فَخَرَجَ عَلَيْنَا فَقَالَ ‏"‏ مَا زِلْتُمْ هَا هُنَا ‏"‏ ‏.‏ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْنَا مَعَكَ الْمَغْرِبَ ثُمَّ قُلْنَا نَجْلِسُ حَتَّى نُصَلِّيَ مَعَكَ الْعِشَاءَ قَالَ ‏"‏ أَحْسَنْتُمْ أَوْ أَصَبْتُمْ ‏"‏ ‏.‏ قَالَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ وَكَانَ كَثِيرًا مِمَّا يَرْفَعُ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ ‏"‏ النُّجُومُ أَمَنَةٌ لِلسَّمَاءِ فَإِذَا ذَهَبَتِ النُّجُومُ أَتَى السَّمَاءَ مَا تُوعَدُ وَأَنَا أَمَنَةٌ لأَصْحَابِي فَإِذَا ذَهَبْتُ أَتَى أَصْحَابِي مَا يُوعَدُونَ وَأَصْحَابِي أَمَنَةٌ لأُمَّتِي فَإِذَا ذَهَبَ أَصْحَابِي أَتَى أُمَّتِي مَا يُوعَدُونَ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah, Ishaq bin Ibrahim, dan Abdullah bin Umar bin Aban, semuanya dari Husain bin Ali Al-Ju’fi, dari Mujammi’ bin Yahya, dari Said bin Abi Burdah, dari Abu Burdah, dari ayahnya (Abu Musa Al-Asy’ari RA), ia berkata: Kami shalat Maghrib bersama Rasulullah SAW, lalu kami berkata: 'Bagaimana jika kita duduk (menunggu) sampai kita shalat Isya bersama beliau?' Maka kami pun duduk, lalu beliau keluar menemui kami dan bertanya: 'Kalian masih di sini?' Kami menjawab: 'Wahai Rasulullah, kami telah shalat Maghrib bersamamu, lalu kami memutuskan untuk duduk menunggu hingga bisa shalat Isya bersamamu.' Beliau bersabda: 'Kalian telah berbuat baik' atau 'Kalian benar.' Lalu beliau mengangkat kepalanya ke langit—dan beliau memang sering mengangkat kepalanya ke langit—kemudian bersabda: 'Bintang-bintang adalah penjaga bagi langit. Apabila bintang-bintang itu pergi (hilang/padam), maka akan datang kepada langit apa yang dijanjikan (kehancuran). Dan aku adalah penjaga bagi sahabat-sahabatku, maka apabila aku pergi, akan datang kepada sahabat-sahabatku apa yang dijanjikan bagi mereka. Dan sahabat-sahabatku adalah penjaga bagi umatku, maka apabila sahabat-sahabatku pergi, akan datang kepada umatku apa yang dijanjikan bagi mereka.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini menggunakan analogi kosmologis yang sangat dalam mengenai peran bintang dalam menjaga integritas alam semesta. 1. Bintang sebagai Penjaga Struktur (Gravitational Anchors) Secara astrofisika, bintang-bintang bukan sekadar titik cahaya, melainkan elemen massa yang menjaga keseimbangan galaksi melalui gaya gravitasi. - Keseimbangan Dinamis: Bintang-bintang di dalam galaksi berfungsi sebagai penyeimbang massa yang menjaga stabilitas orbit objek-objek di sekitarnya. Tanpa populasi bintang, struktur galaksi akan runtuh atau tercerai-berai. - Pabrik Unsur Kimia: Bintang adalah penjaga kehidupan di langit karena mereka memproduksi elemen berat (seperti karbon dan oksigen) melalui nukleosintesis yang penting bagi pembentukan planet dan atmosfer. 2. Evolusi Bintang dan Akhir Alam Semesta Kalimat "apabila bintang-bintang itu pergi (padam)" selaras dengan konsep Evolusi Bintang. Setiap bintang memiliki masa hidup terbatas berdasarkan bahan bakar nuklirnya. - Kematian Bintang: Ketika sebuah bintang kehabisan energi, ia akan meledak (Supernova) atau mengerut menjadi katai putih/lubang hitam. - Zaman Kegelapan Kosmik: Dalam teori nasib akhir alam semesta (The Big Freeze atau Heat Death), ada fase di mana semua bintang di alam semesta akan padam satu per satu. Saat "bintang-bintang pergi", alam semesta kehilangan sumber energi dan cahayanya, yang mengarah pada kehancuran struktur kosmik seperti yang kita kenal sekarang. 3. Langit yang Teratur vs Kekacauan (Entropy) Astronomi modern memandang alam semesta sebagai sistem yang berjuang melawan Entropi (kekacauan). Bintang-bintang adalah agen yang menciptakan keteraturan dan energi. Hilangnya bintang-bintang berarti kemenangan entropi, di mana alam semesta akan mencapai tingkat energi terendah dan berakhir dalam kehancuran total atau keheningan abadi.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 2531)

Astronomi

Tanda-Tanda Kosmik Menjelang Akhir Zaman

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا، فَإِذَا طَلَعَتْ فَرَآهَا النَّاسُ آمَنُوا أَجْمَعُونَ، فَذَلِكَ حِينَ لاَ يَنْفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا، لَمْ تَكُنْ آمَنَتْ مِنْ قَبْلُ، أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ نَشَرَ الرَّجُلاَنِ ثَوْبَهُمَا بَيْنَهُمَا فَلاَ يَتَبَايَعَانِهِ وَلاَ يَطْوِيَانِهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدِ انْصَرَفَ الرَّجُلُ بِلَبَنِ لِقْحَتِهِ فَلاَ يَطْعَمُهُ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَهْوَ يَلِيطُ حَوْضَهُ فَلاَ يَسْقِي فِيهِ، وَلَتَقُومَنَّ السَّاعَةُ وَقَدْ رَفَعَ أُكْلَتَهُ إِلَى فِيهِ فَلاَ يَطْعَمُهَا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Abu Al-Yaman, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib, telah menceritakan kepada kami Abu Az-Zinad, dari 'Abdurrahman (Al-A'raj), dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: 'Kiamat tidak akan terjadi hingga matahari terbit dari tempat terbenamnya (barat). Apabila ia telah terbit dan orang-orang melihatnya, mereka semua pun beriman. Namun, pada saat itu tidaklah bermanfaat iman seseorang yang belum beriman sebelumnya, atau belum melakukan kebaikan dalam masa imannya. Dan kiamat benar-benar akan terjadi saat dua orang laki-laki sedang menggelar kain dagangannya, namun keduanya tidak sempat melakukan jual beli dan tidak sempat melipatnya kembali. Dan kiamat benar-benar akan terjadi saat seseorang baru saja membawa pulang susu perahannya, namun ia tidak sempat meminumnya. Dan kiamat benar-benar akan terjadi saat seseorang sedang memperbaiki kolam (ternaknya), namun ia tidak sempat memberi minum di sana. Dan kiamat benar-benar akan terjadi saat seseorang telah mengangkat suapan makanannya ke mulutnya, namun ia tidak sempat memakannya.'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mencakup dua fenomena besar: perubahan arah rotasi planet dan sifat kedatangan kiamat yang melampaui perhitungan waktu manusia. 1. Fenomena Terbitnya Matahari dari Barat (Retrograde Rotation) Secara astronomis, agar matahari terbit dari barat, Bumi harus mengalami perubahan arah rotasi dari yang semula searah jarum jam menjadi berlawanan (atau sebaliknya, tergantung sudut pandang kutub). - Pembalikan Geologis: Fenomena ini secara teoretis dapat terjadi melalui Pole Shift (pergeseran kutub) yang ekstrem atau perlambatan rotasi hingga berhenti lalu berputar balik akibat pengaruh gravitasi benda langit masif lainnya. - Titik Tanpa Balik (Irreversibility): Secara biologis dan fisik, perubahan rotasi yang begitu drastis akan merusak atmosfer dan sistem perlindungan magnetik Bumi (Magnetosfer), yang menjelaskan mengapa pintu tobat tertutup; karena tatanan fisik pendukung kehidupan telah mencapai titik kehancuran. 2. Kecepatan Kejadian vs Kelembaman Fisika Bagian kedua hadis menggambarkan kiamat terjadi lebih cepat daripada aktivitas motorik manusia (mengangkat makanan, melipat kain). - Diskontinuitas Ruang-Waktu: Dalam fisika teoretis, jika alam semesta mengalami kontraksi mendadak (Big Crunch) atau perubahan fase energi vakum, seluruh materi dapat hancur dalam skala waktu mikrodetik. - Interupsi Aktivitas Sinaptik: Kecepatan kiamat yang digambarkan melampaui waktu transmisi saraf manusia (sekitar 0,1 detik untuk gerakan refleks). Artinya, kehancuran terjadi saat sinyal otak untuk "mengunyah" atau "melipat" sedang dikirim namun organ fisik sudah tidak ada lagi untuk mengeksekusinya. 3. Efek Kejutan dan Ketidakpastian (Entropy) Visualisasi orang yang sedang berdagang atau memerah susu menunjukkan bahwa kiamat datang pada saat Entropi (ketidakteraturan) sistem sosial tampak normal, namun sistem fisik universal sedang menuju akhir secara instan. Ini menunjukkan kiamat bukanlah proses degradasi yang lambat di akhirnya, melainkan sebuah interupsi total terhadap hukum fisika yang berlaku.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 6506)

Astronomi

Fenomena Kosmik Terbelahnya Bulan

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ، حَدَّثَنَا يَحْيَى، عَنْ شُعْبَةَ، وَسُفْيَانَ، عَنِ الأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ انْشَقَّ الْقَمَرُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِرْقَتَيْنِ، فِرْقَةً فَوْقَ الْجَبَلِ وَفِرْقَةً دُونَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ اشْهَدُوا ‏"‏‏.

"Telah menceritakan kepada kami Musaddad, telah menceritakan kepada kami Yahya, dari Syu'bah dan Sufyan, dari Al-A'masy, dari Ibrahim, dari Abu Ma'mar, dari Ibnu Mas'ud RA, ia berkata: 'Bulan terbelah menjadi dua bagian pada masa Rasulullah SAW; satu bagian berada di atas gunung dan bagian lainnya berada di bawahnya (di balik gunung). Maka Rasulullah SAW bersabda: "Saksikanlah!"'" (HR. Bukhari)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini mencatat salah satu peristiwa luar biasa yang dalam sains dapat ditinjau melalui beberapa pendekatan mekanika langit dan pengamatan permukaan. 1. Integritas Struktural Bulan Secara astronomi, bulan adalah benda langit padat yang terikat oleh gravitasi internalnya sendiri. Peristiwa terbelahnya bulan secara fisik merupakan fenomena yang melampaui hukum fisika normal (mukjizat). Jika sebuah benda langit seukuran bulan benar-benar terpisah, secara teoritis ia akan menciptakan gangguan gravitasi yang masif pada pasang surut air laut di bumi. Namun, kembalinya bulan ke bentuk semula menunjukkan adanya pemulihan integritas struktural yang instan. 2. Fitur Geologi: Rimae (Parit Bulan) Para astronom telah memetakan permukaan bulan dan menemukan fitur yang disebut Rimae atau Rilles (parit/rekahan panjang). Salah satu yang paling terkenal adalah Hadley Rille. Meskipun ilmu geologi bulan saat ini menjelaskan bahwa rekahan ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik kuno atau saluran lava yang runtuh, keberadaan garis-garis rekahan panjang yang melintasi permukaan bulan sering kali menjadi objek diskusi menarik jika dikaitkan dengan catatan sejarah mengenai pembelahan bulan. 3. Perspektif Pengamat (Paralaks dan Sudut Pandang) Laporan Ibnu Mas'ud yang menyatakan satu bagian berada "di atas gunung" dan lainnya "di bawah gunung" menunjukkan posisi pengamat berada pada sudut tertentu di mana perspektif visual bulan tampak terpisah oleh bentang alam (Gunung Abi Qubais di Mekkah). Secara optik, ini menunjukkan bahwa fenomena tersebut terjadi di ruang angkasa namun terproyeksi secara nyata dalam medan pandang manusia di bumi.

Ṣaḥīḥ al-Bukhārī (Hadits no. 4864)

Astronomi

Batas Astronomis dan Rentang Waktu Shalat

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ، وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ، كِلاَهُمَا عَنِ الأَزْرَقِ، - قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ الأَزْرَقُ، - حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّ رَجُلاً سَأَلَهُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ فَقَالَ لَهُ ‏"‏ صَلِّ مَعَنَا هَذَيْنِ ‏"‏ ‏.‏ يَعْنِي الْيَوْمَيْنِ فَلَمَّا زَالَتِ الشَّمْسُ أَمَرَ بِلاَلاً فَأَذَّنَ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الظُّهْرَ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ بَيْضَاءُ نَقِيَّةٌ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْمَغْرِبَ حِينَ غَابَتِ الشَّمْسُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْعِشَاءَ حِينَ غَابَ الشَّفَقُ ثُمَّ أَمَرَهُ فَأَقَامَ الْفَجْرَ حِينَ طَلَعَ الْفَجْرُ فَلَمَّا أَنْ كَانَ الْيَوْمُ الثَّانِي أَمَرَهُ فَأَبْرَدَ بِالظُّهْرِ فَأَبْرَدَ بِهَا فَأَنْعَمَ أَنْ يُبْرِدَ بِهَا وَصَلَّى الْعَصْرَ وَالشَّمْسُ مُرْتَفِعَةٌ أَخَّرَهَا فَوْقَ الَّذِي كَانَ وَصَلَّى الْمَغْرِبَ قَبْلَ أَنْ يَغِيبَ الشَّفَقُ وَصَلَّى الْعِشَاءَ بَعْدَ مَا ذَهَبَ ثُلُثُ اللَّيْلِ وَصَلَّى الْفَجْرَ فَأَسْفَرَ بِهَا ثُمَّ قَالَ ‏"‏ أَيْنَ السَّائِلُ عَنْ وَقْتِ الصَّلاَةِ ‏"‏ ‏.‏ فَقَالَ الرَّجُلُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ‏.‏ قَالَ ‏"‏ وَقْتُ صَلاَتِكُمْ بَيْنَ مَا رَأَيْتُمْ ‏"‏ ‏.

"Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Ubaidullah bin Said, keduanya dari Al-Azraq—Zuhair berkata: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Yusuf Al-Azraq—telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, dari Nabi SAW: Bahwasanya ada seorang laki-laki bertanya kepada beliau tentang waktu shalat, maka beliau bersabda: 'Shalatlah bersama kami selama dua hari ini.' Ketika matahari telah tergelincir (Zawal), beliau memerintahkan Bilal untuk azan, lalu memerintahkannya untuk iqamah shalat Dzuhur. Kemudian beliau memerintahkannya iqamah shalat Ashar saat matahari masih tinggi, putih, dan jernih. Lalu beliau memerintahkannya iqamah shalat Maghrib ketika matahari terbenam. Kemudian beliau memerintahkannya iqamah shalat Isya ketika syafaq (cahaya merah di ufuk) telah hilang. Lalu beliau memerintahkannya iqamah shalat Subuh ketika fajar terbit. Pada hari kedua, beliau memerintahkan Bilal untuk menunda shalat Dzuhur hingga waktu dingin (Abrada). Beliau mengerjakan shalat Ashar saat matahari masih tinggi namun mengakhirkannya dari waktu hari pertama. Beliau mengerjakan shalat Maghrib sebelum syafaq hilang. Beliau mengerjakan shalat Isya setelah berlalu sepertiga malam. Dan beliau mengerjakan shalat Subuh saat hari sudah mulai terang (Asfara). Kemudian beliau bertanya: 'Di mana orang yang bertanya tentang waktu shalat tadi?' Laki-laki itu menjawab: 'Saya, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda: 'Waktu shalat kalian adalah di antara apa yang telah kalian lihat (kerjakan) ini.'" (HR. Muslim)

Fakta Sains

Ringkasan penjelasan

Hadis ini adalah panduan praktis mengenai Astronomi Posisi yang menetapkan batas awal dan akhir (limit bawah dan atas) untuk setiap waktu shalat berdasarkan fenomena cahaya dan posisi benda langit. 1. Fenomena Dzuhur dan Ashar (Sudut Deklinasi) - Dzuhur (Zawal): Dimulai saat matahari melewati garis meridian (titik tertinggi). Secara astronomis, ini adalah saat bayangan benda berada pada panjang minimumnya sebelum mulai memanjang ke arah timur. - Ashar: Ditentukan oleh rasio panjang bayangan terhadap tinggi benda. Hadis ini menunjukkan rentang waktu dari saat matahari masih "putih" (intensitas cahaya tinggi) hingga posisi matahari lebih rendah di ufuk. 2. Fenomena Maghrib dan Isya (Refraksi Atmosfer) - Maghrib: Terjadi tepat saat piringan matahari menghilang di bawah cakrawala (terbenam). - Isya (Hilangnya Syafaq): Secara astronomis, ini disebut Twilight (fajar/senja astronomis). Syafaq adalah hamburan cahaya matahari oleh atmosfer bumi meskipun matahari sudah berada di bawah ufuk. Isya dimulai ketika matahari mencapai kedalaman tertentu (biasanya sekitar 17^0 hingga 18^0 di bawah cakrawala) sehingga langit benar-benar gelap. 3. Fenomena Subuh (Fajar Shadiq) - Subuh (Fajar): Dimulai saat munculnya cahaya putih yang melintang di ufuk timur. Secara biologis dan astronomis, ini adalah transisi dari gelap total ke munculnya cahaya pertama akibat hamburan atmosfer. Nabi SAW mencontohkan batas akhirnya pada kondisi Isfar, yaitu saat cahaya matahari sudah mulai menerangi bumi dengan jelas namun piringan matahari belum terbit.

Ṣaḥīḥ Muslim (Hadits no. 613)